Seputar Kaltim

    Produksi Beras Lokal di Kutim Masih Rendah, DTPHP Bangun Penangkaran Padi di Long Mesangat

    Penulis:*/Lisda|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Teks: Kepala Bidang Tanaman Pangan pada DTPHP Kutim, Dessy Wahyu Futrisia. (foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta -   Kecamatan Long Mesangat di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), kini menjadi sentra produksi padi yang memiliki peran penting dalam ketahanan pangan daerah bersama dua kecamatan lainnya seperti Kaubun dan Kongbeng.

    Kepala Bidang Tanaman Pangan pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dessy Wahyu Futrisia, mengungkapkan bahwa saat ini luas lahan sawah di Long Mesangat yang siap panen mencapai sekitar 70 hektare. Adapun jenis padi yang ditanam adalah mekongga, yang terkenal karena sertifikasi dan kualitasnya yang unggul.

    "Saat ini di Long Mesangat juga sedang dibangun penangkaran padi seluas 2,5 hektare. Penangkaran ini bertujuan untuk menyediakan benih padi berkualitas, yang nantinya akan disebarkan dan ditanam oleh kelompok tani setempat," ujar Dessy pada Senin (17/2/2025).

    Dia menjelaskan, dengan penangkaran padi ini pihaknya berharap dapat meningkatkan produktivitas pertanian di daerah tersebut. Tahun lalu saja, hasil panen padi di Long Mesangat mencapai 6,5 ton per hektare, berkat penggunaan benih berkualitas.

    Dia mengakui, kebutuhan beras di Kutim masih jauh dari tercapai. Dessy mencatat, produksi beras lokal hanya mencukupi sekitar 14-20 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan beras di daerah tersebut mencapai 38 ribu ton per tahun. "Saat ini, kita masih kekurangan sekitar 36 ribu ton beras, yang sebagian besar dipenuhi melalui impor dari daerah lain," jelasnya.

    Sebagai langkah untuk mengoptimalkan produksi beras, pemerintah telah mengalokasikan dana APBN untuk mengoptimalkan sekitar 230 hektare lahan sawah yang ada. Jika program ini berhasil, diharapkan dapat menambah luasan lahan sawah yang produktif, sehingga membantu mencapai target swasembada pangan di Kutim. Dengan adanya program pengoptimalan ini pula, pihaknya berharap dapat meningkatkan kapasitas produksi dan mengurangi ketergantungan daerah ini pada impor beras.

    (Sf/Mr)

    Seputar Kaltim

    Produksi Beras Lokal di Kutim Masih Rendah, DTPHP Bangun Penangkaran Padi di Long Mesangat

    Penulis:*/Lisda|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Teks: Kepala Bidang Tanaman Pangan pada DTPHP Kutim, Dessy Wahyu Futrisia. (foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta -   Kecamatan Long Mesangat di Kabupaten Kutai Timur (Kutim), kini menjadi sentra produksi padi yang memiliki peran penting dalam ketahanan pangan daerah bersama dua kecamatan lainnya seperti Kaubun dan Kongbeng.

    Kepala Bidang Tanaman Pangan pada Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dessy Wahyu Futrisia, mengungkapkan bahwa saat ini luas lahan sawah di Long Mesangat yang siap panen mencapai sekitar 70 hektare. Adapun jenis padi yang ditanam adalah mekongga, yang terkenal karena sertifikasi dan kualitasnya yang unggul.

    "Saat ini di Long Mesangat juga sedang dibangun penangkaran padi seluas 2,5 hektare. Penangkaran ini bertujuan untuk menyediakan benih padi berkualitas, yang nantinya akan disebarkan dan ditanam oleh kelompok tani setempat," ujar Dessy pada Senin (17/2/2025).

    Dia menjelaskan, dengan penangkaran padi ini pihaknya berharap dapat meningkatkan produktivitas pertanian di daerah tersebut. Tahun lalu saja, hasil panen padi di Long Mesangat mencapai 6,5 ton per hektare, berkat penggunaan benih berkualitas.

    Dia mengakui, kebutuhan beras di Kutim masih jauh dari tercapai. Dessy mencatat, produksi beras lokal hanya mencukupi sekitar 14-20 ribu ton per tahun, sementara kebutuhan beras di daerah tersebut mencapai 38 ribu ton per tahun. "Saat ini, kita masih kekurangan sekitar 36 ribu ton beras, yang sebagian besar dipenuhi melalui impor dari daerah lain," jelasnya.

    Sebagai langkah untuk mengoptimalkan produksi beras, pemerintah telah mengalokasikan dana APBN untuk mengoptimalkan sekitar 230 hektare lahan sawah yang ada. Jika program ini berhasil, diharapkan dapat menambah luasan lahan sawah yang produktif, sehingga membantu mencapai target swasembada pangan di Kutim. Dengan adanya program pengoptimalan ini pula, pihaknya berharap dapat meningkatkan kapasitas produksi dan mengurangi ketergantungan daerah ini pada impor beras.

    (Sf/Mr)