Cari disini...
Seputar Kaltim
Puskesmas Petung. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Puskesmas Petung terus memperkuat layanan kesehatan dasar dengan menerapkan sistem Integrasi Layanan Primer (ILP) yang mengelompokkan pelayanan berdasarkan tahapan usia masyarakat, mulai dari bayi hingga lanjut usia. Sistem tersebut didukung layanan UGD 24 jam, jaringan puskesmas pembantu, hingga penerapan rekam medik elektronik.
Kepala UPT Puskesmas Petung, Amsal Said, mengatakan konsep pelayanan yang diterapkan saat ini bertujuan mempercepat akses dan membuat penanganan kesehatan lebih terintegrasi.
"Pelayanan yang kami gunakan sekarang berbasis ILP atau Integrasi Layanan Primer, jadi pelayanan dibagi berdasarkan siklus kehidupan, mulai dari bayi sampai lansia," kata Amsal, Rabu (24/6/2026).
Ia menjelaskan, dalam penerapan ILP pelayanan dibagi ke dalam lima klaster. Klaster pertama menangani administrasi pelayanan, klaster kedua melayani ibu hamil dan anak usia 0-18 tahun, klaster ketiga untuk kelompok usia dewasa hingga lansia, sedangkan klaster keempat berfokus pada penyakit menular.
Sementara klaster kelima atau lintas klaster mencakup pelayanan yang bersifat penunjang dan kegawatdaruratan, seperti UGD 24 jam, PONED, imunisasi, pelayanan kesehatan gigi, laboratorium, hingga pelayanan obat melalui apotek.
Tidak hanya mengandalkan layanan di puskesmas induk, Puskesmas Petung juga memperluas jangkauan pelayanan melalui delapan puskesmas pembantu (Pustu) yang tersebar di wilayah kerja sembilan desa dan kelurahan.
Menurut Amsal, setiap pustu diperkuat tenaga kesehatan berupa bidan dan perawat yang tetap terkoneksi dengan dokter di puskesmas induk.
"Walaupun pelayanan dilakukan di pustu, koordinasi tetap berjalan dengan dokter di puskesmas induk," ujarnya.
Koordinasi itu kini diperkuat melalui penerapan Rekam Medik Elektronik (RME) berbasis sistem daring yang memungkinkan tenaga kesehatan melakukan konsultasi dan pemantauan secara lebih cepat, termasuk melalui sambungan video apabila diperlukan.
Amsal menilai sistem tersebut membuat pelayanan menjadi lebih efektif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Selain itu, dukungan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) juga dinilai membantu meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah masukan dari masyarakat. Pihaknya menyatakan tetap membuka ruang evaluasi dan menindaklanjuti setiap keluhan yang masuk, baik melalui media sosial maupun laporan langsung ke puskesmas.
"Keluhan masyarakat tetap menjadi perhatian kami. Semua masukan kami koordinasikan dan tindak lanjuti sebagai bagian dari perbaikan pelayanan," tutupnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Puskesmas Petung. (Foto: Cindy/Seputarfakta.com)
Penajam - Puskesmas Petung terus memperkuat layanan kesehatan dasar dengan menerapkan sistem Integrasi Layanan Primer (ILP) yang mengelompokkan pelayanan berdasarkan tahapan usia masyarakat, mulai dari bayi hingga lanjut usia. Sistem tersebut didukung layanan UGD 24 jam, jaringan puskesmas pembantu, hingga penerapan rekam medik elektronik.
Kepala UPT Puskesmas Petung, Amsal Said, mengatakan konsep pelayanan yang diterapkan saat ini bertujuan mempercepat akses dan membuat penanganan kesehatan lebih terintegrasi.
"Pelayanan yang kami gunakan sekarang berbasis ILP atau Integrasi Layanan Primer, jadi pelayanan dibagi berdasarkan siklus kehidupan, mulai dari bayi sampai lansia," kata Amsal, Rabu (24/6/2026).
Ia menjelaskan, dalam penerapan ILP pelayanan dibagi ke dalam lima klaster. Klaster pertama menangani administrasi pelayanan, klaster kedua melayani ibu hamil dan anak usia 0-18 tahun, klaster ketiga untuk kelompok usia dewasa hingga lansia, sedangkan klaster keempat berfokus pada penyakit menular.
Sementara klaster kelima atau lintas klaster mencakup pelayanan yang bersifat penunjang dan kegawatdaruratan, seperti UGD 24 jam, PONED, imunisasi, pelayanan kesehatan gigi, laboratorium, hingga pelayanan obat melalui apotek.
Tidak hanya mengandalkan layanan di puskesmas induk, Puskesmas Petung juga memperluas jangkauan pelayanan melalui delapan puskesmas pembantu (Pustu) yang tersebar di wilayah kerja sembilan desa dan kelurahan.
Menurut Amsal, setiap pustu diperkuat tenaga kesehatan berupa bidan dan perawat yang tetap terkoneksi dengan dokter di puskesmas induk.
"Walaupun pelayanan dilakukan di pustu, koordinasi tetap berjalan dengan dokter di puskesmas induk," ujarnya.
Koordinasi itu kini diperkuat melalui penerapan Rekam Medik Elektronik (RME) berbasis sistem daring yang memungkinkan tenaga kesehatan melakukan konsultasi dan pemantauan secara lebih cepat, termasuk melalui sambungan video apabila diperlukan.
Amsal menilai sistem tersebut membuat pelayanan menjadi lebih efektif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Selain itu, dukungan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) juga dinilai membantu meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah masukan dari masyarakat. Pihaknya menyatakan tetap membuka ruang evaluasi dan menindaklanjuti setiap keluhan yang masuk, baik melalui media sosial maupun laporan langsung ke puskesmas.
"Keluhan masyarakat tetap menjadi perhatian kami. Semua masukan kami koordinasikan dan tindak lanjuti sebagai bagian dari perbaikan pelayanan," tutupnya.
(Sf/Rs)