Seputar Kaltim

    Psikolog Unmul Ingatkan Bahaya Standarisasi Hidup dari Konten Tiktok

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    05 September 2024 pukul 11:15 WITA

    Masyarakat yang menonton konten TikTok. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Dosen Program Studi Psikologi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Ayunda Ramadhani, mengingatkan generasi muda akan bahaya standarisasi hidup yang kerap kali bermunculan lewat konten-konten di media sosial, khususnya TikTok. 

    Menurutnya, banyak konten di media sosial saat ini yang tidak realistis dan lebih berfokus pada pencarian popularitas atau viralitas, ketimbang memberikan manfaat edukatif.

    Mulanya aplikasi itu hanya berisi konten untuk bersenang-senang saat ini sudah bisa mengubah gaya hidup dan pola pikir seseorang. Misal standar dalam memilih pasangan dan cara berpakaian. 

    “Sekarang konten di sosmed itu sifatnya lebih komersial agar dapat like, komen, adsense, dan akhirnya kehilangan unsur edukatifnya,” ujar Ayunda, Rabu (4/9/2024).

    Ia menekankan pentingnya bagi generasi muda untuk selektif dalam memilih konten yang diikuti. Apalagi menurutnya saat ini para kreator itu membuat isi konten yang tidak dikuasai sepenuhnya. Misal seperti konten kesehatan mental. 

    "Sekarang masif sekali konten kesehatan mental banyak digaungkan, dan sayangnya konten itu banyak dibuat oleh mereka yang tidak paham," ungkapnya. 

    Ditambah lagi dengan mayoritas masyarakat saat ini, terutama kalangan Gen Z cenderung menyukai hal-hal yang praktis. Sehingga konten TikTok yang berdurasi singkat itu lebih disukai dan akhirnya mereka terbawa arus informasi. 

    Konten yang durasinya hanya satu menit itu mudah masuk ke dalam konsentrasi mereka sehingga lebih menangkap maksud konten itu, karena informasi yang disajikan ringkas, serta seolah-olah mereka pernah merasakannya. Terlebih mereka menganggap informasi itu cukup, padahal, kata Ayunda, untuk memahami sesuatu itu butuh proses yang cukup panjang. 

    "Makanya kenapa generasi muda gampang terbawa arus informasi itu, karena mereka maunya serba instan, kalau kita mau tau tentang itu tidak bisa hanya dari konten satu menit," bebernya. 

    Akibat dari itu, pada akhirnya menurut Ayunda akan terjadi self diagnosis yaitu tindakan mendiagnosis diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang dimiliki tanpa bantuan profesional. 

    Menurutnya, tindakan self diagnosis itu hasilnya cenderung tida tepat. Selain itu mereka juga akhirnya tidak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. Untuk itu ia mengimbau kepada masyarakat agar berhenti melakukan tindakan self diagnosis. 

    "Datang ke psikolog yang terpercaya yang memiliki legalitas praktek, sehingga kita mendapatkan manfaat dan edukasi, serta bantuan dan gangguan itu tidak berlarut-larut," imbaunya. 

    Ayunda juga menyoroti perbedaan latar belakang hidup setiap individu yang membuat penerapan standar hidup dari konten media sosial menjadi tidak relevan. 

    “Hidup semua orang itu tidak ada yang sama. Kita dilahirkan dan dibesarkan dengan cara yang berbeda pula, jadi belum tentu apa yang terjadi pada satu orang bisa serta merta kita ikuti dan kita mengalaminya,” tambahnya.

    Ia mengingatkan agar mengurangi konsumsi konten yang justru membuat diri merasa tidak aman atau tidak percaya diri. Kalau sudah merasa seperti itu, akan lebih baik menurutnya untuk mencari tahu lebih dalam kepada pihak yang memang memiliki legalitas akan hal itu. 

    Dengan banyaknya konten di media sosial yang bisa berdampak negatif, Ayunda berharap generasi muda dapat lebih bijak dalam mengonsumsi konten agar tidak terjebak dalam standar hidup yang tidak realistis. 

