Cari disini...
Seputar Kaltim
Program Makan Bergizi Gratis yang masih belum dilaksanakan di Kaltim. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Timur yang rencananya akan dimulai pada Januari 2025 perlu memperhatikan penyesuaian nilai porsi makanan dan penentuan sasaran yang tepat.
Pakar Gizi Masyarakat dari Universitas Mulawarman, Jamil Anshory, menyoroti pentingnya memperhatikan kebutuhan gizi dan kalori setiap pelajar.
Menurutnya, besaran anggaran Rp17.000 per porsi yang ditetapkan mungkin cukup untuk siswa di kota-kota besar, namun perlu disesuaikan untuk daerah dengan harga bahan pokok yang lebih tinggi, seperti Kutai Barat dan Mahakam Ulu.
"Perlu ada penyesuaian nilai porsi, sesuai dengan harga bahan pokok di masing-masing daerah. Tidak bisa dipukul rata," kata Jamil di Samarinda.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi menyebutkan bahwa anak usia 4-18 tahun membutuhkan sekitar 1.400-2.650 kalori per hari. Selain itu, kebutuhan protein, karbohidrat, dan zat gizi lainnya juga perlu diperhatikan.
Jamil menyarankan agar pemerintah daerah mempertimbangkan subsidi silang untuk memastikan semua siswa mendapatkan asupan gizi yang optimal.
Sementara itu, Ketua Tim Nutrition Education Centre Nutrecent FKM Universitas Mulawarman, Ratih Wirapuspita, menekankan pentingnya pendistribusian MBG yang tepat sasaran. Program ini harus 1 diprioritaskan untuk pelajar yang kekurangan gizi.
"Penyuplai makanan juga harus menjaga kualitas dan kehigienisan makanan," tegas Ratih.
Ia menambahkan bahwa evaluasi berkala perlu dilakukan setelah program berjalan untuk memastikan kualitas makanan dan kecukupan gizi anak-anak terpenuhi.
Ratih berharap ini dapat meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup siswa, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
"Keberhasilan program ini sangat bergantung pada perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang tepat," tutupnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Program Makan Bergizi Gratis yang masih belum dilaksanakan di Kaltim. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Timur yang rencananya akan dimulai pada Januari 2025 perlu memperhatikan penyesuaian nilai porsi makanan dan penentuan sasaran yang tepat.
Pakar Gizi Masyarakat dari Universitas Mulawarman, Jamil Anshory, menyoroti pentingnya memperhatikan kebutuhan gizi dan kalori setiap pelajar.
Menurutnya, besaran anggaran Rp17.000 per porsi yang ditetapkan mungkin cukup untuk siswa di kota-kota besar, namun perlu disesuaikan untuk daerah dengan harga bahan pokok yang lebih tinggi, seperti Kutai Barat dan Mahakam Ulu.
"Perlu ada penyesuaian nilai porsi, sesuai dengan harga bahan pokok di masing-masing daerah. Tidak bisa dipukul rata," kata Jamil di Samarinda.
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019 tentang Angka Kecukupan Gizi menyebutkan bahwa anak usia 4-18 tahun membutuhkan sekitar 1.400-2.650 kalori per hari. Selain itu, kebutuhan protein, karbohidrat, dan zat gizi lainnya juga perlu diperhatikan.
Jamil menyarankan agar pemerintah daerah mempertimbangkan subsidi silang untuk memastikan semua siswa mendapatkan asupan gizi yang optimal.
Sementara itu, Ketua Tim Nutrition Education Centre Nutrecent FKM Universitas Mulawarman, Ratih Wirapuspita, menekankan pentingnya pendistribusian MBG yang tepat sasaran. Program ini harus 1 diprioritaskan untuk pelajar yang kekurangan gizi.
"Penyuplai makanan juga harus menjaga kualitas dan kehigienisan makanan," tegas Ratih.
Ia menambahkan bahwa evaluasi berkala perlu dilakukan setelah program berjalan untuk memastikan kualitas makanan dan kecukupan gizi anak-anak terpenuhi.
Ratih berharap ini dapat meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup siswa, terutama mereka yang berasal dari keluarga kurang mampu.
"Keberhasilan program ini sangat bergantung pada perencanaan yang matang dan pelaksanaan yang tepat," tutupnya.
(Sf/Rs)