Seputar Fakta

    Seputar Kaltim

    PPU Tak Punya Sumber Air Baku, DPRD Ingatkan Embung Tak Cukup Hadapi Kemarau Panjang

    Penulis:Cindy Elysa|Redaktur:Rusdianto
    07 November 2026 pukul 21:10 WITA

    Anggota Komisi II DPRD PPU, Zainal Arifin. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan bertahan hingga awal tahun 2027, menjadi perhatian DPRD Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). 

    Ketersediaan cadangan air dinilai masih menjadi persoalan karena daerah ini belum memiliki sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

    Anggota Komisi II DPRD PPU, Zainal Arifin, mengatakan penyiapan embung menjadi salah satu upaya menghadapi potensi kekeringan. Pemkab PPU sendiri telah menyiapkan kolam retensi di Lawe-Lawe seluas sekitar 17 hektare.

    Namun, menurut Zainal, embung belum bisa diandalkan sebagai solusi jangka panjang. Air yang tertampung berpotensi berkurang akibat penguapan dan meresap ke tanah saat musim kemarau.

    "Embung tetap diperlukan sebagai bagian dari upaya menyimpan cadangan air. Tetapi, kemampuan tampungnya tidak bisa menjamin kebutuhan dalam jangka panjang, apalagi ketika kemarau panjang," kata Zainal, belum lama ini.

    Ia menyebut persoalan air bersih di PPU berulang setiap tahun karena daerah belum memiliki sumber air baku. Pemenuhan kebutuhan selama ini masih mengandalkan air tanah yang dinilai hanya mampu membantu mengatasi kebutuhan secara terbatas.

    Zainal juga mengingatkan rencana pemanfaatan bendung di Sepaku yang dahulu diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan air hingga 50 tahun dan berpotensi memasok air ke Balikpapan. 

    Rencana tersebut kemudian berubah setelah kawasan bendung masuk dalam pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).

    "Air tanah itu bisa sedikit mengatasi. Kalau dulu, upaya kita mengandalkan Bendung di Sepaku. Ada dua alternatif, apakah mengambil dari Sungai Mahakam atau melalui bendung itu," kata dia. 

    Adapun rencana Bendungan Lambakan yang pernah disebut masuk program nasional pembangunan 65 bendungan hingga kini belum memiliki kejelasan kelanjutan. 

    Bendungan Waru juga dinilai belum mampu menjadi solusi jangka panjang, meski kapasitasnya masih dapat dioptimalkan melalui pengerukan.

    Zainal meminta pemerintah daerah menyiapkan alternatif pasokan air yang berkelanjutan agar PPU tidak terus bergantung pada air tanah dan tampungan embung saat menghadapi musim kering.

    "PPU kan berbeda dengan Paser, Balikpapan, Samarinda. Kita tidak punya sumber air baku. Memang harus ada solusi jangka panjang," ujarnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    PPU Tak Punya Sumber Air Baku, DPRD Ingatkan Embung Tak Cukup Hadapi Kemarau Panjang

    Penulis:Cindy Elysa|Redaktur:Rusdianto
    07 November 2026 pukul 21:10 WITA

    Anggota Komisi II DPRD PPU, Zainal Arifin. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Nino yang menurut prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan bertahan hingga awal tahun 2027, menjadi perhatian DPRD Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). 

    Ketersediaan cadangan air dinilai masih menjadi persoalan karena daerah ini belum memiliki sumber air baku untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

    Anggota Komisi II DPRD PPU, Zainal Arifin, mengatakan penyiapan embung menjadi salah satu upaya menghadapi potensi kekeringan. Pemkab PPU sendiri telah menyiapkan kolam retensi di Lawe-Lawe seluas sekitar 17 hektare.

    Namun, menurut Zainal, embung belum bisa diandalkan sebagai solusi jangka panjang. Air yang tertampung berpotensi berkurang akibat penguapan dan meresap ke tanah saat musim kemarau.

    "Embung tetap diperlukan sebagai bagian dari upaya menyimpan cadangan air. Tetapi, kemampuan tampungnya tidak bisa menjamin kebutuhan dalam jangka panjang, apalagi ketika kemarau panjang," kata Zainal, belum lama ini.

    Ia menyebut persoalan air bersih di PPU berulang setiap tahun karena daerah belum memiliki sumber air baku. Pemenuhan kebutuhan selama ini masih mengandalkan air tanah yang dinilai hanya mampu membantu mengatasi kebutuhan secara terbatas.

    Zainal juga mengingatkan rencana pemanfaatan bendung di Sepaku yang dahulu diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan air hingga 50 tahun dan berpotensi memasok air ke Balikpapan. 

    Rencana tersebut kemudian berubah setelah kawasan bendung masuk dalam pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).

    "Air tanah itu bisa sedikit mengatasi. Kalau dulu, upaya kita mengandalkan Bendung di Sepaku. Ada dua alternatif, apakah mengambil dari Sungai Mahakam atau melalui bendung itu," kata dia. 

    Adapun rencana Bendungan Lambakan yang pernah disebut masuk program nasional pembangunan 65 bendungan hingga kini belum memiliki kejelasan kelanjutan. 

    Bendungan Waru juga dinilai belum mampu menjadi solusi jangka panjang, meski kapasitasnya masih dapat dioptimalkan melalui pengerukan.

    Zainal meminta pemerintah daerah menyiapkan alternatif pasokan air yang berkelanjutan agar PPU tidak terus bergantung pada air tanah dan tampungan embung saat menghadapi musim kering.

    "PPU kan berbeda dengan Paser, Balikpapan, Samarinda. Kita tidak punya sumber air baku. Memang harus ada solusi jangka panjang," ujarnya.

    (Sf/Lo)