Seputar Kaltim

    Psikolog Sebut Taman Kota Bukan Sekadar Tempat Jalan-jalan, Tetapi Tempat Anak Bertumbuh Bukan 

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Taman kota bukan hanya tempat bermain, tetapi tempat anak-anak belajar tentang dunia secara alami. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Taman kota sering kali dianggap sekadar ruang hijau pelengkap kota atau tempat bersantai. Namun, bagi anak-anak, taman kota punya peran yang jauh lebih besar sebagai tempat mereka tumbuh, belajar, dan mengenal dunia secara nyata.

    Psikolog anak dan keluarga dari RS Siloam Balikpapan, Patria Rahmawaty, mengingatkan bahwa di tengah era digital yang membuat anak lebih sering menatap layar, ruang bermain terbuka seperti taman kota menjadi kebutuhan penting.

    “Anak zaman sekarang jarang berinteraksi langsung dengan lingkungan luar. Padahal, mereka butuh bergerak, bereksplorasi, dan berinteraksi nyata untuk berkembang optimal,” kata Patria kepada awak media, Rabu (30/7/2025).

    Bagi anak, taman kota bukan hanya tempat bermain perosotan atau ayunan. Menurut Patria, taman kota adalah tempat anak-anak belajar tentang dunia secara alami tentang kerja sama, berbagi, menyelesaikan konflik kecil, dan membangun keberanian.

    “Permainan fisik membantu motorik, interaksi sosial melatih empati. Semua itu tak bisa digantikan oleh game di layar,” terangnya.

    Selain perkembangan mental dan sosial, taman kota juga memberikan manfaat kesehatan. Kontak dengan alam, sinar matahari, dan udara segar terbukti mampu menurunkan stres bahkan pada anak-anak. Saat mereka bermain di luar, tubuh melepaskan hormon bahagia yang mendukung kesehatan mental.

    Namun, Patria mengingatkan bahwa tidak semua taman kota layak disebut ramah anak. Taman yang baik harus aman, bersih, dan dirancang sesuai kebutuhan anak-anak mulai dari area bermain yang aman, jalur sepeda, tempat duduk nyaman, hingga fasilitas toilet dan air bersih.

    “Taman bukan cuma ada, tetapi juga harus bisa digunakan dengan nyaman oleh anak-anak dan keluarganya,” ungkapnya.

    Tak hanya pemerintah, ia juga mendorong orang tua untuk lebih sering mengajak anak bermain di luar ruangan. Momen sederhana seperti piknik keluarga, membaca buku di bawah pohon, atau bermain petak umpet bisa mempererat hubungan emosional dan membangun karakter anak.

    “Cukup 1–2 jam di taman setiap minggu sudah sangat bermanfaat. Anak merasa diperhatikan, orang tua pun lebih memahami dunia mereka,” tuturnya.

    Taman kota yang layak juga menjadi indikator Kota Layak Anak (KLA). Pemerintah yang serius membangun taman berkualitas sebenarnya sedang berinvestasi untuk generasi masa depan anak-anak yang sehat fisik dan mental, punya empati, percaya diri, dan tidak kecanduan gawai.

    Dirinya juga berpesan bahwa pembangunan taman kota tidak cukup hanya membangun fisiknya. Yang lebih penting adalah pengelolaan jangka panjang dan komitmen semua pihak agar taman tetap bersih, aman, dan hidup.

    “Kalau ingin anak-anak tumbuh sehat dan bahagia, taman kota bukan pilihan, tapi keharusan,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Psikolog Sebut Taman Kota Bukan Sekadar Tempat Jalan-jalan, Tetapi Tempat Anak Bertumbuh Bukan 

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Taman kota bukan hanya tempat bermain, tetapi tempat anak-anak belajar tentang dunia secara alami. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan – Taman kota sering kali dianggap sekadar ruang hijau pelengkap kota atau tempat bersantai. Namun, bagi anak-anak, taman kota punya peran yang jauh lebih besar sebagai tempat mereka tumbuh, belajar, dan mengenal dunia secara nyata.

    Psikolog anak dan keluarga dari RS Siloam Balikpapan, Patria Rahmawaty, mengingatkan bahwa di tengah era digital yang membuat anak lebih sering menatap layar, ruang bermain terbuka seperti taman kota menjadi kebutuhan penting.

    “Anak zaman sekarang jarang berinteraksi langsung dengan lingkungan luar. Padahal, mereka butuh bergerak, bereksplorasi, dan berinteraksi nyata untuk berkembang optimal,” kata Patria kepada awak media, Rabu (30/7/2025).

    Bagi anak, taman kota bukan hanya tempat bermain perosotan atau ayunan. Menurut Patria, taman kota adalah tempat anak-anak belajar tentang dunia secara alami tentang kerja sama, berbagi, menyelesaikan konflik kecil, dan membangun keberanian.

    “Permainan fisik membantu motorik, interaksi sosial melatih empati. Semua itu tak bisa digantikan oleh game di layar,” terangnya.

    Selain perkembangan mental dan sosial, taman kota juga memberikan manfaat kesehatan. Kontak dengan alam, sinar matahari, dan udara segar terbukti mampu menurunkan stres bahkan pada anak-anak. Saat mereka bermain di luar, tubuh melepaskan hormon bahagia yang mendukung kesehatan mental.

    Namun, Patria mengingatkan bahwa tidak semua taman kota layak disebut ramah anak. Taman yang baik harus aman, bersih, dan dirancang sesuai kebutuhan anak-anak mulai dari area bermain yang aman, jalur sepeda, tempat duduk nyaman, hingga fasilitas toilet dan air bersih.

    “Taman bukan cuma ada, tetapi juga harus bisa digunakan dengan nyaman oleh anak-anak dan keluarganya,” ungkapnya.

    Tak hanya pemerintah, ia juga mendorong orang tua untuk lebih sering mengajak anak bermain di luar ruangan. Momen sederhana seperti piknik keluarga, membaca buku di bawah pohon, atau bermain petak umpet bisa mempererat hubungan emosional dan membangun karakter anak.

    “Cukup 1–2 jam di taman setiap minggu sudah sangat bermanfaat. Anak merasa diperhatikan, orang tua pun lebih memahami dunia mereka,” tuturnya.

    Taman kota yang layak juga menjadi indikator Kota Layak Anak (KLA). Pemerintah yang serius membangun taman berkualitas sebenarnya sedang berinvestasi untuk generasi masa depan anak-anak yang sehat fisik dan mental, punya empati, percaya diri, dan tidak kecanduan gawai.

    Dirinya juga berpesan bahwa pembangunan taman kota tidak cukup hanya membangun fisiknya. Yang lebih penting adalah pengelolaan jangka panjang dan komitmen semua pihak agar taman tetap bersih, aman, dan hidup.

    “Kalau ingin anak-anak tumbuh sehat dan bahagia, taman kota bukan pilihan, tapi keharusan,” pungkasnya.

    (Sf/Rs)