Seputar Kaltim

    Rencana Pengembangan AMDK di PPU Masih Dikaji, Kelayakan Air Baku Jadi Pertimbangan

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    19 Juni 2026 pukul 12:24 WITA

    Air bersih hasil pengolahan Perumda Air Minum Danum Taka. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Rencana Perumda Air Minum Danum Taka (AMDT) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memproduksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) belum akan berjalan dalam waktu dekat. 

    Meski memiliki sejumlah sumber air berkapasitas besar, perusahaan daerah itu masih menahan rencana tersebut sambil memastikan kelayakan air baku.

    Direktur Perumda AMDT PPU, Abdul Rasyid mengatakan, salah satu sumber air yang sempat dilirik berada di Kecamatan Waru. Kawasan itu memiliki potensi air baku masing-masing sekitar 300 liter per detik dan 500 liter per detik, namun dinilai belum ideal untuk pengembangan AMDK.

    "Bukan tidak bisa, tapi PDAM melihat kondisi air baku di sekitar kawasan. Kita khawatir karena dikelilingi perkebunan sawit, itu kurang tepat jika ingin bangun AMDK," kata Rasyid, belum lama ini.

    Menurut dia, keberadaan sumber air yang melimpah tidak otomatis bisa langsung dimanfaatkan menjadi bahan baku air kemasan. Faktor lingkungan dan hasil pengujian laboratorium tetap menjadi penentu.

    Selain Waru, AMDT juga mempertimbangkan sumber air di Babulu Darat yang dikenal masyarakat sebagai air abadi. Opsi tersebut juga belum diputuskan.

    "Jernih bukan berarti layak. Kita masih kaji daerah mana yang memungkinkan untuk pembangunan atau kalau nanti dibuat anak perusahaan AMDK," ujarnya.

    Rasyid menyebut rencana produksi AMDK sebenarnya telah didorong sejak lebih dari setahun terakhir dan peluang pasarnya dinilai tersedia. Danum Taka memilih tidak terburu-buru agar produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas.

    Bupati PPU, Mudyat Noor turut menilai ketersediaan air baku harus dibarengi kepastian keamanan sebelum diolah menjadi air minum.

    "Ketika ada bahan baku melimpah seperti di Waru, harus ditinjau lagi apakah layak diolah menjadi air minum. Kita perlu hasil lab," kata Mudyat.

    Rasyid menegaskan AMDT tidak mempercepat proyek sebelum seluruh aspek kualitas dan standar produksi dipastikan terpenuhi.

    "Jangan sampai sudah dibangun tapi ternyata tidak sesuai kualifikasi dan kualitas yang diinginkan," tutupnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Rencana Pengembangan AMDK di PPU Masih Dikaji, Kelayakan Air Baku Jadi Pertimbangan

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    19 Juni 2026 pukul 12:24 WITA

    Air bersih hasil pengolahan Perumda Air Minum Danum Taka. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)

    Penajam - Rencana Perumda Air Minum Danum Taka (AMDT) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) memproduksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) belum akan berjalan dalam waktu dekat. 

    Meski memiliki sejumlah sumber air berkapasitas besar, perusahaan daerah itu masih menahan rencana tersebut sambil memastikan kelayakan air baku.

    Direktur Perumda AMDT PPU, Abdul Rasyid mengatakan, salah satu sumber air yang sempat dilirik berada di Kecamatan Waru. Kawasan itu memiliki potensi air baku masing-masing sekitar 300 liter per detik dan 500 liter per detik, namun dinilai belum ideal untuk pengembangan AMDK.

    "Bukan tidak bisa, tapi PDAM melihat kondisi air baku di sekitar kawasan. Kita khawatir karena dikelilingi perkebunan sawit, itu kurang tepat jika ingin bangun AMDK," kata Rasyid, belum lama ini.

    Menurut dia, keberadaan sumber air yang melimpah tidak otomatis bisa langsung dimanfaatkan menjadi bahan baku air kemasan. Faktor lingkungan dan hasil pengujian laboratorium tetap menjadi penentu.

    Selain Waru, AMDT juga mempertimbangkan sumber air di Babulu Darat yang dikenal masyarakat sebagai air abadi. Opsi tersebut juga belum diputuskan.

    "Jernih bukan berarti layak. Kita masih kaji daerah mana yang memungkinkan untuk pembangunan atau kalau nanti dibuat anak perusahaan AMDK," ujarnya.

    Rasyid menyebut rencana produksi AMDK sebenarnya telah didorong sejak lebih dari setahun terakhir dan peluang pasarnya dinilai tersedia. Danum Taka memilih tidak terburu-buru agar produk yang dihasilkan memenuhi standar kualitas.

    Bupati PPU, Mudyat Noor turut menilai ketersediaan air baku harus dibarengi kepastian keamanan sebelum diolah menjadi air minum.

    "Ketika ada bahan baku melimpah seperti di Waru, harus ditinjau lagi apakah layak diolah menjadi air minum. Kita perlu hasil lab," kata Mudyat.

    Rasyid menegaskan AMDT tidak mempercepat proyek sebelum seluruh aspek kualitas dan standar produksi dipastikan terpenuhi.

    "Jangan sampai sudah dibangun tapi ternyata tidak sesuai kualifikasi dan kualitas yang diinginkan," tutupnya.

    (Sf/Lo)