Cari disini...
Seputar Kaltim
Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Kutim, Muhammad Albar. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Sekitar 50 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah ditangani relawan di Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Dalam penanganan kebakaran, relawan menghadapi kendala medan, keterbatasan unit pemadam, hingga sulitnya mendapatkan pasokan air.
Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Kutim, Muhammad Albar, mengatakan kondisi jalan yang sempit menyulitkan unit pemadam menjangkau titik api. Di Sangatta Selatan, relawan hanya memiliki dua unit pemadam untuk menangani kebakaran.
“Pertama medannya sangat sempit, susah untuk dijangkau dengan unit. Yang kedua, akses air untuk pengisian unit agak susah di wilayah selatan ini. Kami juga keterbatasan unit,” ujar Albar.
Kendala tersebut dirasakan saat menangani kebakaran di kawasan Jalan Rawa Gabus, Sungai Sirap, dan Ringroad. Albar memperkirakan luas kebakaran di tiga lokasi tersebut mencapai sekitar 20 hektare secara gabungan. Salah satu penanganan berlangsung selama sembilan jam, mulai pukul 14.00-23.00 WITA.
“Kami penanganan itu dari siang, dari jam 2 sampai malam sekitar jam 11,” katanya.
Sulitnya mendapatkan pasokan air membuat relawan terkadang meminta bantuan pihak lain, termasuk PT Kaltim Prima Coal (KPC). Pengemudi unit pemadam relawan Sangatta Selatan, Fajar, mengatakan panjang selang yang tersedia turut menentukan jangkauan petugas ke titik api. Sumber air yang jauh dari lokasi kebakaran juga menyulitkan proses pemadaman.
“Kalau saya sendiri merasakan, lokasi itu terjangkau atau tidak tergantung dari selang yang kita punya. Kendala lainnya, suplai air kadang jauh. Harus menyedot dari tempat lain,” tutur Fajar.
Untuk memenuhi kebutuhan air saat pemadaman, relawan mengambil pasokan dari dua lokasi, yakni kawasan Kilo Satu dan Damkar Kutim Pos Pendidikan.
Di luar kendala peralatan dan akses, relawan juga menghadapi risiko saat bertugas. Albar mengatakan, beberapa anggota pernah terjatuh karena tidak mengetahui kondisi medan. Ada pula yang tersengat tawon saat berada di lokasi kebakaran.
“Dalam penanganan ini ada suka dukanya juga. Kami di lapangan, namanya bertugas, ada yang jatuh karena tidak tahu kondisi medan. Ada juga yang kena sengat tawon,” ungkap Albar.
Dalam penanganan karhutla di Sangatta Selatan, sekitar 50 personel gabungan dari 13 unsur terlibat di lapangan. Mereka terdiri dari Staf Kecamatan Sangatta Selatan, Lanal Posal Muara Sangatta, Babinsa Sangatta Selatan, Bhabinkamtibmas Sangatta Selatan, BPBD Kutim, Yonif TP 879 Kutim, TRC Kutim, Redkar Kutim, LKK Kutim, Gepak Kutim, Tagana Kutim, MPA Kelurahan Singa Geweh dan PMI Kutim.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Kutim, Muhammad Albar. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta – Sekitar 50 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah ditangani relawan di Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Dalam penanganan kebakaran, relawan menghadapi kendala medan, keterbatasan unit pemadam, hingga sulitnya mendapatkan pasokan air.
Anggota Tim Reaksi Cepat (TRC) Kutim, Muhammad Albar, mengatakan kondisi jalan yang sempit menyulitkan unit pemadam menjangkau titik api. Di Sangatta Selatan, relawan hanya memiliki dua unit pemadam untuk menangani kebakaran.
“Pertama medannya sangat sempit, susah untuk dijangkau dengan unit. Yang kedua, akses air untuk pengisian unit agak susah di wilayah selatan ini. Kami juga keterbatasan unit,” ujar Albar.
Kendala tersebut dirasakan saat menangani kebakaran di kawasan Jalan Rawa Gabus, Sungai Sirap, dan Ringroad. Albar memperkirakan luas kebakaran di tiga lokasi tersebut mencapai sekitar 20 hektare secara gabungan. Salah satu penanganan berlangsung selama sembilan jam, mulai pukul 14.00-23.00 WITA.
“Kami penanganan itu dari siang, dari jam 2 sampai malam sekitar jam 11,” katanya.
Sulitnya mendapatkan pasokan air membuat relawan terkadang meminta bantuan pihak lain, termasuk PT Kaltim Prima Coal (KPC). Pengemudi unit pemadam relawan Sangatta Selatan, Fajar, mengatakan panjang selang yang tersedia turut menentukan jangkauan petugas ke titik api. Sumber air yang jauh dari lokasi kebakaran juga menyulitkan proses pemadaman.
“Kalau saya sendiri merasakan, lokasi itu terjangkau atau tidak tergantung dari selang yang kita punya. Kendala lainnya, suplai air kadang jauh. Harus menyedot dari tempat lain,” tutur Fajar.
Untuk memenuhi kebutuhan air saat pemadaman, relawan mengambil pasokan dari dua lokasi, yakni kawasan Kilo Satu dan Damkar Kutim Pos Pendidikan.
Di luar kendala peralatan dan akses, relawan juga menghadapi risiko saat bertugas. Albar mengatakan, beberapa anggota pernah terjatuh karena tidak mengetahui kondisi medan. Ada pula yang tersengat tawon saat berada di lokasi kebakaran.
“Dalam penanganan ini ada suka dukanya juga. Kami di lapangan, namanya bertugas, ada yang jatuh karena tidak tahu kondisi medan. Ada juga yang kena sengat tawon,” ungkap Albar.
Dalam penanganan karhutla di Sangatta Selatan, sekitar 50 personel gabungan dari 13 unsur terlibat di lapangan. Mereka terdiri dari Staf Kecamatan Sangatta Selatan, Lanal Posal Muara Sangatta, Babinsa Sangatta Selatan, Bhabinkamtibmas Sangatta Selatan, BPBD Kutim, Yonif TP 879 Kutim, TRC Kutim, Redkar Kutim, LKK Kutim, Gepak Kutim, Tagana Kutim, MPA Kelurahan Singa Geweh dan PMI Kutim.
(Sf/Lo)