Cari disini...
Seputar Kaltim
Kapolresta Balikpapan, Kombes Pol Jerrold Kumontoy saat ditemui disela aksi. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)
Balikpapan – Polresta Balikpapan mengerahkan sebanyak 491 personel untuk mengamankan aksi penyampaian pendapat (unjuk rasa) di muka umum yang dilakukan mahasiswa. Pengamanan tersebut dilakukan sebagai bentuk pelayanan agar kegiatan berlangsung aman, tertib, dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat.
Kapolresta Balikpapan, Kombes Pol Jerrold Kumontoy menjelaskan, jumlah personel yang diterjunkan disesuaikan dengan perkiraan jumlah massa yang sebelumnya disampaikan oleh penyelenggara aksi.
“Sebanyak 491 personel kami turunkan karena berdasarkan pemberitahuan awal, jumlah peserta aksi diperkirakan mencapai sekitar 1.000 orang,” ucap Kombes Pol Jerrold ditengah aksi, Senin (15/6/2026).
Menurut Kapolresta, dalam setiap kegiatan penyampaian pendapat di muka umum, kepolisian melakukan perhitungan kebutuhan personel berdasarkan potensi jumlah massa yang hadir. Karena itu, pengamanan ditingkatkan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan di lapangan.
Namun, jumlah peserta yang hadir dalam aksi tersebut ternyata lebih sedikit dibandingkan perkiraan awal. Meski demikian, kondisi tersebut justru dinilai membuat pengamanan dapat dilakukan secara lebih maksimal.
“Kami berharap dengan jumlah massa yang tidak terlalu banyak, pengamanan bisa berjalan lebih optimal. Adik-adik mahasiswa dapat menyampaikan pendapatnya dengan baik, sementara masyarakat dan pengguna jalan tetap bisa beraktivitas tanpa terganggu,” katanya.
Jerrold menegaskan, tujuan utama pengamanan adalah memastikan seluruh pihak dapat menjalankan aktivitasnya dengan aman dan tertib. Selain mahasiswa yang menyampaikan aspirasi, kepolisian juga memperhatikan kenyamanan pengguna jalan dan masyarakat umum agar tidak terjadi gangguan ketertiban selama aksi berlangsung.
Dalam pengamanan aksi tersebut, sejumlah Polwan terlihat ditempatkan di garis terdepan. Menanggapi hal itu, ia menyampaikan, bahwa penempatan Polwan merupakan bagian dari pola pengamanan yang mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis.
Menurutnya, kepolisian menerapkan tahapan penanganan aksi yang dimulai dari langkah pre-emptive, preventif, hingga represif apabila diperlukan.
“Langkah pre-emptive salah satunya dilakukan melalui dialog. Karena itu, Polwan ditempatkan di barisan depan sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi yang baik dengan peserta aksi,” akunya.
Dirinya menambahkan, kehadiran Polwan di garis terdepan juga mempertimbangkan fakta bahwa peserta aksi tidak hanya terdiri dari mahasiswa laki-laki, tetapi juga mahasiswi. Dengan pendekatan tersebut, kepolisian berharap suasana tetap kondusif dan interaksi antara petugas dan peserta aksi dapat berlangsung lebih nyaman.
“Polwan sengaja kami tempatkan di depan untuk memastikan seluruh kegiatan berjalan dengan aman dan nyaman,” imbuhnya.
Ditegaskan, pola pengamanan dengan menempatkan Polwan di garis depan bukan hal baru. Strategi serupa juga diterapkan di berbagai daerah lain sebagai bagian dari pendekatan humanis dalam pengamanan aksi unjuk rasa.
Selain itu, langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan mengingat sebelumnya jumlah massa diperkirakan cukup besar.
“Dengan kesiapan personel yang memadai, kepolisian berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung aman, tertib, dan kondusif,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kapolresta Balikpapan, Kombes Pol Jerrold Kumontoy saat ditemui disela aksi. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)
Balikpapan – Polresta Balikpapan mengerahkan sebanyak 491 personel untuk mengamankan aksi penyampaian pendapat (unjuk rasa) di muka umum yang dilakukan mahasiswa. Pengamanan tersebut dilakukan sebagai bentuk pelayanan agar kegiatan berlangsung aman, tertib, dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat.
Kapolresta Balikpapan, Kombes Pol Jerrold Kumontoy menjelaskan, jumlah personel yang diterjunkan disesuaikan dengan perkiraan jumlah massa yang sebelumnya disampaikan oleh penyelenggara aksi.
“Sebanyak 491 personel kami turunkan karena berdasarkan pemberitahuan awal, jumlah peserta aksi diperkirakan mencapai sekitar 1.000 orang,” ucap Kombes Pol Jerrold ditengah aksi, Senin (15/6/2026).
Menurut Kapolresta, dalam setiap kegiatan penyampaian pendapat di muka umum, kepolisian melakukan perhitungan kebutuhan personel berdasarkan potensi jumlah massa yang hadir. Karena itu, pengamanan ditingkatkan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan di lapangan.
Namun, jumlah peserta yang hadir dalam aksi tersebut ternyata lebih sedikit dibandingkan perkiraan awal. Meski demikian, kondisi tersebut justru dinilai membuat pengamanan dapat dilakukan secara lebih maksimal.
“Kami berharap dengan jumlah massa yang tidak terlalu banyak, pengamanan bisa berjalan lebih optimal. Adik-adik mahasiswa dapat menyampaikan pendapatnya dengan baik, sementara masyarakat dan pengguna jalan tetap bisa beraktivitas tanpa terganggu,” katanya.
Jerrold menegaskan, tujuan utama pengamanan adalah memastikan seluruh pihak dapat menjalankan aktivitasnya dengan aman dan tertib. Selain mahasiswa yang menyampaikan aspirasi, kepolisian juga memperhatikan kenyamanan pengguna jalan dan masyarakat umum agar tidak terjadi gangguan ketertiban selama aksi berlangsung.
Dalam pengamanan aksi tersebut, sejumlah Polwan terlihat ditempatkan di garis terdepan. Menanggapi hal itu, ia menyampaikan, bahwa penempatan Polwan merupakan bagian dari pola pengamanan yang mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis.
Menurutnya, kepolisian menerapkan tahapan penanganan aksi yang dimulai dari langkah pre-emptive, preventif, hingga represif apabila diperlukan.
“Langkah pre-emptive salah satunya dilakukan melalui dialog. Karena itu, Polwan ditempatkan di barisan depan sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi yang baik dengan peserta aksi,” akunya.
Dirinya menambahkan, kehadiran Polwan di garis terdepan juga mempertimbangkan fakta bahwa peserta aksi tidak hanya terdiri dari mahasiswa laki-laki, tetapi juga mahasiswi. Dengan pendekatan tersebut, kepolisian berharap suasana tetap kondusif dan interaksi antara petugas dan peserta aksi dapat berlangsung lebih nyaman.
“Polwan sengaja kami tempatkan di depan untuk memastikan seluruh kegiatan berjalan dengan aman dan nyaman,” imbuhnya.
Ditegaskan, pola pengamanan dengan menempatkan Polwan di garis depan bukan hal baru. Strategi serupa juga diterapkan di berbagai daerah lain sebagai bagian dari pendekatan humanis dalam pengamanan aksi unjuk rasa.
Selain itu, langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kesiapsiagaan mengingat sebelumnya jumlah massa diperkirakan cukup besar.
“Dengan kesiapan personel yang memadai, kepolisian berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung aman, tertib, dan kondusif,” pungkasnya.
(Sf/Rs)