Cari disini...
Seputar Kaltim
Revitalisasi pertanian menjadi salah satu solusi untuk tetap memenuhi kebutuhan beras di Kutim. (dok.humas&komunikasiSetkabKutim)
Sangatta – Jumlah luasan tanaman padi gunung di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengalami penurunan drastis dalam 4 tahun terakhir. Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutai Timur, luas lahan tanaman padi gunung 5 tahun sebelumnya mencapai 10 hektare kini menyusut menjadi sekitar 4 ribu hektare pada tahun ini.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Kutai Timur, Dessy Wahyu Fitrisia menjelaskan, penyusutan lahan ini disebabkan oleh perubahan fungsi lahan yang dilakukan oleh para petani di mana padi gunung di Kutim umumnya ditanam dengan sistem perladangan berpindah.
"Padi gunung di sini (Kutim) tidak sama dengan padi yang di Jawa, padi gunung di sini buka lahan, tanam, panen. Setelah panen, lahan sering kali dialihkan untuk perkebunan kelapa sawit," jelasnya.
Pola tanam berpindah ini membuat ketersediaan lahan untuk padi gunung semakin terbatas dan berimbas pada penurunan produksi. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah pusat mencanangkan program penanaman padi gogo guna meningkatkan produksi pangan.
Dalam program ini, Kabupaten Kutim telah mengusulkan sekitar 400 hektare lahan sebagai bagian dari rencana revitalisasi pertanian. Dessy menambahkan bahwa pemerintah juga berupaya menggandeng perusahaan agar mereka dapat menanam padi gogo di lahan-lahan perkebunan mereka.
"Kita menggandeng perusahaan-perusahaan untuk menanam padi gogo di lahan perkebunan mereka, namun saat ini belum diketahui berapa perusahaan yang akan digandeng untuk penanaman padi gogo," tambahnya.
Program ini sendiri jelasnya mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat, termasuk bantuan benih dan pupuk yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah juga berencana mengoptimalisasi sekitar 1.200 hektare lahan agar lebih produktif melalui skema Lahan Pangan Berkelanjutan (LP2B).
(Sf/Mr)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Revitalisasi pertanian menjadi salah satu solusi untuk tetap memenuhi kebutuhan beras di Kutim. (dok.humas&komunikasiSetkabKutim)
Sangatta – Jumlah luasan tanaman padi gunung di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengalami penurunan drastis dalam 4 tahun terakhir. Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutai Timur, luas lahan tanaman padi gunung 5 tahun sebelumnya mencapai 10 hektare kini menyusut menjadi sekitar 4 ribu hektare pada tahun ini.
Kepala Bidang Tanaman Pangan DTPHP Kutai Timur, Dessy Wahyu Fitrisia menjelaskan, penyusutan lahan ini disebabkan oleh perubahan fungsi lahan yang dilakukan oleh para petani di mana padi gunung di Kutim umumnya ditanam dengan sistem perladangan berpindah.
"Padi gunung di sini (Kutim) tidak sama dengan padi yang di Jawa, padi gunung di sini buka lahan, tanam, panen. Setelah panen, lahan sering kali dialihkan untuk perkebunan kelapa sawit," jelasnya.
Pola tanam berpindah ini membuat ketersediaan lahan untuk padi gunung semakin terbatas dan berimbas pada penurunan produksi. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah pusat mencanangkan program penanaman padi gogo guna meningkatkan produksi pangan.
Dalam program ini, Kabupaten Kutim telah mengusulkan sekitar 400 hektare lahan sebagai bagian dari rencana revitalisasi pertanian. Dessy menambahkan bahwa pemerintah juga berupaya menggandeng perusahaan agar mereka dapat menanam padi gogo di lahan-lahan perkebunan mereka.
"Kita menggandeng perusahaan-perusahaan untuk menanam padi gogo di lahan perkebunan mereka, namun saat ini belum diketahui berapa perusahaan yang akan digandeng untuk penanaman padi gogo," tambahnya.
Program ini sendiri jelasnya mendapat dukungan penuh dari pemerintah pusat, termasuk bantuan benih dan pupuk yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah juga berencana mengoptimalisasi sekitar 1.200 hektare lahan agar lebih produktif melalui skema Lahan Pangan Berkelanjutan (LP2B).
(Sf/Mr)