Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala Diskan Berau, Abdul Majid. (Foto: Baiq Eliana/sepurarfakta.com)
Tanjung Redeb - Produksi bibit udang windu di hatchery SMK 3 Perikanan Tanjung Batu, Kabupaten Berau masih belum mampu memenuhi kebutuhan petambak lokal yang terus meningkat.
Keterbatasan kapasitas produksi membuat sebagian petambak masih bergantung pada bibit dari luar daerah.
Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Abdul Majid mengatakan selama ini petambak di Berau masih banyak mengambil bibit dari luar daerah seperti Tarakan dan Pulau Jawa. Namun, pemerintah daerah bersama YKAN dan SMK 3 Perikanan Tanjung Batu telah mengembangkan hatchery untuk menyediakan bibit lokal yang berkualitas.
"Alhamdulillah kerja sama kita dengan YKAN dan SMK 3 Perikanan Tanjung Batu, hatchery ini sudah mulai berproduksi dan dengan tim lima orang yang tenaga dan sebagainya, ternyata kualitasnya lebih bagus daripada dari luar," ujar Majid.
Ia mengatakan hatchery SMK 3 Perikanan Tanjung Batu pun kewalahan karena permintaan yang cukup tinggi sedangkan produksi benur di hatchery tersebut masih tergolong terbatas. Kapasitas produksi saat ini hanya sekitar dua juta ekor per tahun, sementara kebutuhan petambak di Berau diperkirakan mencapai 10-20 juta ekor per tahun.
"Ternyata permintaannya melonjak 10 sampai 20 juta per tahun. Sementara kemampuan produksi di SMK 3 kemarin baru sekitar dua juta saja," katanya.
Salah satu keunggulan bibit lokal dari Tanjung Batu adalah tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi dibandingkan bibit dari luar. Ia menyebut bibit dari luar daerah memiliki tingkat mortalitas yang cukup tinggi akibat proses pengiriman.
"Kalau dari Tarakan dan luar itu tingkat mortalitasnya bisa 50 sampai 70 persen karena pengantaran dan sebagainya," jelasnya.
Ia juga menilai, bibit hasil hatchery Tanjung Batu mulai diminati petambak karena lebih tahan saat ditebar di tambak. Namun, keterbatasan produksi membuat belum semua permintaan bisa terpenuhi.
"Alhamdulillah diminati petani tambak kita, walaupun produksinya masih belum sebesar yang diharapkan," tambahnya.
Melihat tingginya permintaan, pemerintah daerah berencana mengembangkan kembali fasilitas hatchery dengan menambah tempat peneluran dan kapasitas produksi. Hal tersebut akan dibahas lebih lanjut dengan pihak terkait.
"Insyaallah untuk penambahan kemungkinan mereka akan menambah lagi tempat penelurannya itu. Karena kapasitas tempatnya masih kurang. Mudah-mudahan nanti ke depan dari program yang ada mungkin bisa tambah lagi. Karena luas tempat di SMK 3 masih ada," tuturnya.
Majid pun menegaskan untuk saat ini pembibitan udang windu tersebut difokuskan untuk memenuhi permintaan kebutuhan petambak lokal terlebih dahulu, sehingga untuk ekspor pembibitan ke luar daerah tersebut belum bisa dilakukan.
"Hatchery udang windu di Berau ini baru ada di Tanjung Batu saja. Jadi untuk ekspor keluar kita juga belum bisa karena permintaan dari petambak sini aja kita masih kewalahan. Fokus kita di dalam dulu," tandasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala Diskan Berau, Abdul Majid. (Foto: Baiq Eliana/sepurarfakta.com)
Tanjung Redeb - Produksi bibit udang windu di hatchery SMK 3 Perikanan Tanjung Batu, Kabupaten Berau masih belum mampu memenuhi kebutuhan petambak lokal yang terus meningkat.
Keterbatasan kapasitas produksi membuat sebagian petambak masih bergantung pada bibit dari luar daerah.
Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Berau, Abdul Majid mengatakan selama ini petambak di Berau masih banyak mengambil bibit dari luar daerah seperti Tarakan dan Pulau Jawa. Namun, pemerintah daerah bersama YKAN dan SMK 3 Perikanan Tanjung Batu telah mengembangkan hatchery untuk menyediakan bibit lokal yang berkualitas.
"Alhamdulillah kerja sama kita dengan YKAN dan SMK 3 Perikanan Tanjung Batu, hatchery ini sudah mulai berproduksi dan dengan tim lima orang yang tenaga dan sebagainya, ternyata kualitasnya lebih bagus daripada dari luar," ujar Majid.
Ia mengatakan hatchery SMK 3 Perikanan Tanjung Batu pun kewalahan karena permintaan yang cukup tinggi sedangkan produksi benur di hatchery tersebut masih tergolong terbatas. Kapasitas produksi saat ini hanya sekitar dua juta ekor per tahun, sementara kebutuhan petambak di Berau diperkirakan mencapai 10-20 juta ekor per tahun.
"Ternyata permintaannya melonjak 10 sampai 20 juta per tahun. Sementara kemampuan produksi di SMK 3 kemarin baru sekitar dua juta saja," katanya.
Salah satu keunggulan bibit lokal dari Tanjung Batu adalah tingkat kelangsungan hidup yang lebih tinggi dibandingkan bibit dari luar. Ia menyebut bibit dari luar daerah memiliki tingkat mortalitas yang cukup tinggi akibat proses pengiriman.
"Kalau dari Tarakan dan luar itu tingkat mortalitasnya bisa 50 sampai 70 persen karena pengantaran dan sebagainya," jelasnya.
Ia juga menilai, bibit hasil hatchery Tanjung Batu mulai diminati petambak karena lebih tahan saat ditebar di tambak. Namun, keterbatasan produksi membuat belum semua permintaan bisa terpenuhi.
"Alhamdulillah diminati petani tambak kita, walaupun produksinya masih belum sebesar yang diharapkan," tambahnya.
Melihat tingginya permintaan, pemerintah daerah berencana mengembangkan kembali fasilitas hatchery dengan menambah tempat peneluran dan kapasitas produksi. Hal tersebut akan dibahas lebih lanjut dengan pihak terkait.
"Insyaallah untuk penambahan kemungkinan mereka akan menambah lagi tempat penelurannya itu. Karena kapasitas tempatnya masih kurang. Mudah-mudahan nanti ke depan dari program yang ada mungkin bisa tambah lagi. Karena luas tempat di SMK 3 masih ada," tuturnya.
Majid pun menegaskan untuk saat ini pembibitan udang windu tersebut difokuskan untuk memenuhi permintaan kebutuhan petambak lokal terlebih dahulu, sehingga untuk ekspor pembibitan ke luar daerah tersebut belum bisa dilakukan.
"Hatchery udang windu di Berau ini baru ada di Tanjung Batu saja. Jadi untuk ekspor keluar kita juga belum bisa karena permintaan dari petambak sini aja kita masih kewalahan. Fokus kita di dalam dulu," tandasnya.
(Sf/Lo)