    “Yang paling tepat adalah berkonsultasi dengan psikolog. Jangan hanya mengandalkan TikTok, karena pada dasarnya TikTok itu adalah platform yang dibuat untuk menghibur dan komersil, jadi hati-hati,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Psikolog Unmul Ingatkan Bahaya Standarisasi Hidup dari Konten Tiktok

    Penulis:Tria|Redaktur:Rusdianto
    05 September 2024 pukul 11:15 WITA

    Masyarakat yang menonton konten TikTok. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Dosen Program Studi Psikologi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Ayunda Ramadhani, mengingatkan generasi muda akan bahaya standarisasi hidup yang kerap kali bermunculan lewat konten-konten di media sosial, khususnya TikTok. 

    Menurutnya, banyak konten di media sosial saat ini yang tidak realistis dan lebih berfokus pada pencarian popularitas atau viralitas, ketimbang memberikan manfaat edukatif.

    Mulanya aplikasi itu hanya berisi konten untuk bersenang-senang saat ini sudah bisa mengubah gaya hidup dan pola pikir seseorang. Misal standar dalam memilih pasangan dan cara berpakaian. 

    “Sekarang konten di sosmed itu sifatnya lebih komersial agar dapat like, komen, adsense, dan akhirnya kehilangan unsur edukatifnya,” ujar Ayunda, Rabu (4/9/2024).

    Ia menekankan pentingnya bagi generasi muda untuk selektif dalam memilih konten yang diikuti. Apalagi menurutnya saat ini para kreator itu membuat isi konten yang tidak dikuasai sepenuhnya. Misal seperti konten kesehatan mental. 

    "Sekarang masif sekali konten kesehatan mental banyak digaungkan, dan sayangnya konten itu banyak dibuat oleh mereka yang tidak paham," ungkapnya. 

    Ditambah lagi dengan mayoritas masyarakat saat ini, terutama kalangan Gen Z cenderung menyukai hal-hal yang praktis. Sehingga konten TikTok yang berdurasi singkat itu lebih disukai dan akhirnya mereka terbawa arus informasi. 

    Konten yang durasinya hanya satu menit itu mudah masuk ke dalam konsentrasi mereka sehingga lebih menangkap maksud konten itu, karena informasi yang disajikan ringkas, serta seolah-olah mereka pernah merasakannya. Terlebih mereka menganggap informasi itu cukup, padahal, kata Ayunda, untuk memahami sesuatu itu butuh proses yang cukup panjang. 

    "Makanya kenapa generasi muda gampang terbawa arus informasi itu, karena mereka maunya serba instan, kalau kita mau tau tentang itu tidak bisa hanya dari konten satu menit," bebernya. 

    Akibat dari itu, pada akhirnya menurut Ayunda akan terjadi self diagnosis yaitu tindakan mendiagnosis diri sendiri berdasarkan pengetahuan yang dimiliki tanpa bantuan profesional. 

    Menurutnya, tindakan self diagnosis itu hasilnya cenderung tida tepat. Selain itu mereka juga akhirnya tidak mendapatkan bantuan yang dibutuhkan. Untuk itu ia mengimbau kepada masyarakat agar berhenti melakukan tindakan self diagnosis. 

    "Datang ke psikolog yang terpercaya yang memiliki legalitas praktek, sehingga kita mendapatkan manfaat dan edukasi, serta bantuan dan gangguan itu tidak berlarut-larut," imbaunya. 

    Ayunda juga menyoroti perbedaan latar belakang hidup setiap individu yang membuat penerapan standar hidup dari konten media sosial menjadi tidak relevan. 

    “Hidup semua orang itu tidak ada yang sama. Kita dilahirkan dan dibesarkan dengan cara yang berbeda pula, jadi belum tentu apa yang terjadi pada satu orang bisa serta merta kita ikuti dan kita mengalaminya,” tambahnya.

    Ia mengingatkan agar mengurangi konsumsi konten yang justru membuat diri merasa tidak aman atau tidak percaya diri. Kalau sudah merasa seperti itu, akan lebih baik menurutnya untuk mencari tahu lebih dalam kepada pihak yang memang memiliki legalitas akan hal itu. 

    Dengan banyaknya konten di media sosial yang bisa berdampak negatif, Ayunda berharap generasi muda dapat lebih bijak dalam mengonsumsi konten agar tidak terjebak dalam standar hidup yang tidak realistis. 

    “Yang paling tepat adalah berkonsultasi dengan psikolog. Jangan hanya mengandalkan TikTok, karena pada dasarnya TikTok itu adalah platform yang dibuat untuk menghibur dan komersil, jadi hati-hati,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)