Cari disini...
Seputar Kaltim
Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman (Kiri), Kepala Desa Karangan Ilir, Jubir (Kanan). (Foto: Lisda/Seputarfakta.com)
Sangatta – Petani kakao di Desa Karangan Ilir, Kecamatan Karangan mulai beralih memproduksi biji kakao fermentasi karena dinilai memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih besar dibanding kakao nonfermentasi.
Kepala Desa Karangan Ilir, Jubir mengatakan wilayahnya memiliki sekitar 140 hektare lahan kakao dengan potensi produksi mencapai 150 ton kakao kering per tahun.
Menurutnya, dalam dua tahun terakhir jumlah petani yang menerapkan fermentasi terus meningkat. Sebelumnya hampir tidak ada petani yang melakukan fermentasi, kini sekitar 30 hingga 40 persen petani telah beralih ke metode tersebut.
“Dari awal dua tahun ini, dari tidak ada sama sekali yang melakukan fermentasi, sekarang sudah sekitar 30 sampai 40 persen petani yang beralih,” ujar Jubir.
Ia menjelaskan, minat petani meningkat karena harga kakao fermentasi jauh lebih tinggi dibanding biji kakao biasa. “Dari biji kakao asalan ke biji kakao fermentasi selisihnya sampai Rp20 ribu per kilogram,” katanya.
Peningkatan nilai jual tersebut memberikan dampak langsung terhadap pendapatan petani dan mendorong semakin banyak masyarakat menerapkan proses fermentasi.
Ia berharap ke depan seluruh produksi kakao di Karangan Ilir dapat beralih menjadi kakao fermentasi agar nilai tambah yang diperoleh petani semakin besar.
"PR kita ke depan bagaimana seluruh produksi kakao yang ada bisa beralih menjadi biji kakao fermentasi seperti pengiriman perdana yang kami dilakukan," jelasnya.
Ia menambahkan, pengiriman perdana sebanyak 2 ton kakao fermentasi yang dilakukan memiliki nilai ekonomi yang cukup besar.
“Kalau diuangkan, pengiriman 2 ton hari ini nilainya mencapai sekitar Rp200 juta,” pungkasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Bupati Kutim Ardiansyah Sulaiman (Kiri), Kepala Desa Karangan Ilir, Jubir (Kanan). (Foto: Lisda/Seputarfakta.com)
Sangatta – Petani kakao di Desa Karangan Ilir, Kecamatan Karangan mulai beralih memproduksi biji kakao fermentasi karena dinilai memberikan nilai tambah ekonomi yang lebih besar dibanding kakao nonfermentasi.
Kepala Desa Karangan Ilir, Jubir mengatakan wilayahnya memiliki sekitar 140 hektare lahan kakao dengan potensi produksi mencapai 150 ton kakao kering per tahun.
Menurutnya, dalam dua tahun terakhir jumlah petani yang menerapkan fermentasi terus meningkat. Sebelumnya hampir tidak ada petani yang melakukan fermentasi, kini sekitar 30 hingga 40 persen petani telah beralih ke metode tersebut.
“Dari awal dua tahun ini, dari tidak ada sama sekali yang melakukan fermentasi, sekarang sudah sekitar 30 sampai 40 persen petani yang beralih,” ujar Jubir.
Ia menjelaskan, minat petani meningkat karena harga kakao fermentasi jauh lebih tinggi dibanding biji kakao biasa. “Dari biji kakao asalan ke biji kakao fermentasi selisihnya sampai Rp20 ribu per kilogram,” katanya.
Peningkatan nilai jual tersebut memberikan dampak langsung terhadap pendapatan petani dan mendorong semakin banyak masyarakat menerapkan proses fermentasi.
Ia berharap ke depan seluruh produksi kakao di Karangan Ilir dapat beralih menjadi kakao fermentasi agar nilai tambah yang diperoleh petani semakin besar.
"PR kita ke depan bagaimana seluruh produksi kakao yang ada bisa beralih menjadi biji kakao fermentasi seperti pengiriman perdana yang kami dilakukan," jelasnya.
Ia menambahkan, pengiriman perdana sebanyak 2 ton kakao fermentasi yang dilakukan memiliki nilai ekonomi yang cukup besar.
“Kalau diuangkan, pengiriman 2 ton hari ini nilainya mencapai sekitar Rp200 juta,” pungkasnya.
(Sf/Lo)