Seputar Kaltim

    Produksi Ikan Tangkap Kaltim Naik 3,5 Persen di Tahun 2023

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    29 Januari 2024 pukul 19:20 WITA

    Usaha perikanan yang ada di Samboja Kutai Kartanegara, terdapat salah satu kapal yang sedang lego jangkar dan perbaikan. (Foto: HO/DPK Provinsi Kaltim)

    Samarinda - Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) melaporkan bahwa produksi ikan tangkap di provinsi tersebut pada tahun 2023 mencapai 182.946 ton, mengalami kenaikan sebesar 3,5 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 176.781 ton.

    "Kami mengapresiasi kinerja para nelayan yang telah berkontribusi dalam meningkatkan produksi ikan tangkap di Kaltim. Ini menunjukkan bahwa sumber daya ikan di wilayah kami masih sangat potensial dan dapat dimanfaatkan secara maksimal," kata Kepala Seksi Pengendalian Penangkapan Ikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim Aspiany di Samarinda, Senin (29/1/2024).

    Aspiany menjelaskan bahwa data produksi ikan tangkap di Kaltim menunjukkan adanya fluktuasi sepanjang tahun 2023. Bulan yang memiliki produksi tertinggi adalah Desember dengan jumlah 16.503 ton, sementara bulan yang memiliki produksi terendah adalah Januari dengan jumlah 14.140 ton.

    "Fluktuasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti cuaca, musim, permintaan pasar, dan kondisi alam. Kami terus melakukan pemantauan dan evaluasi untuk mengoptimalkan produksi ikan tangkap di setiap bulan," ujar Aspiany.

    Ia juga mengatakan bahwa produksi ikan tangkap di Kaltim tidak merata di setiap kabupaten/kota. Kabupaten yang memiliki produksi tertinggi adalah Kutai Kartanegara dengan jumlah 7.141 ton pada bulan Desember 2023, disusul oleh Bontang dengan jumlah 2.141 ton dan Berau dengan jumlah 2.035 ton.

    "Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki keunggulan dalam hal luasnya wilayah perairan dan banyaknya sungai-sungai besar yang menjadi sumber ikan air tawar. Kabupaten Bontang dan Berau memiliki kekayaan ikan laut yang berlimpah, khususnya di sekitar kawasan konservasi laut," papar Aspiany.

    Di sisi lain, kabupaten yang memiliki produksi terkecil adalah Mahakam Ulu dengan jumlah hanya lima ton pada bulan Desember. Aspiany menyebutkan bahwa hal ini disebabkan oleh kendala geografis dan infrastruktur yang belum memadai.

    "Kabupaten Mahakam Ulu merupakan kabupaten yang terletak di perbatasan dengan Malaysia. Akses transportasi dan komunikasi di sana masih sangat terbatas, sehingga menghambat aktivitas perikanan tangkap," tutur Aspiany.

    Aspiany berharap bahwa produksi ikan tangkap di Kaltim dapat terus meningkat di masa depan, dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat. Pihaknya terus berupaya untuk memberikan bantuan dan fasilitas kepada para nelayan, seperti peralatan penangkapan ikan, bahan bakar, asuransi, dan program pembinaan kepada nelayan.

    "Kami juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kelestarian sumber daya ikan dengan tidak melakukan penangkapan ikan secara ilegal, tidak ramah lingkungan, dan tidak berkelanjutan," tutur Aspiany.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Produksi Ikan Tangkap Kaltim Naik 3,5 Persen di Tahun 2023

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    29 Januari 2024 pukul 19:20 WITA

    Usaha perikanan yang ada di Samboja Kutai Kartanegara, terdapat salah satu kapal yang sedang lego jangkar dan perbaikan. (Foto: HO/DPK Provinsi Kaltim)

    Samarinda - Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) melaporkan bahwa produksi ikan tangkap di provinsi tersebut pada tahun 2023 mencapai 182.946 ton, mengalami kenaikan sebesar 3,5 persen dari tahun sebelumnya yang hanya 176.781 ton.

    "Kami mengapresiasi kinerja para nelayan yang telah berkontribusi dalam meningkatkan produksi ikan tangkap di Kaltim. Ini menunjukkan bahwa sumber daya ikan di wilayah kami masih sangat potensial dan dapat dimanfaatkan secara maksimal," kata Kepala Seksi Pengendalian Penangkapan Ikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kaltim Aspiany di Samarinda, Senin (29/1/2024).

    Aspiany menjelaskan bahwa data produksi ikan tangkap di Kaltim menunjukkan adanya fluktuasi sepanjang tahun 2023. Bulan yang memiliki produksi tertinggi adalah Desember dengan jumlah 16.503 ton, sementara bulan yang memiliki produksi terendah adalah Januari dengan jumlah 14.140 ton.

    "Fluktuasi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti cuaca, musim, permintaan pasar, dan kondisi alam. Kami terus melakukan pemantauan dan evaluasi untuk mengoptimalkan produksi ikan tangkap di setiap bulan," ujar Aspiany.

    Ia juga mengatakan bahwa produksi ikan tangkap di Kaltim tidak merata di setiap kabupaten/kota. Kabupaten yang memiliki produksi tertinggi adalah Kutai Kartanegara dengan jumlah 7.141 ton pada bulan Desember 2023, disusul oleh Bontang dengan jumlah 2.141 ton dan Berau dengan jumlah 2.035 ton.

    "Kabupaten Kutai Kartanegara memiliki keunggulan dalam hal luasnya wilayah perairan dan banyaknya sungai-sungai besar yang menjadi sumber ikan air tawar. Kabupaten Bontang dan Berau memiliki kekayaan ikan laut yang berlimpah, khususnya di sekitar kawasan konservasi laut," papar Aspiany.

    Di sisi lain, kabupaten yang memiliki produksi terkecil adalah Mahakam Ulu dengan jumlah hanya lima ton pada bulan Desember. Aspiany menyebutkan bahwa hal ini disebabkan oleh kendala geografis dan infrastruktur yang belum memadai.

    "Kabupaten Mahakam Ulu merupakan kabupaten yang terletak di perbatasan dengan Malaysia. Akses transportasi dan komunikasi di sana masih sangat terbatas, sehingga menghambat aktivitas perikanan tangkap," tutur Aspiany.

    Aspiany berharap bahwa produksi ikan tangkap di Kaltim dapat terus meningkat di masa depan, dengan dukungan dari pemerintah dan masyarakat. Pihaknya terus berupaya untuk memberikan bantuan dan fasilitas kepada para nelayan, seperti peralatan penangkapan ikan, bahan bakar, asuransi, dan program pembinaan kepada nelayan.

    "Kami juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kelestarian sumber daya ikan dengan tidak melakukan penangkapan ikan secara ilegal, tidak ramah lingkungan, dan tidak berkelanjutan," tutur Aspiany.

    (Sf/Rs)