Cari disini...
Seputar Kaltim
Proses pembangunan Pasar Pagi pada Jumat (5/7/2024) lalu. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Pembangunan Pasar Pagi hingga saat ini belum menampakan progres yang signifikan. Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy menegaskan bahwa pembangunan itu bergerak tetap pada tenggat waktu yang telah ditetapkan.
“Dalam pemantauan saya mereka on progres. Artinya sesuai dengan item-item yang ditetapkan oleh Pejabat Pemkbuat Komitmen (PPK)-nya. Yang lama ini memang bagian pondasi, tapi kalau sudah yang lainnya itu cepat saja,” jelas Marnabas saat diwawancara di Gedung DPRD Samarinda, Rabu (21/8/2024).
Mulanya pasar yang menjadi ikon Kota Samarinda itu bakal dibangun lima lantai. Namun, mantan Kepala Dinas Perdagangan itu mengatakan keseluruhannya bakal dibangun jadi enam lantai.
Lantai satu akan diperuntukan untuk kawasan parkir. Di lantai dua akan dijadikan kawasan pedagang yang menjual barang basah dan kering seperti sayur-mayur, ikan, dan daging. Lalu di lantai tiga diperuntukan bagi pedagang kain, baju, atau konveksi.
“Lantai empat itu campur antara pedagang eceran dan emas, lantai selanjutnya lima dan enam itu grosiran,” ungkapnya.
Sebelumnya untuk pembangunan itu dianggarkan dana sebesar Rp375 miliar dengan bangunan empat atau lima lantai. Hanya saja karena beberapa pertimbangan, Marnabas mengungkap perlunya penambahan bangunan hingga akhirnya ada pembengkakan dana menjadi Rp450 miliar.
“Anggaran pertama itu Rp325 miliar, kemudian menambah lagi Rp50 miliar karena kita merubah kontruksi yang tadinya dari pengecoran menjadi baja. Kemudian kita penambah tingkat (lantai) karena diperlukan ruang terbuka hijau makanya anggarannya jadi Rp450 milliar,” jelasnya.
Pasar yang menerapkan konsep semi-modern itu diperkirakan akan rampung di tahun 2025. Meski tetap mengusung konsep tradisional, Marnabas tetap memperbolehkan pedagang yang ingin menggunakan AC di dalamnya. Dengan catatan memasang instalasi atau meteran listrik mandiri.
Kemudian terkait dengan pengadaan hotel atau penginapan di bangunann itu Marnabas menyebut masih akan dipertimbangkan kembali kemudian hari. Saat ini pihaknya masih fokus pada bangunan Pasar Pagi, agar aktivitas ekonomi di pasar itu bisa kembali seperti semula.
“Kita khawatir dengan biaya operasional yang tinggi itu akan membebani pedagang. Karena sampai saat ini kita masih menerapkan retribusi yang ada yakni dari 3 ribu naik jadi 4 ribu. Kecuali kalau dia sendiri yang mau pasang AC, silahkan tapi pasang kilometer sendiri. Kalau penerangan umum (lampu) itu tanggung jawab kita,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Proses pembangunan Pasar Pagi pada Jumat (5/7/2024) lalu. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Pembangunan Pasar Pagi hingga saat ini belum menampakan progres yang signifikan. Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy menegaskan bahwa pembangunan itu bergerak tetap pada tenggat waktu yang telah ditetapkan.
“Dalam pemantauan saya mereka on progres. Artinya sesuai dengan item-item yang ditetapkan oleh Pejabat Pemkbuat Komitmen (PPK)-nya. Yang lama ini memang bagian pondasi, tapi kalau sudah yang lainnya itu cepat saja,” jelas Marnabas saat diwawancara di Gedung DPRD Samarinda, Rabu (21/8/2024).
Mulanya pasar yang menjadi ikon Kota Samarinda itu bakal dibangun lima lantai. Namun, mantan Kepala Dinas Perdagangan itu mengatakan keseluruhannya bakal dibangun jadi enam lantai.
Lantai satu akan diperuntukan untuk kawasan parkir. Di lantai dua akan dijadikan kawasan pedagang yang menjual barang basah dan kering seperti sayur-mayur, ikan, dan daging. Lalu di lantai tiga diperuntukan bagi pedagang kain, baju, atau konveksi.
“Lantai empat itu campur antara pedagang eceran dan emas, lantai selanjutnya lima dan enam itu grosiran,” ungkapnya.
Sebelumnya untuk pembangunan itu dianggarkan dana sebesar Rp375 miliar dengan bangunan empat atau lima lantai. Hanya saja karena beberapa pertimbangan, Marnabas mengungkap perlunya penambahan bangunan hingga akhirnya ada pembengkakan dana menjadi Rp450 miliar.
“Anggaran pertama itu Rp325 miliar, kemudian menambah lagi Rp50 miliar karena kita merubah kontruksi yang tadinya dari pengecoran menjadi baja. Kemudian kita penambah tingkat (lantai) karena diperlukan ruang terbuka hijau makanya anggarannya jadi Rp450 milliar,” jelasnya.
Pasar yang menerapkan konsep semi-modern itu diperkirakan akan rampung di tahun 2025. Meski tetap mengusung konsep tradisional, Marnabas tetap memperbolehkan pedagang yang ingin menggunakan AC di dalamnya. Dengan catatan memasang instalasi atau meteran listrik mandiri.
Kemudian terkait dengan pengadaan hotel atau penginapan di bangunann itu Marnabas menyebut masih akan dipertimbangkan kembali kemudian hari. Saat ini pihaknya masih fokus pada bangunan Pasar Pagi, agar aktivitas ekonomi di pasar itu bisa kembali seperti semula.
“Kita khawatir dengan biaya operasional yang tinggi itu akan membebani pedagang. Karena sampai saat ini kita masih menerapkan retribusi yang ada yakni dari 3 ribu naik jadi 4 ribu. Kecuali kalau dia sendiri yang mau pasang AC, silahkan tapi pasang kilometer sendiri. Kalau penerangan umum (lampu) itu tanggung jawab kita,” pungkasnya.
(Sf/Rs)