Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mengakui bahwa program cek kesehatan gratis yang telah berjalan di 26 puskesmas masih kurang diminati oleh masyarakat.
Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismid Kusasih, menyebutkan bahwa meskipun layanan ini telah tersedia, antusiasme warga masih rendah. Oleh karena itu, pihaknya berencana meningkatkan sosialisasi agar lebih banyak masyarakat memanfaatkannya.
"Kami melihat peminatnya masih kurang, sepertinya perlu sosialisasi lebih lanjut agar masyarakat lebih sadar pentingnya cek kesehatan secara rutin," ujar Ismid.
Selain itu, ia juga mengungkapkan adanya perubahan kebijakan dari Kementerian Kesehatan terkait sistem pendaftaran cek kesehatan.
Jika sebelumnya layanan ini diberikan bertepatan dengan ulang tahun peserta, kini masyarakat dapat mendaftar kapan saja melalui aplikasi mobile tanpa harus menunggu hari ulang tahunnya.
"Diperkirakan jumlah peserta cek kesehatan di Indonesia bisa mencapai jutaan orang hingga bulan ini, tetapi realisasinya masih jauh dari perkiraan. Oleh karena itu, ada perubahan kebijakan untuk mempermudah akses," jelasnya.
Ismid menegaskan bahwa cek kesehatan memiliki peran penting dalam upaya preventif dan promotif, yaitu untuk mendeteksi dini risiko penyakit sebelum berkembang menjadi masalah serius.
Namun, ia mengakui bahwa tantangan terbesar adalah mengubah perilaku masyarakat yang cenderung khawatir atau enggan menjalani pemeriksaan kesehatan.
Pihaknya terus melakukan evaluasi terkait pelaksanaan program. Menurutnya, salah satu faktor yang juga mempengaruhi ialah waktu pemeriksaan yang dilakukan di waktu kerja.
"Kami terus melakukan evaluasi terkait cek kesehatan gratis ini, namun kendala utamanya masih sama, yaitu rendahnya minat masyarakat, karena waktu pemeriksaan dengan jam kerja juga jadi faktor," ungkapnya.
Ia membeberkan bahwa proses cek kesehatan sendiri memerlukan waktu sekitar satu jam karena mencakup beberapa tahapan, mulai dari pendaftaran, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan penunjang lainnya.
Saat ini, data menunjukkan bahwa sejak 1 Februari hingga Maret, jumlah peserta cek kesehatan baru mencapai ratusan orang.
Meski begitu, kesiapan puskesmas tetap terjaga. Di mana Dinkes tidak membatasi jumlah pemeriksaan, selama tenaga medis dan fasilitas di puskesmas mencukupi.
"Dalam seminggu, ada puskesmas yang melayani pemeriksaan tiga hari, ada yang dua hari, tergantung kesiapan tenaga kesehatan dan laboratorium," jelasnya.
Dinkes Samarinda juga menyoroti bahwa pemeriksaan kesehatan bagi anak usia sekolah (7-17 tahun) berpotensi mengalami peningkatan karena diwajibkan bagi siswa yang baru masuk sekolah.
Sehingga dengan adanya kebijakan tersebut juga berpotensi besar jumlah pemeriksaan di kelompok usia ini akan meningkat.
Dengan langkah sosialisasi yang lebih masif dan kemudahan akses layanan, ia berharap program pemeriksaan kesehatan gratis ini bisa dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat demi kesehatan yang lebih baik.
"Kami tetap optimis akan terjadi peningkatan ke depan," pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tria/Seputarfakta.com)
Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mengakui bahwa program cek kesehatan gratis yang telah berjalan di 26 puskesmas masih kurang diminati oleh masyarakat.
Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismid Kusasih, menyebutkan bahwa meskipun layanan ini telah tersedia, antusiasme warga masih rendah. Oleh karena itu, pihaknya berencana meningkatkan sosialisasi agar lebih banyak masyarakat memanfaatkannya.
"Kami melihat peminatnya masih kurang, sepertinya perlu sosialisasi lebih lanjut agar masyarakat lebih sadar pentingnya cek kesehatan secara rutin," ujar Ismid.
Selain itu, ia juga mengungkapkan adanya perubahan kebijakan dari Kementerian Kesehatan terkait sistem pendaftaran cek kesehatan.
Jika sebelumnya layanan ini diberikan bertepatan dengan ulang tahun peserta, kini masyarakat dapat mendaftar kapan saja melalui aplikasi mobile tanpa harus menunggu hari ulang tahunnya.
"Diperkirakan jumlah peserta cek kesehatan di Indonesia bisa mencapai jutaan orang hingga bulan ini, tetapi realisasinya masih jauh dari perkiraan. Oleh karena itu, ada perubahan kebijakan untuk mempermudah akses," jelasnya.
Ismid menegaskan bahwa cek kesehatan memiliki peran penting dalam upaya preventif dan promotif, yaitu untuk mendeteksi dini risiko penyakit sebelum berkembang menjadi masalah serius.
Namun, ia mengakui bahwa tantangan terbesar adalah mengubah perilaku masyarakat yang cenderung khawatir atau enggan menjalani pemeriksaan kesehatan.
Pihaknya terus melakukan evaluasi terkait pelaksanaan program. Menurutnya, salah satu faktor yang juga mempengaruhi ialah waktu pemeriksaan yang dilakukan di waktu kerja.
"Kami terus melakukan evaluasi terkait cek kesehatan gratis ini, namun kendala utamanya masih sama, yaitu rendahnya minat masyarakat, karena waktu pemeriksaan dengan jam kerja juga jadi faktor," ungkapnya.
Ia membeberkan bahwa proses cek kesehatan sendiri memerlukan waktu sekitar satu jam karena mencakup beberapa tahapan, mulai dari pendaftaran, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan penunjang lainnya.
Saat ini, data menunjukkan bahwa sejak 1 Februari hingga Maret, jumlah peserta cek kesehatan baru mencapai ratusan orang.
Meski begitu, kesiapan puskesmas tetap terjaga. Di mana Dinkes tidak membatasi jumlah pemeriksaan, selama tenaga medis dan fasilitas di puskesmas mencukupi.
"Dalam seminggu, ada puskesmas yang melayani pemeriksaan tiga hari, ada yang dua hari, tergantung kesiapan tenaga kesehatan dan laboratorium," jelasnya.
Dinkes Samarinda juga menyoroti bahwa pemeriksaan kesehatan bagi anak usia sekolah (7-17 tahun) berpotensi mengalami peningkatan karena diwajibkan bagi siswa yang baru masuk sekolah.
Sehingga dengan adanya kebijakan tersebut juga berpotensi besar jumlah pemeriksaan di kelompok usia ini akan meningkat.
Dengan langkah sosialisasi yang lebih masif dan kemudahan akses layanan, ia berharap program pemeriksaan kesehatan gratis ini bisa dimanfaatkan lebih luas oleh masyarakat demi kesehatan yang lebih baik.
"Kami tetap optimis akan terjadi peningkatan ke depan," pungkasnya.
(Sf/Rs)