Seputar Kaltim

    Rangkaian Erau Guntung Berakhir, Ditutup dengan Ritual Berlimbur

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Rusdianto
    08 Desember 2024 pukul 18:51 WITA

    Tradisi Berlimbur dari rankaian penutupan upacara adat Erau Pelas Benua di Guntung Tahun 2024 berlangsung meriah. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)

    Bontang - Upacara adat Erau Pelas Benua Guntung, telah ditutup pada Minggu (8/12/2024) bertempat di Rumah Adat Guntung Jalan Tari Enggang, Kelurahan Guntung, Kota Bontang. 

    Sama seperti tahun-tahun sebelumnya,  Erau selalu diakhiri dengan acara Berlimbur, yang menandai berakhirnya upacara tersebut.

    Ketua adat Guntung, Bambang Darmawi menjelaskan, Berlimbur merupakan tradisi saling menyiramkan air antar masyarakat. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas lancarnya pelaksanaan Erau.

    “Berlimbur juga dimaknai sebagai sarana pembersihan diri dari sifat buruk dan unsur kejahatan,” ungkapnya kepada Seputarfakta.com, Minggu (8/12/2024). Air sebagai sumber kehidupan, dipercaya sebagai media untuk melunturkan sifat buruk manusia. 

    Setelah melakukan Berlimbur di Rumah Adat, masyarakat yang hadir kemudian berkeliling hingga ke depan jalan masuk Guntung sambil membawa air, untuk disiramkan kepada kepada setiap orang yang lewat.

    Karena sudah merupakan upacara rutin setiap tahun, kebanyakan masyarakat Guntung sudah mempersiapkan selang air ataupun wadah air di depan rumah, untuk dipakai menyiram setiap orang yang lewat di jalan depan rumah mereka.

    Diberitakan sebelumnya, acara Erau Pelas Benua Guntung dibuka pada Senin (2/12/2024) lalu. Kegiatan tersebut berlangsung selama delapan hari dengan berbagai rangkaian acara.

    Lurah Guntung Denny Febrian mengungkapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang menggelontorkan dana sebanyak Rp360 juta, untuk rangkaian Erau tahun ini.

    “Kita juga dapat tambahan dana dari beberapa perusahaan,” ungkapnya. 

    Sebelum acara Erau dibuka, terlebih dahulu dilakukan 
    Napak Tilas. Yakni berkunjung ke makam-makam yang memiliki sejarah, sebagai tanda bahwa Kutai itu benar-benar benar ada di Bontang khususnya di Guntung.

    Kemudian, menyucikan Kota Bontang melalui ritual Bepelas. Yang merupakan ritual persembahan kurban untuk memberi makan bumi dengan melakukan penyembelihan binatang yang kemudian darah binatang ini dipercikan kepermukaan bumi dan ke empat sudut benua yang telah ditentukan, ritual ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang maha Esa yang telah memberi manusia rizki lewat bumi.

    “Jadi kita berkeliling ke perusahaan-perusahaan, rumah-rumah jabatan Forkopimda (Forum koordinasi pimpinan daerah), lalu Guntung hingga ke Loktuan,” ungkapnya.

    Setelah itu melakukan pembukaan upacara adat, yang sebelumnya dihadiri oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Adji Muhammad Arifin. 

    Pada pembukaan acara acara sangat dimeriahkan dengan pertunjukan dan 500 penari Jepen yang memenuhi halaman Rumah Adat Guntung.

    Setiap malamnya, selama satu minggu acara diisi dengan pertunjukan budaya dari beberapa paguyuban, termasuk band lokal yang membawakan lagu-lagu tradisional.

