Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala DPTPH Provinsi Kaltim, Fahmi Hilmawan. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Kaltim mencatat puluhan hektare lahan persawahan mengalami puso atau gagal panen akibat kekeringan ekstrem.
Kekeringan ini terjadi karena adanya fenomena El Nino melanda sektor pertanian di seluruh wilayah Benua Etam.
Kepala DPTPH Kaltim, Fahmi Hilmawan, membeberkan cuaca panas ini berdampak luas pada ratusan hektare sawah yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten dan kota.
"Data terakhir kita itu sudah ada kurang lebih 900-an hektare yang tersebar di berbagai kabupaten yang mengalami kesulitan air. Bahkan, 25 hektare diindikasikan puso atau gagal panen," ungkap Fahmi ditemui di Samarinda, Selasa (18/8/2026).
Lahan yang paling rentan terdampak adalah sistem sawah tadah hujan. Salah satu wilayah yang cukup rawan berada di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), khususnya daerah Babulu yang memiliki hamparan sawah tadah hujan lebih dari tiga ribu hektare.
Kendati menghadapi ancaman kekeringan, Fahmi menegaskan bahwa PPU bersama Kabupaten Paser tetap menjadi tumpuan utama lumbung pangan di Benua Etam. Kedua wilayah tersebut saat ini berhasil mempertahankan status surplus produksi.
"PPU dan Paser sekarang sudah surplus untuk kebutuhan administrasi kabupatennya. Tentu kita harapkan hasil panen mereka bukan hanya untuk masyarakat sekitar, tapi juga bisa memenuhi kebutuhan beras lintas kabupaten di Kaltim," jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi agar dampak kekeringan tidak meluas, pemerintah provinsi telah mendistribusikan ratusan mesin pompa air kepada kelompok tani.
Pompanisasi ini terus dimaksimalkan untuk mengairi lahan pertanian selama sumber air permukaan seperti sungai masih tersedia di sekitar lokasi sawah.
"Pemerintah Provinsi Kaltim dengan dukungan dana dari pusat pada tahun 2024 ini memberikan 300 lebih pompa air yang disebarkan kepada para petani kita. Selama di situ masih ada sungai, maka masih bisa dibantu dengan pompanisasi," tambahnya.
DPTPH telah menerjunkan 60 petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) ke tingkat kecamatan hingga desa untuk mendata lahan kering dan memastikan intervensi bantuan berjalan efektif.
Langkah mitigasi tingkat lanjut juga sedang dipetakan bersama pemerintah pusat. Fahmi menyebut pihaknya tengah berkolaborasi dengan BNPB dan BMKG untuk merancang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan guna mengairi lahan dan mengisi embung yang mulai kosong.
Meski El Nino memberi tantangan berat, masyarakat diimbau tidak panik terkait ketersediaan bahan pokok. DPTPH memastikan total cadangan beras di Kaltim saat ini mencapai 1.200 ton, sehingga ketahanan pangan daerah dipastikan tetap aman dan terkendali.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala DPTPH Provinsi Kaltim, Fahmi Hilmawan. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Kaltim mencatat puluhan hektare lahan persawahan mengalami puso atau gagal panen akibat kekeringan ekstrem.
Kekeringan ini terjadi karena adanya fenomena El Nino melanda sektor pertanian di seluruh wilayah Benua Etam.
Kepala DPTPH Kaltim, Fahmi Hilmawan, membeberkan cuaca panas ini berdampak luas pada ratusan hektare sawah yang tersebar di berbagai wilayah kabupaten dan kota.
"Data terakhir kita itu sudah ada kurang lebih 900-an hektare yang tersebar di berbagai kabupaten yang mengalami kesulitan air. Bahkan, 25 hektare diindikasikan puso atau gagal panen," ungkap Fahmi ditemui di Samarinda, Selasa (18/8/2026).
Lahan yang paling rentan terdampak adalah sistem sawah tadah hujan. Salah satu wilayah yang cukup rawan berada di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), khususnya daerah Babulu yang memiliki hamparan sawah tadah hujan lebih dari tiga ribu hektare.
Kendati menghadapi ancaman kekeringan, Fahmi menegaskan bahwa PPU bersama Kabupaten Paser tetap menjadi tumpuan utama lumbung pangan di Benua Etam. Kedua wilayah tersebut saat ini berhasil mempertahankan status surplus produksi.
"PPU dan Paser sekarang sudah surplus untuk kebutuhan administrasi kabupatennya. Tentu kita harapkan hasil panen mereka bukan hanya untuk masyarakat sekitar, tapi juga bisa memenuhi kebutuhan beras lintas kabupaten di Kaltim," jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi agar dampak kekeringan tidak meluas, pemerintah provinsi telah mendistribusikan ratusan mesin pompa air kepada kelompok tani.
Pompanisasi ini terus dimaksimalkan untuk mengairi lahan pertanian selama sumber air permukaan seperti sungai masih tersedia di sekitar lokasi sawah.
"Pemerintah Provinsi Kaltim dengan dukungan dana dari pusat pada tahun 2024 ini memberikan 300 lebih pompa air yang disebarkan kepada para petani kita. Selama di situ masih ada sungai, maka masih bisa dibantu dengan pompanisasi," tambahnya.
DPTPH telah menerjunkan 60 petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) ke tingkat kecamatan hingga desa untuk mendata lahan kering dan memastikan intervensi bantuan berjalan efektif.
Langkah mitigasi tingkat lanjut juga sedang dipetakan bersama pemerintah pusat. Fahmi menyebut pihaknya tengah berkolaborasi dengan BNPB dan BMKG untuk merancang Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan guna mengairi lahan dan mengisi embung yang mulai kosong.
Meski El Nino memberi tantangan berat, masyarakat diimbau tidak panik terkait ketersediaan bahan pokok. DPTPH memastikan total cadangan beras di Kaltim saat ini mencapai 1.200 ton, sehingga ketahanan pangan daerah dipastikan tetap aman dan terkendali.
(Sf/Lo)