Cari disini...
Seputar Kaltim
Hasil tambak udang windu di Pegat Batumbuk. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Sekretaris Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Yunda Zuliarsih menyampaikan upaya ekspor hasil tambak dari Berau masih menghadapi kendala. Hal tersebut disebabkan oleh masih adanya tambak di Berau yang belum memenuhi syarat sertifikasi layak ekspor.
"Untuk mendapatkan sertifikasi layak ekspor, setiap tambak harus memiliki luas tidak lebih dari dua hektare. Selain itu penggunaan pupuk dan obat-obatan yang ramah lingkungan serta memiliki usia telah ditentukan," ujar Sekretaris Diskan Berau, Yunda Zuliarsih.
Ia menjelaskan jika persyaratan tersebut terpenuhi, maka sertifikat layak ekspor bisa didapatkan, sehingga hasil tambak bisa diterima di pasar nasional. Ia pun menyampaikan persyaratan lainnya adalah tambak High Density Polyethylene (HDPE). Tambak HDPE lebih menekankan pada ekosistem atau habitat yang ramah lingkungan dan tidak berada di kawasan hutan atau konservasi.
"Nah kalau memang itu semua bisa terpenuhi baru kita bisa ekpor dan diterima di pasar nasional," katanya.
Sementara itu, ia mengatakan Berau saat ini memiliki program tambak secure yang dilaksanakan di Kampung Pegat Batumbuk, Tabalar Muara, Kecamatan Tabalar dan Kampung Suaran. Program tersebut fokus pada budidaya udang windu dengan sistem pertambakan teknologi tradisional, yang menggabungkan tambak dengan ekosistem mangrove (silvofishery).
"Hasil dari metode ini yaitu setiap dua atau tiga bulan panen hasilnya dua kali lebih banyak daripada yang biasa," ujarnya.
Program Tambak Secure tersebut merupakan hasil kerja sama antara pemerintah daerah dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Sebab pemerintah tidak dapat menjalankan program ini sendirian karena keterbatasan anggaran, sarana, dan sumber daya manusia (SDM).
Selain itu, pihaknya mengharapkan komoditi lain seperti lobster untuk dapat masuk pasar ekspor. Namun yang menjadi tantangan saat ini adalah keterbatasan sumber benih. Saat ini, Lobster hanya banyak ditemukan di Pulau Balikukup dan Derawan.
"Lobster itu kan tidak bisa dibudidayakan atau dipelihara sendiri, dia harus ditangkap dari alam dan dibesarkan di dalam keramba. Jadi yang saat ini bisa hanya kerapu, namun untuk yang berpotensi selanjutnya yaitu udang windu dan lobster," tandasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Hasil tambak udang windu di Pegat Batumbuk. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Sekretaris Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Yunda Zuliarsih menyampaikan upaya ekspor hasil tambak dari Berau masih menghadapi kendala. Hal tersebut disebabkan oleh masih adanya tambak di Berau yang belum memenuhi syarat sertifikasi layak ekspor.
"Untuk mendapatkan sertifikasi layak ekspor, setiap tambak harus memiliki luas tidak lebih dari dua hektare. Selain itu penggunaan pupuk dan obat-obatan yang ramah lingkungan serta memiliki usia telah ditentukan," ujar Sekretaris Diskan Berau, Yunda Zuliarsih.
Ia menjelaskan jika persyaratan tersebut terpenuhi, maka sertifikat layak ekspor bisa didapatkan, sehingga hasil tambak bisa diterima di pasar nasional. Ia pun menyampaikan persyaratan lainnya adalah tambak High Density Polyethylene (HDPE). Tambak HDPE lebih menekankan pada ekosistem atau habitat yang ramah lingkungan dan tidak berada di kawasan hutan atau konservasi.
"Nah kalau memang itu semua bisa terpenuhi baru kita bisa ekpor dan diterima di pasar nasional," katanya.
Sementara itu, ia mengatakan Berau saat ini memiliki program tambak secure yang dilaksanakan di Kampung Pegat Batumbuk, Tabalar Muara, Kecamatan Tabalar dan Kampung Suaran. Program tersebut fokus pada budidaya udang windu dengan sistem pertambakan teknologi tradisional, yang menggabungkan tambak dengan ekosistem mangrove (silvofishery).
"Hasil dari metode ini yaitu setiap dua atau tiga bulan panen hasilnya dua kali lebih banyak daripada yang biasa," ujarnya.
Program Tambak Secure tersebut merupakan hasil kerja sama antara pemerintah daerah dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN). Sebab pemerintah tidak dapat menjalankan program ini sendirian karena keterbatasan anggaran, sarana, dan sumber daya manusia (SDM).
Selain itu, pihaknya mengharapkan komoditi lain seperti lobster untuk dapat masuk pasar ekspor. Namun yang menjadi tantangan saat ini adalah keterbatasan sumber benih. Saat ini, Lobster hanya banyak ditemukan di Pulau Balikukup dan Derawan.
"Lobster itu kan tidak bisa dibudidayakan atau dipelihara sendiri, dia harus ditangkap dari alam dan dibesarkan di dalam keramba. Jadi yang saat ini bisa hanya kerapu, namun untuk yang berpotensi selanjutnya yaitu udang windu dan lobster," tandasnya.
(Sf/Rs)