Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Bontang - Angka anemia pada remaja putri di Kota Bontang masih cukup tinggi, yakni mencapai 21,54 persen.
Dari total 11.970 remaja putri, hanya 8.033 anak atau 67 persen yang rutin mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), minimal 26 tablet per tahun.
Menghadapi hal tersebut, Dinas Kesehatan Kota (Dinkes) Bontang terus berupaya menggencarkan berbagi program menangani anemia di kalangan pelajar putri.
Kepala Dinkes Bontang, Bachtiar Mabe mengatakan upaya penanganan anemia di kalangan remaja putri di sekolah, dilakukan saah satunya dengan aksi minum TTD satu minggu sekali.
“Kita masih menghadapi tantangan serius dalam pencegahan anemia pada remaja putri dan kita terus lakukan program untuk mengatasi hal ini,” kata Bachtiar Mabe.
Ia mengatakan hampir sepertiga remaja putri belum rutin mengonsumsi TTD yang menjadi salah satu upaya utama pemerintah untuk menekan anemia.
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Bontang, Bambang Sri Mulyono mengatakan dampak anemia pada remaja banyak mempengaruhi kesehatan fisik hingga aktivitas belajar pada peserta didik.
“Anemia tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memengaruhi kemampuan belajar, konsentrasi dan tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Bambang menambahkan pengawasan ketat terhadap konsumsi TTD dan edukasi gizi berkelanjutan menjadi kunci menurunkan angka anemia.
Ia menyoroti perlunya strategi lebih intensif agar seluruh remaja putri di Bontang dapat mengonsumsi TTD secara rutin dan mendapatkan asupan gizi yang cukup.
“Remaja putri sebaiknya minum TTD setiap satu minggu sekali,” tandasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi. (Foto: Freepik)
Bontang - Angka anemia pada remaja putri di Kota Bontang masih cukup tinggi, yakni mencapai 21,54 persen.
Dari total 11.970 remaja putri, hanya 8.033 anak atau 67 persen yang rutin mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), minimal 26 tablet per tahun.
Menghadapi hal tersebut, Dinas Kesehatan Kota (Dinkes) Bontang terus berupaya menggencarkan berbagi program menangani anemia di kalangan pelajar putri.
Kepala Dinkes Bontang, Bachtiar Mabe mengatakan upaya penanganan anemia di kalangan remaja putri di sekolah, dilakukan saah satunya dengan aksi minum TTD satu minggu sekali.
“Kita masih menghadapi tantangan serius dalam pencegahan anemia pada remaja putri dan kita terus lakukan program untuk mengatasi hal ini,” kata Bachtiar Mabe.
Ia mengatakan hampir sepertiga remaja putri belum rutin mengonsumsi TTD yang menjadi salah satu upaya utama pemerintah untuk menekan anemia.
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Bontang, Bambang Sri Mulyono mengatakan dampak anemia pada remaja banyak mempengaruhi kesehatan fisik hingga aktivitas belajar pada peserta didik.
“Anemia tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga memengaruhi kemampuan belajar, konsentrasi dan tumbuh kembang anak,” ujarnya.
Bambang menambahkan pengawasan ketat terhadap konsumsi TTD dan edukasi gizi berkelanjutan menjadi kunci menurunkan angka anemia.
Ia menyoroti perlunya strategi lebih intensif agar seluruh remaja putri di Bontang dapat mengonsumsi TTD secara rutin dan mendapatkan asupan gizi yang cukup.
“Remaja putri sebaiknya minum TTD setiap satu minggu sekali,” tandasnya.
(Sf/Lo)