Seputar Kaltim

    Potensi Laut Melimpah, Wabup Berau Tekankan Pentingnya Pengelolaan Cerdas

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    29 September 2025 pukul 12:36 WITA

    Wakil Bupati Berau, Gamalis. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb – Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dikenal sebagai salah satu daerah dengan kekayaan laut yang melimpah. Diketahui daerah pesisir Kabupaten Berau pun dihiasi deretan pulau eksotis seperti Derawan, Maratua, hingga Biduk-Biduk, perairan Berau tak hanya menjadi magnet wisatawan, tetapi juga sumber penghidupan utama bagi ribuan nelayan lokal.

    Meski begitu, potensi besar tersebut masih terdapat berbagai tantangan yang menghambat sektor kelautan dan perikanan yang menjadi motor penggerak utama ekonomi daerah.

    Wakil Bupati (Wabup) Berau, Gamalis, menyampaikan bahwa kunci keberhasilan pengembangan sektor kelautan tidak hanya bergantung pada kekayaan alam, tetapi juga pada strategi pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan.

    "Perikanan adalah masa depan Berau. Kita dianugerahi laut yang luas dan kaya, tetapi kalau tidak kita kelola secara cerdas dan bertanggung jawab, potensi itu bisa hilang begitu saja," ujar Gamalis.

    Berdasarkan data Dinas Perikanan Kabupaten Berau, terdapat lebih dari 1.200 nelayan aktif yang tersebar di kawasan pesisir. Sayangnya, sebagian besar dari mereka masih mengandalkan perahu kecil dan alat tangkap tradisional, dengan hasil tangkapan yang umumnya hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal.

    Sehingganya, Wabup pun menyoroti keterbatasan nelayan tersebut dalam mengakses peralatan modern, fasilitas penyimpanan hasil tangkapan, dan distribusi ke pasar yang lebih luas sebagai hambatan utama dalam meningkatkan nilai ekonomi perikanan lokal.

    "Ini menjadi salah satu faktor yang membatasi nilai ekonomi dari potensi laut Berau," tuturnya.

    Dimana, menurutnya kondisi ini pun menjadikan posisi nelayan cukup rentan. Ia menilai, para nelayan kerap kali menghadapi fluktuasi harga jual ikan yang tidak sebanding dengan biaya operasional yang terus meningkat, seperti bahan bakar dan perawatan perahu.

    Selain keterbatasan infrastruktur, praktik penangkapan ikan secara ilegal dan destruktif seperti penggunaan bom dan racun ikan juga masih menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan ekosistem laut di Berau.

    "Kami bersama aparat terkait terus memperketat pengawasan. Namun, yang tak kalah penting adalah edukasi kepada masyarakat. Nelayan harus paham bahwa kelestarian laut berarti kelangsungan hidup mereka sendiri," tegasnya.

    Oleh karena itu, untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mulai menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah mendorong tumbuhnya industri pengolahan hasil laut di tingkat lokal, seperti pengalengan, fillet, atau produk olahan lainnya.

    "Dengan begitu, nelayan tak hanya menjadi penangkap, tetapi juga bagian dari rantai ekonomi yang lebih besar," katanya.

    Selain itu, Pemkab Berau juga mengembangkan konsep ekowisata bahari berbasis perikanan tradisional, yang menggabungkan potensi kelautan dan budaya maritim masyarakat pesisir sebagai daya tarik wisata.

    "Kekuatan Berau tidak hanya pada hasil lautnya, tetapi juga pada budaya baharinya. Ini bisa jadi daya tarik wisata yang luar biasa kalau kita kemas dengan baik," tambahnya.

    Dirinya berharap wisatawan nantinya tidak hanya dapat menikmati keindahan laut, tetapi juga berinteraksi langsung dengan kehidupan nelayan, mencicipi hasil laut segar, dan belajar mengenai kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

    Sehingganya, Gamalis menekankan bahwa pembangunan sektor kelautan dan perikanan tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah, melainkan harus melibatkan seluruh elemen, termasuk pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat.

