Cari disini...
Seputar Kaltim
Salah satu PLTS di Desa Pulau Miang tersambar listrik dan tidak beroperasi dengan baik. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Warga Desa Pulau Miang, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, terus mencari jalan memastikan listrik di wilayahnya tetap mengalir.
Sejak setengah tahun terakhir, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang menjadi sumber energi utama di desa pesisir tersebut mengalami kerusakan akibat tersambar petir.
Kepala Desa Pulau Miang, Alimuddin Daoed, menjelaskan bahwa PLTS bantuan pemerintah yang telah beroperasi sejak tahun 2017 itu sempat dua kali terkena sambaran petir sehingga mengalami kerusakan komponen.
Saat ini, upaya perbaikan sedang berproses dan tinggal menunggu kedatangan teknisi ahli.
"Ternyata setelah beberapa tahun beroperasi sudah agak rusak karena dua kali disambar petir. Sampai sekarang ini kami sudah berusaha memperbaiki selama empat bulan ini," ujar Alimuddin di Pulau Miang, Minggu (16/8/2026).
Sembari menunggu perbaikan PLTS rampung, Pemerintah Desa bersama warga mengambil langkah alternatif dengan mengoperasikan mesin generator set (genset).
Melalui mesin ini, akses penerangan di desa tetap bisa menyala setiap harinya mulai pukul 17.30 Wita hingga 06.00 Wita.
Namun, pengoperasian genset tersebut diakui membutuhkan biaya operasional yang cukup menguras kas desa maupun kantong warga.
"Genset ini biayanya agak berat sekali, sekitar Rp29 juta dalam satu bulan. Untungnya masyarakat mau berpartisipasi membayar setiap bulan, alhamdulillah bisa diatasi," ungkapnya.
Alimuddin menyebutkan bahwa biaya puluhan juta tersebut ditopang secara bersama-sama melalui alokasi Dana Desa dan iuran swadaya masyarakat.
Sinergi ini dirancang secara khusus agar warga yang secara ekonomi kurang mampu tetap bisa menikmati penerangan di malam hari.
"Banyak juga kasihan masyarakat yang tidak mampu dan tidak bisa membayar iuran Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per rumah. Jadi ada ditambah dari Dana Desa. Kalau tidak ada, gelap semua sudah kita ini," tambahnya.
Terkait perluasan jaringan listrik permanen dari PLN, Pemerintah Desa terus menjalin komunikasi untuk mencari solusi bersama.
Namun, tantangan geografis kepulauan serta rasio jumlah penduduk di wilayah tersebut sejauh ini masih menjadi kendala teknis kelayakan penarikan kabel.
Meski menghadapi keterbatasan operasional, masyarakat dan Pemerintah Desa Pulau Miang tetap mengapresiasi dukungan dari pemerintah daerah dalam mengawal proses perbaikan ini.
Warga berharap komponen PLTS yang rusak dapat segera diganti agar beban biaya energi komunal bisa kembali ditekan.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Salah satu PLTS di Desa Pulau Miang tersambar listrik dan tidak beroperasi dengan baik. (Foto: Maulana/seputarfakta.com)
Samarinda - Warga Desa Pulau Miang, Kecamatan Sangkulirang, Kabupaten Kutai Timur, terus mencari jalan memastikan listrik di wilayahnya tetap mengalir.
Sejak setengah tahun terakhir, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang menjadi sumber energi utama di desa pesisir tersebut mengalami kerusakan akibat tersambar petir.
Kepala Desa Pulau Miang, Alimuddin Daoed, menjelaskan bahwa PLTS bantuan pemerintah yang telah beroperasi sejak tahun 2017 itu sempat dua kali terkena sambaran petir sehingga mengalami kerusakan komponen.
Saat ini, upaya perbaikan sedang berproses dan tinggal menunggu kedatangan teknisi ahli.
"Ternyata setelah beberapa tahun beroperasi sudah agak rusak karena dua kali disambar petir. Sampai sekarang ini kami sudah berusaha memperbaiki selama empat bulan ini," ujar Alimuddin di Pulau Miang, Minggu (16/8/2026).
Sembari menunggu perbaikan PLTS rampung, Pemerintah Desa bersama warga mengambil langkah alternatif dengan mengoperasikan mesin generator set (genset).
Melalui mesin ini, akses penerangan di desa tetap bisa menyala setiap harinya mulai pukul 17.30 Wita hingga 06.00 Wita.
Namun, pengoperasian genset tersebut diakui membutuhkan biaya operasional yang cukup menguras kas desa maupun kantong warga.
"Genset ini biayanya agak berat sekali, sekitar Rp29 juta dalam satu bulan. Untungnya masyarakat mau berpartisipasi membayar setiap bulan, alhamdulillah bisa diatasi," ungkapnya.
Alimuddin menyebutkan bahwa biaya puluhan juta tersebut ditopang secara bersama-sama melalui alokasi Dana Desa dan iuran swadaya masyarakat.
Sinergi ini dirancang secara khusus agar warga yang secara ekonomi kurang mampu tetap bisa menikmati penerangan di malam hari.
"Banyak juga kasihan masyarakat yang tidak mampu dan tidak bisa membayar iuran Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per rumah. Jadi ada ditambah dari Dana Desa. Kalau tidak ada, gelap semua sudah kita ini," tambahnya.
Terkait perluasan jaringan listrik permanen dari PLN, Pemerintah Desa terus menjalin komunikasi untuk mencari solusi bersama.
Namun, tantangan geografis kepulauan serta rasio jumlah penduduk di wilayah tersebut sejauh ini masih menjadi kendala teknis kelayakan penarikan kabel.
Meski menghadapi keterbatasan operasional, masyarakat dan Pemerintah Desa Pulau Miang tetap mengapresiasi dukungan dari pemerintah daerah dalam mengawal proses perbaikan ini.
Warga berharap komponen PLTS yang rusak dapat segera diganti agar beban biaya energi komunal bisa kembali ditekan.
(Sf/Rs)