Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Kutai Timur, Marhadyn. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan hadir di sekitar 100 titik di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dinilai membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Salah satu komoditas yang diperkirakan paling dibutuhkan adalah tahu dan tempe.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kutim, Marhadyn, mengatakan kebutuhan bahan pangan untuk mendukung program MBG akan sangat besar. Karena itu, masyarakat diminta mulai melihat peluang usaha dari program tersebut.
Menurutnya, berdasarkan hasil diskusi dengan para kepala desa, MBG akan tersebar di sekitar 100 titik, termasuk di wilayah kategori terluar, terdepan, dan terpencil (3T).
"Ada sekitar 100 titik MBG yang akan dibangun. Ini peluang usaha yang sangat besar bagi masyarakat," ujar Marhadyn.
Ia mengatakan, tahu dan tempe diperkirakan menjadi menu yang cukup sering disajikan dalam program MBG. Dalam satu minggu, kedua bahan pangan itu bisa digunakan dua hingga tiga kali sebagai lauk.
Marhadyn mengaku khawatir kebutuhan yang tinggi dapat membuat pasokan tahu dan tempe di pasaran berkurang jika tidak diantisipasi sejak sekarang.
"Jangan sampai nanti 100 titik MBG berjalan, lalu tahu dan tempe di pasar habis diserap untuk kebutuhan SPPG sehingga masyarakat kesulitan mendapatkannya," katanya.
Karena itu, ia mendorong masyarakat mulai membuka atau mengembangkan usaha tahu dan tempe. Pemerintah daerah siap memberikan pendampingan dan fasilitasi.
Marhadyn menambahkan, sejumlah pengelola SPPG juga telah meminta dukungan agar pasokan bahan pangan lokal tetap tersedia dan mampu memenuhi kebutuhan program MBG.
"Kalau ada masyarakat yang ingin usaha tahu dan tempe, nanti akan kita bantu. Pasarnya sudah jelas dan kebutuhannya besar," tambahnya.
Ia menilai MBG bukan hanya program pemenuhan gizi, tetapi juga peluang ekonomi bagi UMKM lokal. Kebutuhan program MBG tidak hanya terbatas pada tahu dan tempe. Masih banyak produk lain yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaannya. Untuk itu, ia berharap pelaku UMKM Kutim dapat mengambil peran dalam memenuhi berbagai kebutuhan MBG yang nantinya tersebar di berbagai kecamatan.
"Jangan sampai peluang ekonomi yang besar ini tidak bisa dimanfaatkan masyarakat Kutim. Yang kita harapkan masyarakat menjadi pelaku usahanya dan ikut menikmati manfaat ekonominya," pungkasnya.
(Sf/RS)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Kutai Timur, Marhadyn. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan hadir di sekitar 100 titik di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dinilai membuka peluang usaha baru bagi masyarakat. Salah satu komoditas yang diperkirakan paling dibutuhkan adalah tahu dan tempe.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kutim, Marhadyn, mengatakan kebutuhan bahan pangan untuk mendukung program MBG akan sangat besar. Karena itu, masyarakat diminta mulai melihat peluang usaha dari program tersebut.
Menurutnya, berdasarkan hasil diskusi dengan para kepala desa, MBG akan tersebar di sekitar 100 titik, termasuk di wilayah kategori terluar, terdepan, dan terpencil (3T).
"Ada sekitar 100 titik MBG yang akan dibangun. Ini peluang usaha yang sangat besar bagi masyarakat," ujar Marhadyn.
Ia mengatakan, tahu dan tempe diperkirakan menjadi menu yang cukup sering disajikan dalam program MBG. Dalam satu minggu, kedua bahan pangan itu bisa digunakan dua hingga tiga kali sebagai lauk.
Marhadyn mengaku khawatir kebutuhan yang tinggi dapat membuat pasokan tahu dan tempe di pasaran berkurang jika tidak diantisipasi sejak sekarang.
"Jangan sampai nanti 100 titik MBG berjalan, lalu tahu dan tempe di pasar habis diserap untuk kebutuhan SPPG sehingga masyarakat kesulitan mendapatkannya," katanya.
Karena itu, ia mendorong masyarakat mulai membuka atau mengembangkan usaha tahu dan tempe. Pemerintah daerah siap memberikan pendampingan dan fasilitasi.
Marhadyn menambahkan, sejumlah pengelola SPPG juga telah meminta dukungan agar pasokan bahan pangan lokal tetap tersedia dan mampu memenuhi kebutuhan program MBG.
"Kalau ada masyarakat yang ingin usaha tahu dan tempe, nanti akan kita bantu. Pasarnya sudah jelas dan kebutuhannya besar," tambahnya.
Ia menilai MBG bukan hanya program pemenuhan gizi, tetapi juga peluang ekonomi bagi UMKM lokal. Kebutuhan program MBG tidak hanya terbatas pada tahu dan tempe. Masih banyak produk lain yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaannya. Untuk itu, ia berharap pelaku UMKM Kutim dapat mengambil peran dalam memenuhi berbagai kebutuhan MBG yang nantinya tersebar di berbagai kecamatan.
"Jangan sampai peluang ekonomi yang besar ini tidak bisa dimanfaatkan masyarakat Kutim. Yang kita harapkan masyarakat menjadi pelaku usahanya dan ikut menikmati manfaat ekonominya," pungkasnya.
(Sf/RS)