Seputar Kaltim

    PMI Kutim Hadapi Kendala Ketersediaan Stok Darah, Terutama Trombosit

    Penulis:*/Lisda|Redaktur:Maruly Z
    06 Maret 2025 pukul 20:12 WITA

    Sekretaris PMI Kutim, Wilhemus Wio Doi.

    Sangatta - Palang Merah Indonesia (PMI) Kutai Timur (Kutim) menjelang dan selama bulan Ramadan ini menghadapi sejumlah kendala dalam menjaga ketersediaan stok darah, terutama trombosit. Salah satu masalah utama yang dihadapi PMI Kutim adalah permintaan darah yang tinggi, namun jumlah pendonor yang datang belum mencukupi.

    Sekretaris PMI Kutim, Wilhemus Wio Doi, menjelaskan bahwa salah satu kendala besar adalah kerusakan pada alat Platelet Agitator untuk pengolahan trombosit yang sudah rusak sejak setahun lalu. Akibatnya, PMI Kutim harus mencari pasokan trombosit dari daerah lain, seperti Bontang dengan mengarahkan pasien untuk mendapatkan stok darah trombosit dari sana. 

    Kondisi ini menjadi masalah karena alat yang rusak tersebut membutuhkan biaya perbaikan lebih dari Rp600 juta, sementara PMI Kutim belum memiliki anggaran untuk memperbaiki alat tersebut. "Kami meminta stok darah trombosit dari Bontang. Misalnya, kita akan arahkan para pasien melalui rumah sakit, dan itu merupakan kelemahan pihak PMI sekarang karena alat Platelet Agitator rusak sudah satu tahun, kami belum punya anggaran untuk itu," jelasnya Wilhemus, pada Kamis, (6/3/2025).

    Untuk mengantisipasi kebutuhan darah yang meningkat, khususnya pada bulan Ramadan, PMI Kutim melaksanakan program Mobile Unit (MU), yakni tim yang bergerak untuk mengumpulkan darah dari pendonor secara langsung.

    Selain kendala alat Platelet Agitator, PMI Kutim juga menghadapi keterbatasan anggaran untuk menyediakan alat-alat medis canggih, seperti alat uji silang darah (crossmatch) yang saat ini masih disewa karena harganya yang mahal. Meskipun demikian, PMI Kutim tetap memastikan bahwa darah yang disediakan untuk pasien aman dan layak transfusi.

    PMI Kutim sangat memperhatikan kualitas darah sebelum didistribusikan kepada pasien. Setiap darah yang diambil akan melalui proses pengecekan di laboratorium untuk memastikan kualitasnya aman dan bebas dari penyakit.“Sejauh ini PMI aman dalam memberikan pelayanan darah yang berkualitas dan tidak ada masalah terkait keamanan darah,” ujar Wilhemus. 

    Namun, ia mengakui bahwa untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan stok darah, masih banyak fasilitas yang perlu disediakan, termasuk alat Platelet Agitator. Dalam hal ini, PMI juga gencar melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya donor darah, terutama selama bulan Ramadan. 

    Wilhemus mengungkapkan bahwa PMI menggunakan media sosial dan bantuan relawan untuk mengimbau masyarakat agar lebih sadar akan pentingnya mendonorkan darah. Terutama bagi mereka yang khawatir untuk berdonor di bulan puasa, PMI menyarankan agar donor dilakukan setelah berbuka puasa atau setelah salat tarawih.

    Dia juga menyampaikan bahwa PMI Kutim bekerja sama dengan berbagai instansi, seperti TNI, Polri, pemerintahan, serta lembaga swasta dan organisasi keagamaan. Program ini menjangkau daerah-daerah seperti Bengalon, Kaliorang, Sangkulirang, Kaubun, hingga Muara Wahau, untuk memastikan ketersediaan darah di lapangan.

    Saat ini, stok darah PMI Kutim dalam kondisi cukup aman. Data terkini menunjukkan stok darah golongan darah A sebanyak 41 kantong, golongan darah B 13 kantong, golongan darah O 46 kantong, dan golongan darah AB 1 kantong. Wilhemus juga menyampaikan bahwa stok darah yang ada sudah mencukupi kebutuhan, dengan lebih dari 300 kantong darah yang sudah terkumpul selama enam hari pertama bulan Ramadan.

    Dengan langkah-langkah yang diambil PMI Kutim, diharapkan ketersediaan darah tetap terjaga, terutama pada masa-masa kebutuhan darah yang tinggi, seperti selama bulan Ramadan.

