Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim
Mantan Wali Kota Bontang yang sudah mendeklarasikan sebagai kader partai Demokrat. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Mantan Wali Kota Bontang, Basri Rase, akhirnya buka suara mengenai keputusan politiknya bergabung dengan Partai Demokrat.
Langkah ini diambil bukan sekadar karena kesamaan visi, tetapi juga dilatarbelakangi oleh kekecewaan terhadap dinamika di partai lamanya, serta tekad kuat untuk mengawal kembali Irwan menuju kursi DPR RI.
Dalam keterangannya, Basri secara gamblang mengakui adanya ketidakcocokan yang membuatnya memilih jalan pisah dari partai terdahulu.
Ia menyoroti minimnya ruang otonomi bagi pengurus daerah dalam menentukan arah kebijakan politik akibat tingginya intervensi dari pusat.
"Kalau ditanya apakah ada ketidaksesuaian dengan partai lama, ya tentu saja ada. Kalau cocok, saya tidak mungkin pindah. Saya tidak mau partai terlalu banyak intervensi. Saya ingin partai benar-benar memberikan hak kepada daerah masing-masing untuk menentukan langkah ke depan," tegas Basri.
Basri juga menyentil perlakuan elite partai terhadap kader-kader daerah yang telah memberikan kontribusi nyata.
Ia merujuk pada rekam jejaknya selama memimpin Bontang, di mana kota tersebut berhasil menjadi kota kecil terbersih di Asia Tenggara, konsisten meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dalam laporan keuangan, hingga sukses memajukan sektor UMKM.
"Masa kader yang berprestasi lalu diperlakukan macam-macam? Kan tidak begitu. Kita ini punya suara. Saya ini juga wong cilik, bukan siapa-siapa. Kalau partai tidak menghargai wong cilik, untuk apa kita di situ? Kapan kita punya kesempatan untuk berkembang?" keluhnya.
Pilihan Basri akhirnya jatuh pada Partai Demokrat. Ia menilai partai besutan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tersebut menawarkan iklim organisasi yang jauh lebih sehat dan menghargai kesetaraan hak setiap kadernya.
"Ini karena persoalan visi yang sama dalam hal organisasi. Dari situ saya melihat situasinya benar-benar demokratis. Tidak ada yang menjadi super hero di situ, semua punya hak yang sama," ungkapnya.
Lebih jauh, Basri menegaskan bahwa kepindahannya bukan didorong oleh ambisi pribadi untuk berebut kursi di Senayan.
Tujuan utamanya saat ini adalah membantu Irwan, politikus asal Sangatta, agar dapat kembali terpilih sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Kalimantan Timur.
Menurut Basri, rekam jejak Irwan saat duduk di DPR RI sangat krusial bagi pembangunan infrastruktur Kaltim, terutama dalam menarik kucuran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Betul-betul waktu beliau menjadi anggota DPR RI, kinerjanya luar biasa. Saya paham betul, karena saya sering ke sana. Banyak anggaran yang beliau bawa dari pusat ke Kalimantan Timur. Tidak seperti sekarang," urai Basri.
Ia mencontohkan bagaimana dedikasi Irwan dalam membuka akses jalan di wilayah terisolir dan kawasan perbatasan, seperti di Kabupaten Mahakam Ulu.
Hal inilah yang memanggil nurani Basri untuk turun tangan memberikan dukungan penuh.
"Beliau ini sosok yang luar biasa. Dari daerah biasa di Sangatta, bisa membuktikan diri menjadi seseorang. Karena itu menurut saya orang seperti beliau wajib kembali ke DPR RI ke depan," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Maulana -
Seputar Kaltim

Mantan Wali Kota Bontang yang sudah mendeklarasikan sebagai kader partai Demokrat. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Mantan Wali Kota Bontang, Basri Rase, akhirnya buka suara mengenai keputusan politiknya bergabung dengan Partai Demokrat.
Langkah ini diambil bukan sekadar karena kesamaan visi, tetapi juga dilatarbelakangi oleh kekecewaan terhadap dinamika di partai lamanya, serta tekad kuat untuk mengawal kembali Irwan menuju kursi DPR RI.
Dalam keterangannya, Basri secara gamblang mengakui adanya ketidakcocokan yang membuatnya memilih jalan pisah dari partai terdahulu.
Ia menyoroti minimnya ruang otonomi bagi pengurus daerah dalam menentukan arah kebijakan politik akibat tingginya intervensi dari pusat.
"Kalau ditanya apakah ada ketidaksesuaian dengan partai lama, ya tentu saja ada. Kalau cocok, saya tidak mungkin pindah. Saya tidak mau partai terlalu banyak intervensi. Saya ingin partai benar-benar memberikan hak kepada daerah masing-masing untuk menentukan langkah ke depan," tegas Basri.
Basri juga menyentil perlakuan elite partai terhadap kader-kader daerah yang telah memberikan kontribusi nyata.
Ia merujuk pada rekam jejaknya selama memimpin Bontang, di mana kota tersebut berhasil menjadi kota kecil terbersih di Asia Tenggara, konsisten meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dalam laporan keuangan, hingga sukses memajukan sektor UMKM.
"Masa kader yang berprestasi lalu diperlakukan macam-macam? Kan tidak begitu. Kita ini punya suara. Saya ini juga wong cilik, bukan siapa-siapa. Kalau partai tidak menghargai wong cilik, untuk apa kita di situ? Kapan kita punya kesempatan untuk berkembang?" keluhnya.
Pilihan Basri akhirnya jatuh pada Partai Demokrat. Ia menilai partai besutan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tersebut menawarkan iklim organisasi yang jauh lebih sehat dan menghargai kesetaraan hak setiap kadernya.
"Ini karena persoalan visi yang sama dalam hal organisasi. Dari situ saya melihat situasinya benar-benar demokratis. Tidak ada yang menjadi super hero di situ, semua punya hak yang sama," ungkapnya.
Lebih jauh, Basri menegaskan bahwa kepindahannya bukan didorong oleh ambisi pribadi untuk berebut kursi di Senayan.
Tujuan utamanya saat ini adalah membantu Irwan, politikus asal Sangatta, agar dapat kembali terpilih sebagai wakil rakyat dari daerah pemilihan Kalimantan Timur.
Menurut Basri, rekam jejak Irwan saat duduk di DPR RI sangat krusial bagi pembangunan infrastruktur Kaltim, terutama dalam menarik kucuran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Betul-betul waktu beliau menjadi anggota DPR RI, kinerjanya luar biasa. Saya paham betul, karena saya sering ke sana. Banyak anggaran yang beliau bawa dari pusat ke Kalimantan Timur. Tidak seperti sekarang," urai Basri.
Ia mencontohkan bagaimana dedikasi Irwan dalam membuka akses jalan di wilayah terisolir dan kawasan perbatasan, seperti di Kabupaten Mahakam Ulu.
Hal inilah yang memanggil nurani Basri untuk turun tangan memberikan dukungan penuh.
"Beliau ini sosok yang luar biasa. Dari daerah biasa di Sangatta, bisa membuktikan diri menjadi seseorang. Karena itu menurut saya orang seperti beliau wajib kembali ke DPR RI ke depan," pungkasnya.
(Sf/Rs)