Cari disini...
Seputar Kaltim
Rapat koordinasi terkait pembahasan Potensi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Ruang Rapat Dispopar. (Foto: Dispopar-Ekraf Bontang)
Bontang - Realisasi retribusi Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Ekonomi Kreatid (Diapopar-Ekraf) Kota Bontang hingga Maret 2026 baru mencapai Rp92,2 juta dari target Rp162,6 juta.
Capaian ini dibahas dalam rapat koordinasi potensi pajak dan retribusi daerah yang digelar di ruang rapat Dispopar, Selasa (7/4/2026), bersama sejumlah OPD pemungut retribusi.
Pendapatan Dispopar bersumber dari sektor pariwisata seperti Malahing, Tihi-tihi, Beras Basah, Mangrove Berbas dan Bontang Kuala. Selain itu juga dari ekonomi kreatif seperti pujasera serta fasilitas olahraga seperti GOR, stadion dan lapangan.
Di lapangan, pemungutan retribusi belum berjalan optimal. Permintaan keringanan dari masyarakat masih sering muncul, sementara keterbatasan SDM, operasional, dan fasilitas menjadi hambatan teknis. Dampaknya sebagian pelaku UMKM menunggak kewajiban retribusi.
Dalam rapat yang dipimpin Kepala Bapenda Natalia Trisnawati itu juga disampaikan PAD Bontang masih bergantung pada dana pusat. Tim TP2D kemudian menyusun peta jalan peningkatan PAD hingga 2029.
Target yang dipasang bertahap: 5 persen pada 2026 dengan fokus pembenahan database dan digitalisasi, naik menjadi 10–15 persen pada 2027 melalui peningkatan kepatuhan, kemudian 15–20 persen di 2028 dari sumber baru, hingga di atas 20 persen pada 2029 untuk menekan ketergantungan pusat.
“Ketergantungan kita pada dana pusat masih sangat tinggi,” ucap Natalia.
Rapat ini difokuskan pada sinkronisasi data dan identifikasi potensi riil yang belum tergarap untuk mengejar target PAD serta penyusunan road map untuk peningkapan PAD Bontang.
“Untuk itu kita susun road map untuk memaksiamalkan peningkatan PAD,” tandasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Rapat koordinasi terkait pembahasan Potensi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah di Ruang Rapat Dispopar. (Foto: Dispopar-Ekraf Bontang)
Bontang - Realisasi retribusi Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Ekonomi Kreatid (Diapopar-Ekraf) Kota Bontang hingga Maret 2026 baru mencapai Rp92,2 juta dari target Rp162,6 juta.
Capaian ini dibahas dalam rapat koordinasi potensi pajak dan retribusi daerah yang digelar di ruang rapat Dispopar, Selasa (7/4/2026), bersama sejumlah OPD pemungut retribusi.
Pendapatan Dispopar bersumber dari sektor pariwisata seperti Malahing, Tihi-tihi, Beras Basah, Mangrove Berbas dan Bontang Kuala. Selain itu juga dari ekonomi kreatif seperti pujasera serta fasilitas olahraga seperti GOR, stadion dan lapangan.
Di lapangan, pemungutan retribusi belum berjalan optimal. Permintaan keringanan dari masyarakat masih sering muncul, sementara keterbatasan SDM, operasional, dan fasilitas menjadi hambatan teknis. Dampaknya sebagian pelaku UMKM menunggak kewajiban retribusi.
Dalam rapat yang dipimpin Kepala Bapenda Natalia Trisnawati itu juga disampaikan PAD Bontang masih bergantung pada dana pusat. Tim TP2D kemudian menyusun peta jalan peningkatan PAD hingga 2029.
Target yang dipasang bertahap: 5 persen pada 2026 dengan fokus pembenahan database dan digitalisasi, naik menjadi 10–15 persen pada 2027 melalui peningkatan kepatuhan, kemudian 15–20 persen di 2028 dari sumber baru, hingga di atas 20 persen pada 2029 untuk menekan ketergantungan pusat.
“Ketergantungan kita pada dana pusat masih sangat tinggi,” ucap Natalia.
Rapat ini difokuskan pada sinkronisasi data dan identifikasi potensi riil yang belum tergarap untuk mengejar target PAD serta penyusunan road map untuk peningkapan PAD Bontang.
“Untuk itu kita susun road map untuk memaksiamalkan peningkatan PAD,” tandasnya.
(Sf/Lo)