Seputar Kaltim

    Produksi 9 Ribu Ton, Diskan PPU Siapkan Demplot Bibit Baru untuk Tingkatkan Kualitas Rumput Laut

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    11 September 2026 pukul 17:43 WITA

    Rumput laut jenis Gracilaria dijemur setelah dipanen di tambak Babulu Laut, PPU. (Dok. Diskan PPU)

    Penajam - Produksi rumput laut di Penajam Paser Utara (PPU) mencapai sekitar 9 ribu ton. Komoditas jenis Gracilaria yang mayoritas dibudidayakan di tambak itu terkonsentrasi di wilayah Babulu Laut.

    Kepala Dinas Perikanan (Diskan) PPU, Andi Trasodiharto, mengatakan produksi tersebut masih bisa ditingkatkan jika penanganan setelah panen diperbaiki. Selama ini, kualitas rumput laut kerap turun akibat proses pembersihan dan pengeringan yang belum optimal.

    "Penanganan tidak bagus, kualitas rumput jadi laut turun. Ketika kualitas rendah, harga jual juga ikut rendah," kata Andi, Kamis (10/9/2026).

    Persoalan itu terutama terjadi saat panen, mulai dari membersihkan lumpur yang menempel hingga proses penjemuran. Rumput laut yang telah dipanen selama ini masih mengandalkan panas matahari untuk pengeringan sebelum dijual dalam kondisi kering.

    Dinas Perikanan PPU berencana melakukan demplot di Babulu Laut bersama pemerintah desa. Salah satu yang disiapkan ialah penggunaan bibit baru dengan genetik tertentu untuk melihat peluang peningkatan produksi sekaligus menjaga kualitas.

    "Kami akan mencoba membuat demplot bersama kepala desa dengan bibit baru dan genetik tertentu. Dari situ nanti kami lihat apakah produksi rata-rata bisa meningkat," ujarnya.

    Menurut Andi, pengembangan sentra bibit juga dibutuhkan agar pembudidaya tidak terus bergantung pada bibit yang kualitasnya berpotensi menurun. Peningkatan kemampuan pembudidaya menjadi bagian lain yang akan diperkuat.

    Dinas Perikanan juga bersiap menggandeng Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Mulawarman untuk mengkaji pengembangan rumput laut di PPU. Kajian itu diharapkan menjadi dasar pendampingan dan pengembangan budidaya ke depan.

    Rumput laut PPU umumnya dipasarkan dalam bentuk kering. Setelah dijemur dan dikemas, hasil produksi dikirim ke pasar di Sulawesi dan Surabaya.

    Pemkab PPU juga membuka peluang kerja sama dengan pemodal untuk membangun fasilitas pengeringan sekaligus menyerap hasil rumput laut pembudidaya.

    "Harapannya ada pengering yang lebih baik sekaligus pihak yang bisa membeli hasil rumput laut kita. Selama ini pengeringannya masih mengandalkan matahari," kata dia.

    Andi mengatakan perbaikan pascapanen menjadi penting agar produksi yang sudah besar bisa memberikan nilai jual lebih baik bagi pembudidaya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Produksi 9 Ribu Ton, Diskan PPU Siapkan Demplot Bibit Baru untuk Tingkatkan Kualitas Rumput Laut

    Penulis:Cindy|Redaktur:Lodya A
    11 September 2026 pukul 17:43 WITA

    Rumput laut jenis Gracilaria dijemur setelah dipanen di tambak Babulu Laut, PPU. (Dok. Diskan PPU)

    Penajam - Produksi rumput laut di Penajam Paser Utara (PPU) mencapai sekitar 9 ribu ton. Komoditas jenis Gracilaria yang mayoritas dibudidayakan di tambak itu terkonsentrasi di wilayah Babulu Laut.

    Kepala Dinas Perikanan (Diskan) PPU, Andi Trasodiharto, mengatakan produksi tersebut masih bisa ditingkatkan jika penanganan setelah panen diperbaiki. Selama ini, kualitas rumput laut kerap turun akibat proses pembersihan dan pengeringan yang belum optimal.

    "Penanganan tidak bagus, kualitas rumput jadi laut turun. Ketika kualitas rendah, harga jual juga ikut rendah," kata Andi, Kamis (10/9/2026).

    Persoalan itu terutama terjadi saat panen, mulai dari membersihkan lumpur yang menempel hingga proses penjemuran. Rumput laut yang telah dipanen selama ini masih mengandalkan panas matahari untuk pengeringan sebelum dijual dalam kondisi kering.

    Dinas Perikanan PPU berencana melakukan demplot di Babulu Laut bersama pemerintah desa. Salah satu yang disiapkan ialah penggunaan bibit baru dengan genetik tertentu untuk melihat peluang peningkatan produksi sekaligus menjaga kualitas.

    "Kami akan mencoba membuat demplot bersama kepala desa dengan bibit baru dan genetik tertentu. Dari situ nanti kami lihat apakah produksi rata-rata bisa meningkat," ujarnya.

    Menurut Andi, pengembangan sentra bibit juga dibutuhkan agar pembudidaya tidak terus bergantung pada bibit yang kualitasnya berpotensi menurun. Peningkatan kemampuan pembudidaya menjadi bagian lain yang akan diperkuat.

    Dinas Perikanan juga bersiap menggandeng Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Mulawarman untuk mengkaji pengembangan rumput laut di PPU. Kajian itu diharapkan menjadi dasar pendampingan dan pengembangan budidaya ke depan.

    Rumput laut PPU umumnya dipasarkan dalam bentuk kering. Setelah dijemur dan dikemas, hasil produksi dikirim ke pasar di Sulawesi dan Surabaya.

    Pemkab PPU juga membuka peluang kerja sama dengan pemodal untuk membangun fasilitas pengeringan sekaligus menyerap hasil rumput laut pembudidaya.

    "Harapannya ada pengering yang lebih baik sekaligus pihak yang bisa membeli hasil rumput laut kita. Selama ini pengeringannya masih mengandalkan matahari," kata dia.

    Andi mengatakan perbaikan pascapanen menjadi penting agar produksi yang sudah besar bisa memberikan nilai jual lebih baik bagi pembudidaya.

    (Sf/Lo)