Cari disini...
Seputar Kaltim
Contoh Gula Rafinasi. (Foto: Freepik)
Tanjung Redeb - Badan Urusan Logistik (Bulog) Kabupaten Berau mengingatkan masyarakat agar lebih cermat dalam memilih gula konsumsi. Pasalnya, gula rafinasi yang banyak beredar di pasaran dan diminati karena warnanya yang putih bersih dinilai memiliki risiko kesehatan lebih besar dibandingkan gula tebu murni.
Asisten Manager Operasional Bulog Kabupaten Berau, Ade Anggoro, mengatakan bahwa kebiasaan masyarakat memilih gula masih didasarkan pada faktor visual, bukan pada kandungan atau proses produksinya.
"Masyarakat masih banyak memilih gula rafinasi karena tampilannya lebih putih. Sedangkan gula yang disalurkan dari Bulog warnanya tidak sebersih itu karena gula tebu murni," ujar Ade.
Ia menyebutkan, sebagian besar gula yang beredar di pasaran saat ini merupakan gula rafinasi, sementara gula tebu murni lebih banyak disalurkan melalui Bulog. Dimana, gula rafinasi sendiri merupakan gula olahan yang melalui tahapan produksi lanjutan.
"Gula rafinasi itu bukan gula murni. Prosesnya panjang dan bukan dari tebu murni sepenuhnya," jelasnya.
Sementara itu, gula tebu murni berasal dari 100 persen tebu tanpa tambahan zat kimia dalam proses pemurniannya. Dari sisi harga, perbedaan antara kedua jenis gula tersebut tidak terlalu signifikan, meskipun gula rafinasi cenderung sedikit lebih mahal.
"Sebenarnya lebih mahal gula rafinasi, tapi orang tetap memilih itu karena lebih putih," katanya.
Oleh karena itu, ia menilai bahwa masyarakat masih kurang mempertimbangkan dampak kesehatan dalam jangka panjang. Warna putih pada gula rafinasi dinilai mampu memengaruhi persepsi konsumen.
"Padahal gula yang putih itu justru lebih banyak campuran kimianya. Manisnya harus dua sendok, sementara gula tebu murni satu sendok sudah manis. Tapi orang tidak memikirkan itu, tampilannya membuat orang tersugesti," tuturnya.
Dirinya pun menyampaikan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, pihaknya terus melakukan edukasi kepada distributor dan konsumen, khususnya saat pelaksanaan pasar murah. Edukasi tersebut mencakup perbedaan gula rafinasi dan gula tebu murni, baik dari sisi proses produksi maupun dampaknya terhadap kesehatan.
"Kami sudah menyampaikan kepada distributor dan masyarakat bahwa gula rafinasi kurang baik jika dikonsumsi dalam jangka panjang," tuturnya.
Oleh sebab itu, Ade berharap masyarakat ke depan dapat lebih cermat dalam memilih bahan pangan dan tidak hanya terpaku pada tampilan, tetapi juga memperhatikan aspek kesehatan.
"Kita berharap, kedepan masyarakat dapat lebih paham bahwa pilihan tangan tidak semata ditentukan oleh tampilan, tetapi oleh nilai kesehatan yang dikandung didalamnya," tandasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Contoh Gula Rafinasi. (Foto: Freepik)
Tanjung Redeb - Badan Urusan Logistik (Bulog) Kabupaten Berau mengingatkan masyarakat agar lebih cermat dalam memilih gula konsumsi. Pasalnya, gula rafinasi yang banyak beredar di pasaran dan diminati karena warnanya yang putih bersih dinilai memiliki risiko kesehatan lebih besar dibandingkan gula tebu murni.
Asisten Manager Operasional Bulog Kabupaten Berau, Ade Anggoro, mengatakan bahwa kebiasaan masyarakat memilih gula masih didasarkan pada faktor visual, bukan pada kandungan atau proses produksinya.
"Masyarakat masih banyak memilih gula rafinasi karena tampilannya lebih putih. Sedangkan gula yang disalurkan dari Bulog warnanya tidak sebersih itu karena gula tebu murni," ujar Ade.
Ia menyebutkan, sebagian besar gula yang beredar di pasaran saat ini merupakan gula rafinasi, sementara gula tebu murni lebih banyak disalurkan melalui Bulog. Dimana, gula rafinasi sendiri merupakan gula olahan yang melalui tahapan produksi lanjutan.
"Gula rafinasi itu bukan gula murni. Prosesnya panjang dan bukan dari tebu murni sepenuhnya," jelasnya.
Sementara itu, gula tebu murni berasal dari 100 persen tebu tanpa tambahan zat kimia dalam proses pemurniannya. Dari sisi harga, perbedaan antara kedua jenis gula tersebut tidak terlalu signifikan, meskipun gula rafinasi cenderung sedikit lebih mahal.
"Sebenarnya lebih mahal gula rafinasi, tapi orang tetap memilih itu karena lebih putih," katanya.
Oleh karena itu, ia menilai bahwa masyarakat masih kurang mempertimbangkan dampak kesehatan dalam jangka panjang. Warna putih pada gula rafinasi dinilai mampu memengaruhi persepsi konsumen.
"Padahal gula yang putih itu justru lebih banyak campuran kimianya. Manisnya harus dua sendok, sementara gula tebu murni satu sendok sudah manis. Tapi orang tidak memikirkan itu, tampilannya membuat orang tersugesti," tuturnya.
Dirinya pun menyampaikan sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, pihaknya terus melakukan edukasi kepada distributor dan konsumen, khususnya saat pelaksanaan pasar murah. Edukasi tersebut mencakup perbedaan gula rafinasi dan gula tebu murni, baik dari sisi proses produksi maupun dampaknya terhadap kesehatan.
"Kami sudah menyampaikan kepada distributor dan masyarakat bahwa gula rafinasi kurang baik jika dikonsumsi dalam jangka panjang," tuturnya.
Oleh sebab itu, Ade berharap masyarakat ke depan dapat lebih cermat dalam memilih bahan pangan dan tidak hanya terpaku pada tampilan, tetapi juga memperhatikan aspek kesehatan.
"Kita berharap, kedepan masyarakat dapat lebih paham bahwa pilihan tangan tidak semata ditentukan oleh tampilan, tetapi oleh nilai kesehatan yang dikandung didalamnya," tandasnya.
(Sf/Rs)