    "Laut adalah kehidupan. Kalau kita jaga bersama, manfaatnya akan kembali untuk anak cucu kita nanti," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Potensi Laut Melimpah, Wabup Berau Tekankan Pentingnya Pengelolaan Cerdas

    Penulis:Baiq Eliana|Redaktur:Rusdianto
    29 September 2025 pukul 12:36 WITA

    Wakil Bupati Berau, Gamalis. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)

    Tanjung Redeb – Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dikenal sebagai salah satu daerah dengan kekayaan laut yang melimpah. Diketahui daerah pesisir Kabupaten Berau pun dihiasi deretan pulau eksotis seperti Derawan, Maratua, hingga Biduk-Biduk, perairan Berau tak hanya menjadi magnet wisatawan, tetapi juga sumber penghidupan utama bagi ribuan nelayan lokal.

    Meski begitu, potensi besar tersebut masih terdapat berbagai tantangan yang menghambat sektor kelautan dan perikanan yang menjadi motor penggerak utama ekonomi daerah.

    Wakil Bupati (Wabup) Berau, Gamalis, menyampaikan bahwa kunci keberhasilan pengembangan sektor kelautan tidak hanya bergantung pada kekayaan alam, tetapi juga pada strategi pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan.

    "Perikanan adalah masa depan Berau. Kita dianugerahi laut yang luas dan kaya, tetapi kalau tidak kita kelola secara cerdas dan bertanggung jawab, potensi itu bisa hilang begitu saja," ujar Gamalis.

    Berdasarkan data Dinas Perikanan Kabupaten Berau, terdapat lebih dari 1.200 nelayan aktif yang tersebar di kawasan pesisir. Sayangnya, sebagian besar dari mereka masih mengandalkan perahu kecil dan alat tangkap tradisional, dengan hasil tangkapan yang umumnya hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal.

    Sehingganya, Wabup pun menyoroti keterbatasan nelayan tersebut dalam mengakses peralatan modern, fasilitas penyimpanan hasil tangkapan, dan distribusi ke pasar yang lebih luas sebagai hambatan utama dalam meningkatkan nilai ekonomi perikanan lokal.

    "Ini menjadi salah satu faktor yang membatasi nilai ekonomi dari potensi laut Berau," tuturnya.

    Dimana, menurutnya kondisi ini pun menjadikan posisi nelayan cukup rentan. Ia menilai, para nelayan kerap kali menghadapi fluktuasi harga jual ikan yang tidak sebanding dengan biaya operasional yang terus meningkat, seperti bahan bakar dan perawatan perahu.

    Selain keterbatasan infrastruktur, praktik penangkapan ikan secara ilegal dan destruktif seperti penggunaan bom dan racun ikan juga masih menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan ekosistem laut di Berau.

    "Kami bersama aparat terkait terus memperketat pengawasan. Namun, yang tak kalah penting adalah edukasi kepada masyarakat. Nelayan harus paham bahwa kelestarian laut berarti kelangsungan hidup mereka sendiri," tegasnya.

    Oleh karena itu, untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mulai menyiapkan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah mendorong tumbuhnya industri pengolahan hasil laut di tingkat lokal, seperti pengalengan, fillet, atau produk olahan lainnya.

    "Dengan begitu, nelayan tak hanya menjadi penangkap, tetapi juga bagian dari rantai ekonomi yang lebih besar," katanya.

    Selain itu, Pemkab Berau juga mengembangkan konsep ekowisata bahari berbasis perikanan tradisional, yang menggabungkan potensi kelautan dan budaya maritim masyarakat pesisir sebagai daya tarik wisata.

    "Kekuatan Berau tidak hanya pada hasil lautnya, tetapi juga pada budaya baharinya. Ini bisa jadi daya tarik wisata yang luar biasa kalau kita kemas dengan baik," tambahnya.

    Dirinya berharap wisatawan nantinya tidak hanya dapat menikmati keindahan laut, tetapi juga berinteraksi langsung dengan kehidupan nelayan, mencicipi hasil laut segar, dan belajar mengenai kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun.

    Sehingganya, Gamalis menekankan bahwa pembangunan sektor kelautan dan perikanan tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah, melainkan harus melibatkan seluruh elemen, termasuk pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat.

    "Laut adalah kehidupan. Kalau kita jaga bersama, manfaatnya akan kembali untuk anak cucu kita nanti," pungkasnya.

    (Sf/Rs)