Seputar Kaltim

    Ratusan Bank Sampah Terbentuk, Hanya 80 yang Aktif di PPU

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    14 Agustus 2026 pukul 20:47 WITA

    Bank Sampah Induk melayani pengangkutan sampah terpilah dari bank sampah aktif di Kabupaten PPU. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Aktivitas bank sampah di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) masih rendah. Dari ratusan bank sampah yang terbentuk, kini hanya sekitar 80 yang masih aktif.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro mengatakan banyak bank sampah yang pasif karena pengelolaannya tidak berjalan.

    "Sekarang yang aktif sekitar 80. Banyak yang pasif," kata Kuncoro, Jumat (14/8/2026).

    Meski begitu, DLH PPU masih melayani pengambilan sampah dari bank sampah yang aktif. Ia juga mendorong kegiatan sedekah sampah tetap berjalan dengan melibatkan organisasi perangkat daerah maupun masyarakat.

    Sampah yang dikumpulkan dapat disetor ke bank sampah induk untuk kemudian dijual kepada pengepul. Hasilnya bisa diambil sebagai nilai ekonomi atau disalurkan untuk kepentingan sosial.

    "Kami pernah dari sedekah sampah itu menyumbang beras untuk masyarakat," ujarnya.

    Menurut Kuncoro, persoalan bank sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada DLH. Pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) juga dinilai dapat ikut menggerakkan kembali aktivitas bank sampah.

    Ia mengatakan sampah sebenarnya memiliki nilai ekonomi jika dipilah dan dikelola dengan baik. Pemilahan dari sumbernya pun harus didukung peralatan yang memadai.

    Selain menghidupkan bank sampah, DLH PPU juga menyiapkan rencana pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Lawe-Lawe. Sementara TPS3R di Sepaku disebut sudah berjalan.

    DLH juga ingin mendorong masyarakat mengurangi sampah sejak dari sumbernya, termasuk melalui pemberian apresiasi bagi warga yang membawa wadah atau tas belanja sendiri.

    "Ke depan kami ingin ada anggaran untuk memberikan reward. Misalnya di pasar ada yang membawa tas sendiri, kita apresiasi karena mereka ikut mengurangi sampah," katanya.

    Kuncoro menyebut pasar menjadi salah satu lokasi yang menghasilkan sampah cukup banyak. Pemilahan dan pengurangan sampah dari pasar tersebut perlu mendapat perhatian.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Ratusan Bank Sampah Terbentuk, Hanya 80 yang Aktif di PPU

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    14 Agustus 2026 pukul 20:47 WITA

    Bank Sampah Induk melayani pengangkutan sampah terpilah dari bank sampah aktif di Kabupaten PPU. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Aktivitas bank sampah di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) masih rendah. Dari ratusan bank sampah yang terbentuk, kini hanya sekitar 80 yang masih aktif.

    Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) PPU, Muhammad Sukadi Kuncoro mengatakan banyak bank sampah yang pasif karena pengelolaannya tidak berjalan.

    "Sekarang yang aktif sekitar 80. Banyak yang pasif," kata Kuncoro, Jumat (14/8/2026).

    Meski begitu, DLH PPU masih melayani pengambilan sampah dari bank sampah yang aktif. Ia juga mendorong kegiatan sedekah sampah tetap berjalan dengan melibatkan organisasi perangkat daerah maupun masyarakat.

    Sampah yang dikumpulkan dapat disetor ke bank sampah induk untuk kemudian dijual kepada pengepul. Hasilnya bisa diambil sebagai nilai ekonomi atau disalurkan untuk kepentingan sosial.

    "Kami pernah dari sedekah sampah itu menyumbang beras untuk masyarakat," ujarnya.

    Menurut Kuncoro, persoalan bank sampah tidak bisa hanya dibebankan kepada DLH. Pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) juga dinilai dapat ikut menggerakkan kembali aktivitas bank sampah.

    Ia mengatakan sampah sebenarnya memiliki nilai ekonomi jika dipilah dan dikelola dengan baik. Pemilahan dari sumbernya pun harus didukung peralatan yang memadai.

    Selain menghidupkan bank sampah, DLH PPU juga menyiapkan rencana pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Lawe-Lawe. Sementara TPS3R di Sepaku disebut sudah berjalan.

    DLH juga ingin mendorong masyarakat mengurangi sampah sejak dari sumbernya, termasuk melalui pemberian apresiasi bagi warga yang membawa wadah atau tas belanja sendiri.

    "Ke depan kami ingin ada anggaran untuk memberikan reward. Misalnya di pasar ada yang membawa tas sendiri, kita apresiasi karena mereka ikut mengurangi sampah," katanya.

    Kuncoro menyebut pasar menjadi salah satu lokasi yang menghasilkan sampah cukup banyak. Pemilahan dan pengurangan sampah dari pasar tersebut perlu mendapat perhatian.

    (Sf/Lo)