Seputar Kaltim

    Pj Gubernur Kaltim Prihatin DAS Mahakam Rusak Karena Bahan Kimia,  Minta Pengelolaan Tambak Gunakan Sistem Silvofishery 

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    07 Mei 2024 pukul 18:58 WITA

    Penjabat Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Akmal Malik sedang melakukan penanaman mangrove di Desa Salo Palai, Muara Badak, pada Selasa (7/5/2024). (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Melihat ekosistem mangrove yang terdegradasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam, Penjabat Gubernur Kalimantan Timur, Akmal Malik, menyoroti kondisi lingkungan yang semakin memprihatinkan. Kegiatan ekonomi, khususnya tambak, telah menyebabkan penurunan produktivitas akibat penggunaan bahan kimia secara berlebihan.

    Pernyataan ini disampaikan Akmal Malik setelah kegiatan penanaman mangrove dan pelepasan ribuan bibit udang Black Tiger di Desa Salo Palai, Muara Badak, pada Selasa (7/5/2024). "Tambak yang tidak lagi produktif ini harus kita tangani dengan serius, karena sudah tercemar dengan bahan kimia," ujar Akmal Malik.

    Dalam mengatasi masalah ini, Akmal menekankan pentingnya sistem Silvofishery, sebuah metode pertambakan tradisional yang mengintegrasikan usaha perikanan dengan penanaman mangrove. "Sistem ini tidak hanya mendukung keberlanjutan ekosistem pembibitan udang, tetapi juga membantu pemulihan mangrove," tambahnya.

    Dalam hal ini perusahaan pemegang Persetujuan Pinjam Pakai Kawasan Hutan (PPKH) memiliki kewajiban untuk melakukan penanaman sebagai bagian dari rehabilitasi DAS. 

    Termasuk PT Indexim Coalindo tahun ini akan menanam di area seluas 4.500 hektar. Sebagai bagian dari upaya rehabilitasi, perusahaan telah dilakukan penanaman mangrove di area seluas 1.000 hektar, dengan total 3.000 batang bibit mangrove. Lokasi penanaman dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Muara Badak (166 hektar) dan Anggana (834 hektar).

    Pemulihan ekosistem mangrove merupakan program prioritas nasional yang bertujuan untuk menyelamatkan, memulihkan, dan meningkatkan tutupan mangrove. Karena mangrove memiliki peran vital dalam ekosistem daratan.

    Akmal Malik juga memberikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan yang telah memenuhi tanggung jawab mereka dalam merehabilitasi hutan sesuai dengan aturan yang berlaku. "Perusahaan seperti Indexim patut kita contoh, mereka telah mematuhi regulasi dan berkontribusi pada lingkungan," ungkapnya.

    Menurut Akmal Malik, Kalimantan Timur yang dikenal kaya akan sumber daya alamnya, berisiko kehilangan kekayaan tersebut jika tidak dikelola dengan baik. "Kita harus menginspirasi manusia untuk melakukan aksi positif terhadap lingkungan," tegasnya.

    Direktur Konservasi Tanah dan Air Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, M Zainal Abidin, menjelaskan bahwa rehabilitasi DAS Delta Mahakam menggunakan pola agro silvofishery. "Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga menghasilkan produk non-kayu seperti pewarna dari daun dan sirup dari buahnya," jelas Zainal.

    Selain itu, Zainal menambahkan bahwa pohon nipah yang tumbuh di kawasan delta sungai juga memiliki berbagai fungsi penting. "Kami akan bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Kalimantan Timur untuk memulihkan kawasan kritis di provinsi ini," tutup Zainal.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Pj Gubernur Kaltim Prihatin DAS Mahakam Rusak Karena Bahan Kimia,  Minta Pengelolaan Tambak Gunakan Sistem Silvofishery 

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    07 Mei 2024 pukul 18:58 WITA

    Penjabat Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Akmal Malik sedang melakukan penanaman mangrove di Desa Salo Palai, Muara Badak, pada Selasa (7/5/2024). (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Melihat ekosistem mangrove yang terdegradasi di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam, Penjabat Gubernur Kalimantan Timur, Akmal Malik, menyoroti kondisi lingkungan yang semakin memprihatinkan. Kegiatan ekonomi, khususnya tambak, telah menyebabkan penurunan produktivitas akibat penggunaan bahan kimia secara berlebihan.

    Pernyataan ini disampaikan Akmal Malik setelah kegiatan penanaman mangrove dan pelepasan ribuan bibit udang Black Tiger di Desa Salo Palai, Muara Badak, pada Selasa (7/5/2024). "Tambak yang tidak lagi produktif ini harus kita tangani dengan serius, karena sudah tercemar dengan bahan kimia," ujar Akmal Malik.

    Dalam mengatasi masalah ini, Akmal menekankan pentingnya sistem Silvofishery, sebuah metode pertambakan tradisional yang mengintegrasikan usaha perikanan dengan penanaman mangrove. "Sistem ini tidak hanya mendukung keberlanjutan ekosistem pembibitan udang, tetapi juga membantu pemulihan mangrove," tambahnya.

    Dalam hal ini perusahaan pemegang Persetujuan Pinjam Pakai Kawasan Hutan (PPKH) memiliki kewajiban untuk melakukan penanaman sebagai bagian dari rehabilitasi DAS. 

    Termasuk PT Indexim Coalindo tahun ini akan menanam di area seluas 4.500 hektar. Sebagai bagian dari upaya rehabilitasi, perusahaan telah dilakukan penanaman mangrove di area seluas 1.000 hektar, dengan total 3.000 batang bibit mangrove. Lokasi penanaman dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Muara Badak (166 hektar) dan Anggana (834 hektar).

    Pemulihan ekosistem mangrove merupakan program prioritas nasional yang bertujuan untuk menyelamatkan, memulihkan, dan meningkatkan tutupan mangrove. Karena mangrove memiliki peran vital dalam ekosistem daratan.

    Akmal Malik juga memberikan apresiasi kepada perusahaan-perusahaan yang telah memenuhi tanggung jawab mereka dalam merehabilitasi hutan sesuai dengan aturan yang berlaku. "Perusahaan seperti Indexim patut kita contoh, mereka telah mematuhi regulasi dan berkontribusi pada lingkungan," ungkapnya.

    Menurut Akmal Malik, Kalimantan Timur yang dikenal kaya akan sumber daya alamnya, berisiko kehilangan kekayaan tersebut jika tidak dikelola dengan baik. "Kita harus menginspirasi manusia untuk melakukan aksi positif terhadap lingkungan," tegasnya.

    Direktur Konservasi Tanah dan Air Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, M Zainal Abidin, menjelaskan bahwa rehabilitasi DAS Delta Mahakam menggunakan pola agro silvofishery. "Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga menghasilkan produk non-kayu seperti pewarna dari daun dan sirup dari buahnya," jelas Zainal.

    Selain itu, Zainal menambahkan bahwa pohon nipah yang tumbuh di kawasan delta sungai juga memiliki berbagai fungsi penting. "Kami akan bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Kalimantan Timur untuk memulihkan kawasan kritis di provinsi ini," tutup Zainal.

    (Sf/Rs)