Cari disini...
Seputar Kaltim
Lokasi Program Kaderasi Ulama di Gontor, yang diikuti oleh peserta dari Kaltim. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda – Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam Gontor mengalami penurunan minat yang signifikan dari peserta di Kalimantan Timur.
Padahal program ini juga bagian kerjasama dari Beasiswa Tuntas Kerjasama, bagian dari Beasiswa Kalimantan Timur (BKT), yang mana tidak memungut biaya apapun kepada pesertanya, namun tetap mengalami kesulitan dalam menarik peminat.
Pada tahun 2024, hanya empat kandidat yang berhasil diberangkatkan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim, yang bertindak sebagai pihak seleksi.
Angka ini menurun drastis jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana peminat PKU selalu banyak. Sebagai perbandingan, pada tahun 2020 tercatat ada 19 peserta, 2021 sebanyak 16 orang, 2022 mencapai 20 orang, dan 2023 sebanyak 21 orang, dengan total keseluruhan mencapai 76 peserta dari BKT.
Ketua Pelaksana PKU Kaltim, Bahrani, menyatakan kekhawatirannya atas penurunan minat ini. Penurunan jumlah peminat ini berpotensi mengancam kelangsungan beasiswa yang telah berhasil mencetak bibit ulama dengan orientasi penyebaran agama Islam di Kaltim.
"Tahun ini sepi peminat, yang daftar enam dan setelah kami seleksi, hanya empat. Biasanya yang mendaftar banyak," ujar Bahrani.
Upaya promosi telah dilakukan melalui berbagai media dan pemanfaatan grup WhatsApp alumni, namun hasilnya belum memuaskan. Program ini telah berjalan selama tujuh angkatan dan dianggap telah eksis di Kaltim.
Untuk tahun 2024, kuota PKU Kaltim ditetapkan sebanyak 10 orang. Bahrani menegaskan bahwa penurunan kuota ini bukan disebabkan oleh pengurangan anggaran BKT. Anggaran BKT untuk tahun 2024 adalah sebesar Rp 200 miliar, turun dari anggaran sebelumnya yang mencapai Rp 500 miliar.
"Penurunan kuota bukan karena pengaruh alokasi anggaran. Kami diberikan keleluasaan untuk merekrut lebih banyak peserta, dan hasil evaluasi tahun ini memberikan kuota hanya 10," jelas Bahrani.
Untuk memenuhi kuota itu, walaupun keempat peserta lainnya dari Kaltim sudah berangkat ke Gontor. Bahrani tetap memberikan kesempatan selama seminggu ini untuk mendaftar dan bisa mengikuti program ini.
"Jadi teman-teman yang ingin mendaftar silahkan, masih ada kesempatan selama seminggu ini untuk berpartisipasi, dengan menghubungi kontak yang ada, kami masih terbuka," ajaknya.
Bahrani juga menyatakan keinginannya agar program ini tidak berhenti sampai di sini. Ia bersama pihak BKT berencana melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Universitas Islam Malang (Unisma) untuk program serupa dengan durasi yang lebih panjang dibandingkan PKU Gontor, yaitu satu tahun masa pembelajaran.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Lokasi Program Kaderasi Ulama di Gontor, yang diikuti oleh peserta dari Kaltim. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda – Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam Gontor mengalami penurunan minat yang signifikan dari peserta di Kalimantan Timur.
Padahal program ini juga bagian kerjasama dari Beasiswa Tuntas Kerjasama, bagian dari Beasiswa Kalimantan Timur (BKT), yang mana tidak memungut biaya apapun kepada pesertanya, namun tetap mengalami kesulitan dalam menarik peminat.
Pada tahun 2024, hanya empat kandidat yang berhasil diberangkatkan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim, yang bertindak sebagai pihak seleksi.
Angka ini menurun drastis jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana peminat PKU selalu banyak. Sebagai perbandingan, pada tahun 2020 tercatat ada 19 peserta, 2021 sebanyak 16 orang, 2022 mencapai 20 orang, dan 2023 sebanyak 21 orang, dengan total keseluruhan mencapai 76 peserta dari BKT.
Ketua Pelaksana PKU Kaltim, Bahrani, menyatakan kekhawatirannya atas penurunan minat ini. Penurunan jumlah peminat ini berpotensi mengancam kelangsungan beasiswa yang telah berhasil mencetak bibit ulama dengan orientasi penyebaran agama Islam di Kaltim.
"Tahun ini sepi peminat, yang daftar enam dan setelah kami seleksi, hanya empat. Biasanya yang mendaftar banyak," ujar Bahrani.
Upaya promosi telah dilakukan melalui berbagai media dan pemanfaatan grup WhatsApp alumni, namun hasilnya belum memuaskan. Program ini telah berjalan selama tujuh angkatan dan dianggap telah eksis di Kaltim.
Untuk tahun 2024, kuota PKU Kaltim ditetapkan sebanyak 10 orang. Bahrani menegaskan bahwa penurunan kuota ini bukan disebabkan oleh pengurangan anggaran BKT. Anggaran BKT untuk tahun 2024 adalah sebesar Rp 200 miliar, turun dari anggaran sebelumnya yang mencapai Rp 500 miliar.
"Penurunan kuota bukan karena pengaruh alokasi anggaran. Kami diberikan keleluasaan untuk merekrut lebih banyak peserta, dan hasil evaluasi tahun ini memberikan kuota hanya 10," jelas Bahrani.
Untuk memenuhi kuota itu, walaupun keempat peserta lainnya dari Kaltim sudah berangkat ke Gontor. Bahrani tetap memberikan kesempatan selama seminggu ini untuk mendaftar dan bisa mengikuti program ini.
"Jadi teman-teman yang ingin mendaftar silahkan, masih ada kesempatan selama seminggu ini untuk berpartisipasi, dengan menghubungi kontak yang ada, kami masih terbuka," ajaknya.
Bahrani juga menyatakan keinginannya agar program ini tidak berhenti sampai di sini. Ia bersama pihak BKT berencana melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Universitas Islam Malang (Unisma) untuk program serupa dengan durasi yang lebih panjang dibandingkan PKU Gontor, yaitu satu tahun masa pembelajaran.
(Sf/Rs)