    “Disiangnya ada olahraga tradisional. Seperti sumpit, begasing, dan belogo,” kata dia. Malam puncak acara ditutup dengan penampilan band dan pembagian hadiah bagi masyarakat yang berpatisipasi dalam kegitan Erau.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Rangkaian Erau Guntung Berakhir, Ditutup dengan Ritual Berlimbur

    Penulis:Nuraini|Redaktur:Rusdianto
    08 Desember 2024 pukul 18:51 WITA

    Tradisi Berlimbur dari rankaian penutupan upacara adat Erau Pelas Benua di Guntung Tahun 2024 berlangsung meriah. (Foto: Nuraini/Seputarfakta.com)

    Bontang - Upacara adat Erau Pelas Benua Guntung, telah ditutup pada Minggu (8/12/2024) bertempat di Rumah Adat Guntung Jalan Tari Enggang, Kelurahan Guntung, Kota Bontang. 

    Sama seperti tahun-tahun sebelumnya,  Erau selalu diakhiri dengan acara Berlimbur, yang menandai berakhirnya upacara tersebut.

    Ketua adat Guntung, Bambang Darmawi menjelaskan, Berlimbur merupakan tradisi saling menyiramkan air antar masyarakat. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas lancarnya pelaksanaan Erau.

    “Berlimbur juga dimaknai sebagai sarana pembersihan diri dari sifat buruk dan unsur kejahatan,” ungkapnya kepada Seputarfakta.com, Minggu (8/12/2024). Air sebagai sumber kehidupan, dipercaya sebagai media untuk melunturkan sifat buruk manusia. 

    Setelah melakukan Berlimbur di Rumah Adat, masyarakat yang hadir kemudian berkeliling hingga ke depan jalan masuk Guntung sambil membawa air, untuk disiramkan kepada kepada setiap orang yang lewat.

    Karena sudah merupakan upacara rutin setiap tahun, kebanyakan masyarakat Guntung sudah mempersiapkan selang air ataupun wadah air di depan rumah, untuk dipakai menyiram setiap orang yang lewat di jalan depan rumah mereka.

    Diberitakan sebelumnya, acara Erau Pelas Benua Guntung dibuka pada Senin (2/12/2024) lalu. Kegiatan tersebut berlangsung selama delapan hari dengan berbagai rangkaian acara.

    Lurah Guntung Denny Febrian mengungkapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang menggelontorkan dana sebanyak Rp360 juta, untuk rangkaian Erau tahun ini.

    “Kita juga dapat tambahan dana dari beberapa perusahaan,” ungkapnya. 

    Sebelum acara Erau dibuka, terlebih dahulu dilakukan 
    Napak Tilas. Yakni berkunjung ke makam-makam yang memiliki sejarah, sebagai tanda bahwa Kutai itu benar-benar benar ada di Bontang khususnya di Guntung.

    Kemudian, menyucikan Kota Bontang melalui ritual Bepelas. Yang merupakan ritual persembahan kurban untuk memberi makan bumi dengan melakukan penyembelihan binatang yang kemudian darah binatang ini dipercikan kepermukaan bumi dan ke empat sudut benua yang telah ditentukan, ritual ini merupakan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang maha Esa yang telah memberi manusia rizki lewat bumi.

    “Jadi kita berkeliling ke perusahaan-perusahaan, rumah-rumah jabatan Forkopimda (Forum koordinasi pimpinan daerah), lalu Guntung hingga ke Loktuan,” ungkapnya.

    Setelah itu melakukan pembukaan upacara adat, yang sebelumnya dihadiri oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Adji Muhammad Arifin. 

    Pada pembukaan acara acara sangat dimeriahkan dengan pertunjukan dan 500 penari Jepen yang memenuhi halaman Rumah Adat Guntung.

    Setiap malamnya, selama satu minggu acara diisi dengan pertunjukan budaya dari beberapa paguyuban, termasuk band lokal yang membawakan lagu-lagu tradisional.

    “Disiangnya ada olahraga tradisional. Seperti sumpit, begasing, dan belogo,” kata dia. Malam puncak acara ditutup dengan penampilan band dan pembagian hadiah bagi masyarakat yang berpatisipasi dalam kegitan Erau.

    (Sf/Rs)