    (Sf/Mr)

    Seputar Kaltim

    PMI Kutim Hadapi Kendala Ketersediaan Stok Darah, Terutama Trombosit

    Penulis:*/Lisda|Redaktur:Maruly Z
    06 Maret 2025 pukul 20:12 WITA

    Sekretaris PMI Kutim, Wilhemus Wio Doi.

    Sangatta - Palang Merah Indonesia (PMI) Kutai Timur (Kutim) menjelang dan selama bulan Ramadan ini menghadapi sejumlah kendala dalam menjaga ketersediaan stok darah, terutama trombosit. Salah satu masalah utama yang dihadapi PMI Kutim adalah permintaan darah yang tinggi, namun jumlah pendonor yang datang belum mencukupi.

    Sekretaris PMI Kutim, Wilhemus Wio Doi, menjelaskan bahwa salah satu kendala besar adalah kerusakan pada alat Platelet Agitator untuk pengolahan trombosit yang sudah rusak sejak setahun lalu. Akibatnya, PMI Kutim harus mencari pasokan trombosit dari daerah lain, seperti Bontang dengan mengarahkan pasien untuk mendapatkan stok darah trombosit dari sana. 

    Kondisi ini menjadi masalah karena alat yang rusak tersebut membutuhkan biaya perbaikan lebih dari Rp600 juta, sementara PMI Kutim belum memiliki anggaran untuk memperbaiki alat tersebut. "Kami meminta stok darah trombosit dari Bontang. Misalnya, kita akan arahkan para pasien melalui rumah sakit, dan itu merupakan kelemahan pihak PMI sekarang karena alat Platelet Agitator rusak sudah satu tahun, kami belum punya anggaran untuk itu," jelasnya Wilhemus, pada Kamis, (6/3/2025).

    Untuk mengantisipasi kebutuhan darah yang meningkat, khususnya pada bulan Ramadan, PMI Kutim melaksanakan program Mobile Unit (MU), yakni tim yang bergerak untuk mengumpulkan darah dari pendonor secara langsung.

    Selain kendala alat Platelet Agitator, PMI Kutim juga menghadapi keterbatasan anggaran untuk menyediakan alat-alat medis canggih, seperti alat uji silang darah (crossmatch) yang saat ini masih disewa karena harganya yang mahal. Meskipun demikian, PMI Kutim tetap memastikan bahwa darah yang disediakan untuk pasien aman dan layak transfusi.

    PMI Kutim sangat memperhatikan kualitas darah sebelum didistribusikan kepada pasien. Setiap darah yang diambil akan melalui proses pengecekan di laboratorium untuk memastikan kualitasnya aman dan bebas dari penyakit.“Sejauh ini PMI aman dalam memberikan pelayanan darah yang berkualitas dan tidak ada masalah terkait keamanan darah,” ujar Wilhemus. 

    Namun, ia mengakui bahwa untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan stok darah, masih banyak fasilitas yang perlu disediakan, termasuk alat Platelet Agitator. Dalam hal ini, PMI juga gencar melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya donor darah, terutama selama bulan Ramadan. 

    Wilhemus mengungkapkan bahwa PMI menggunakan media sosial dan bantuan relawan untuk mengimbau masyarakat agar lebih sadar akan pentingnya mendonorkan darah. Terutama bagi mereka yang khawatir untuk berdonor di bulan puasa, PMI menyarankan agar donor dilakukan setelah berbuka puasa atau setelah salat tarawih.

    Dia juga menyampaikan bahwa PMI Kutim bekerja sama dengan berbagai instansi, seperti TNI, Polri, pemerintahan, serta lembaga swasta dan organisasi keagamaan. Program ini menjangkau daerah-daerah seperti Bengalon, Kaliorang, Sangkulirang, Kaubun, hingga Muara Wahau, untuk memastikan ketersediaan darah di lapangan.

    Saat ini, stok darah PMI Kutim dalam kondisi cukup aman. Data terkini menunjukkan stok darah golongan darah A sebanyak 41 kantong, golongan darah B 13 kantong, golongan darah O 46 kantong, dan golongan darah AB 1 kantong. Wilhemus juga menyampaikan bahwa stok darah yang ada sudah mencukupi kebutuhan, dengan lebih dari 300 kantong darah yang sudah terkumpul selama enam hari pertama bulan Ramadan.

    Dengan langkah-langkah yang diambil PMI Kutim, diharapkan ketersediaan darah tetap terjaga, terutama pada masa-masa kebutuhan darah yang tinggi, seperti selama bulan Ramadan.

    (Sf/Mr)