Cari disini...
Seputar Kaltim
Insenerator yang ada di Polder Air Hitam. (Foto: Aset milik Pusaranmedia.com)
Samarinda - Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan terobosan baru dalam pengelolaan sampah.
Tidak hanya fokus memusnahkan volume sampah melalui teknologi insinerator, DLH juga membidik potensi ekonomi dari sisa pembakarannya untuk disulap menjadi paving block.
Plt Kepala DLH Samarinda, Suwarso mengungkapkan bahwa inovasi ini menjadi solusi ganda, yakni mengatasi tumpukan sampah sekaligus menciptakan produk bernilai guna. Limbah atau abu sisa pembakaran insinerator yang bersuhu tinggi tersebut rencananya akan diproses ulang menjadi material bangunan.
“Di beberapa lokasi bank sampah, kita sebetulnya sudah bisa mengolah. Dari limbah pembakarannya itu bisa menjadi paving block," ujar Suwarso di sela-sela pelatihan operator insinerator, Jumat (9/1/2026).
Tidak main-main, produk olahan sampah warga Samarinda ini diproyeksikan memiliki standar kualitas yang mumpuni. Suwarso bahkan memberikan sinyal bahwa paving block hasil daur ulang ini memiliki peluang pasar yang menjanjikan hingga ke Ibu Kota Nusantara (IKN).
"Nanti pak camat akan memberi bocoran bagaimana bank sampah bisa mengelola paving menjadi produk yang dibutuhkan atau pemasarannya di IKN," tambahnya.
Jika terealisasi, ini akan menjadi langkah strategis di mana sampah Samarinda tidak lagi sekadar menjadi beban di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan bertransformasi menjadi material infrastruktur penunjang ibu kota baru.
Untuk mewujudkan operasional yang aman dan produktif, DLH Samarinda kini tengah mematangkan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM).
Para calon operator insinerator diberikan pelatihan ketat, mengingat mereka akan bekerja dengan mesin bersuhu ekstrem antara 800 hingga 1.000 derajat celcius.
"Karena ini barang baru dan bekerja pada suhu tinggi, pelatihan keselamatan kerja (K3) sangat krusial. Setelah pelatihan teori, operator langsung praktik lapangan di folder Air Hitam," jelas Suwarso.
Sebagai informasi, progres fisik pembangunan insinerator di beberapa titik prioritas, seperti Kelurahan Baqa, Handil Bakti dan Tani Aman kini telah mencapai kisaran 60-70 persen.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Insenerator yang ada di Polder Air Hitam. (Foto: Aset milik Pusaranmedia.com)
Samarinda - Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan terobosan baru dalam pengelolaan sampah.
Tidak hanya fokus memusnahkan volume sampah melalui teknologi insinerator, DLH juga membidik potensi ekonomi dari sisa pembakarannya untuk disulap menjadi paving block.
Plt Kepala DLH Samarinda, Suwarso mengungkapkan bahwa inovasi ini menjadi solusi ganda, yakni mengatasi tumpukan sampah sekaligus menciptakan produk bernilai guna. Limbah atau abu sisa pembakaran insinerator yang bersuhu tinggi tersebut rencananya akan diproses ulang menjadi material bangunan.
“Di beberapa lokasi bank sampah, kita sebetulnya sudah bisa mengolah. Dari limbah pembakarannya itu bisa menjadi paving block," ujar Suwarso di sela-sela pelatihan operator insinerator, Jumat (9/1/2026).
Tidak main-main, produk olahan sampah warga Samarinda ini diproyeksikan memiliki standar kualitas yang mumpuni. Suwarso bahkan memberikan sinyal bahwa paving block hasil daur ulang ini memiliki peluang pasar yang menjanjikan hingga ke Ibu Kota Nusantara (IKN).
"Nanti pak camat akan memberi bocoran bagaimana bank sampah bisa mengelola paving menjadi produk yang dibutuhkan atau pemasarannya di IKN," tambahnya.
Jika terealisasi, ini akan menjadi langkah strategis di mana sampah Samarinda tidak lagi sekadar menjadi beban di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), melainkan bertransformasi menjadi material infrastruktur penunjang ibu kota baru.
Untuk mewujudkan operasional yang aman dan produktif, DLH Samarinda kini tengah mematangkan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM).
Para calon operator insinerator diberikan pelatihan ketat, mengingat mereka akan bekerja dengan mesin bersuhu ekstrem antara 800 hingga 1.000 derajat celcius.
"Karena ini barang baru dan bekerja pada suhu tinggi, pelatihan keselamatan kerja (K3) sangat krusial. Setelah pelatihan teori, operator langsung praktik lapangan di folder Air Hitam," jelas Suwarso.
Sebagai informasi, progres fisik pembangunan insinerator di beberapa titik prioritas, seperti Kelurahan Baqa, Handil Bakti dan Tani Aman kini telah mencapai kisaran 60-70 persen.
(Sf/Lo)