Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi kelapa sawit.(Foto: Istimewa)
Penajam – Hujan dengan intensitas tinggi belakangan ini berdampak pada produktivitas kelapa sawit di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Petani sawit di Desa Babulu Darat, Kecamatan Babulu, Ramadani mengaku sebelum memasuki musim hujan, hasil panen kelapa sawit yang diperoleh di kebun miliknya seluas 2,5 Hektare (Ha) mencapai 2,5 ton.
Tapi semenjak dilanda hujan berkepanjangan membuat produktivitas kelapa sawit menurun, yakni menjadi 1,5 ton dalam sekali panen.
“Semulanya mampu menghasilkan 2,5 ton kelapa sawit, sekarang hanya 1,5 ton saja. Penurunan hasil panen ini karena ada beberapa buah menjadi mudah rontok,” ucap Ramadani, Kamis (23/1/2025).
Bahkan, kata dia, kondisi ini turut berdampak pada harga penjualan kelapa sawit. Biasanya, satu Kilogram (Kg) kelapa sawit dihargai Rp3 ribu, tapi kini menjadi Rp2.500 per Kg karena kualitasnya menurun akibat curah hujan yang tinggi.
Selain itu, akses jalan yang berlumpur dan licin menjadi salah satu tantangan utama yang kerap dihadapi petani sawit saat musim hujan.
Sulitnya akses jalan dapat menghambat mobilitas petani dalam menjual hasil panennya, sehingga dinas terkait pun diharapkan dapat memberikan solusi dan penanganan untuk mengatasi permasalahan ini.
“Saya berharap dinas terkait dapat menindaklanjuti permasalahan yang kerap kita hadapi ini dan semoga cuaca bisa normal dan harga jual kelapa sawit kembali seperti semula,” tandasnya.
(Sf/By)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi kelapa sawit.(Foto: Istimewa)
Penajam – Hujan dengan intensitas tinggi belakangan ini berdampak pada produktivitas kelapa sawit di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).
Petani sawit di Desa Babulu Darat, Kecamatan Babulu, Ramadani mengaku sebelum memasuki musim hujan, hasil panen kelapa sawit yang diperoleh di kebun miliknya seluas 2,5 Hektare (Ha) mencapai 2,5 ton.
Tapi semenjak dilanda hujan berkepanjangan membuat produktivitas kelapa sawit menurun, yakni menjadi 1,5 ton dalam sekali panen.
“Semulanya mampu menghasilkan 2,5 ton kelapa sawit, sekarang hanya 1,5 ton saja. Penurunan hasil panen ini karena ada beberapa buah menjadi mudah rontok,” ucap Ramadani, Kamis (23/1/2025).
Bahkan, kata dia, kondisi ini turut berdampak pada harga penjualan kelapa sawit. Biasanya, satu Kilogram (Kg) kelapa sawit dihargai Rp3 ribu, tapi kini menjadi Rp2.500 per Kg karena kualitasnya menurun akibat curah hujan yang tinggi.
Selain itu, akses jalan yang berlumpur dan licin menjadi salah satu tantangan utama yang kerap dihadapi petani sawit saat musim hujan.
Sulitnya akses jalan dapat menghambat mobilitas petani dalam menjual hasil panennya, sehingga dinas terkait pun diharapkan dapat memberikan solusi dan penanganan untuk mengatasi permasalahan ini.
“Saya berharap dinas terkait dapat menindaklanjuti permasalahan yang kerap kita hadapi ini dan semoga cuaca bisa normal dan harga jual kelapa sawit kembali seperti semula,” tandasnya.
(Sf/By)