Seputar Kaltim

    Petani Gunung Binjai Bertahan di Tengah Ancaman Hama, Produksi Padi Tetap Jadi Andalan Balikpapan

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    22 Mei 2026 pukul 13:06 WITA

    Kelompok Tani Karya Bina Bersama kini menjadi salah satu penopang produksi padi lokal di Kota Balikpapan. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Di tengah keterbatasan alat pertanian dan ancaman hama tikus yang terus menghantui, para petani di kawasan Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur masih mampu menjaga produktivitas sawah mereka.

    Kelompok Tani Karya Bina Bersama kini menjadi salah satu penopang produksi padi lokal di Kota Balikpapan. Hamparan sawah sekitar 40 hektare di kawasan tersebut masih aktif digarap oleh para petani yang tergabung dalam kelompok tani. 

    Dari lahan itu, petani mampu melakukan panen hingga dua kali dalam setahun dengan hasil rata-rata mencapai lima ton per hektare. Salah satu petani, Nasir mengatakan sudah mengelola sawah bersama kelompok tani sejak 2007 dan hingga kini tetap bertahan sebagai petani padi.

    “Kalau enggak salah mulai tahun 2007 saya di sini,” ucap Nasir kepada awak media, Jumat (22/5/2026).

    Menurut dia, hasil produksi padi di kawasan tersebut memang belum sebesar daerah sentra pertanian di Pulau Jawa maupun Sulawesi. Namun, produktivitas sawah di Gunung Binjai dinilai cukup stabil untuk menopang kebutuhan pangan lokal.

    “Rata-rata panen paling sering sekitar lima ton sekali panen,” akunya.

    Seluruh hasil panen petani selama ini dipasarkan melalui Bulog dengan harga gabah berkisar Rp6.000 hingga Rp6.500 per kilogram. Petani menilai harga tersebut relatif stabil dan masih membantu keberlangsungan usaha pertanian mereka.

    “Harganya normal saja. Hasil panen selama ini masuk ke Bulog,” jelas Nasir.

    Meski demikian, persoalan utama yang dihadapi petani adalah serangan hama tikus yang dinilai cukup mengganggu produktivitas sawah. Minimnya alat pengendalian hama membuat petani hanya mengandalkan racun tikus sebagai solusi sementara.

    “Kalau kendala paling banyak memang hama tikus. Kami belum punya alat yang memadai,” ungkapnya.

    Di sisi lain, kondisi pengairan sawah di kawasan Gunung Binjai disebut masih cukup baik. Ketersediaan air dinilai aman dan mampu mendukung aktivitas pertanian sepanjang musim tanam. “Kalau air bagus, aman saja,” terangnya.

    Di kawasan Gunung Binjai sebenarnya terdapat lima kelompok tani. Namun saat ini, hanya Kelompok Tani Karya Bina Bersama yang masih aktif mengelola persawahan secara optimal.

    Para petani berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap sektor pertanian di kawasan tersebut, terutama melalui bantuan alat pertanian dan sarana pengendalian hama.

    “Dukungan itu dinilai penting agar produksi padi di Gunung Binjai terus meningkat, sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kota Balikpapan,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Petani Gunung Binjai Bertahan di Tengah Ancaman Hama, Produksi Padi Tetap Jadi Andalan Balikpapan

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Lodya A
    22 Mei 2026 pukul 13:06 WITA

    Kelompok Tani Karya Bina Bersama kini menjadi salah satu penopang produksi padi lokal di Kota Balikpapan. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Di tengah keterbatasan alat pertanian dan ancaman hama tikus yang terus menghantui, para petani di kawasan Gunung Binjai, Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur masih mampu menjaga produktivitas sawah mereka.

    Kelompok Tani Karya Bina Bersama kini menjadi salah satu penopang produksi padi lokal di Kota Balikpapan. Hamparan sawah sekitar 40 hektare di kawasan tersebut masih aktif digarap oleh para petani yang tergabung dalam kelompok tani. 

    Dari lahan itu, petani mampu melakukan panen hingga dua kali dalam setahun dengan hasil rata-rata mencapai lima ton per hektare. Salah satu petani, Nasir mengatakan sudah mengelola sawah bersama kelompok tani sejak 2007 dan hingga kini tetap bertahan sebagai petani padi.

    “Kalau enggak salah mulai tahun 2007 saya di sini,” ucap Nasir kepada awak media, Jumat (22/5/2026).

    Menurut dia, hasil produksi padi di kawasan tersebut memang belum sebesar daerah sentra pertanian di Pulau Jawa maupun Sulawesi. Namun, produktivitas sawah di Gunung Binjai dinilai cukup stabil untuk menopang kebutuhan pangan lokal.

    “Rata-rata panen paling sering sekitar lima ton sekali panen,” akunya.

    Seluruh hasil panen petani selama ini dipasarkan melalui Bulog dengan harga gabah berkisar Rp6.000 hingga Rp6.500 per kilogram. Petani menilai harga tersebut relatif stabil dan masih membantu keberlangsungan usaha pertanian mereka.

    “Harganya normal saja. Hasil panen selama ini masuk ke Bulog,” jelas Nasir.

    Meski demikian, persoalan utama yang dihadapi petani adalah serangan hama tikus yang dinilai cukup mengganggu produktivitas sawah. Minimnya alat pengendalian hama membuat petani hanya mengandalkan racun tikus sebagai solusi sementara.

    “Kalau kendala paling banyak memang hama tikus. Kami belum punya alat yang memadai,” ungkapnya.

    Di sisi lain, kondisi pengairan sawah di kawasan Gunung Binjai disebut masih cukup baik. Ketersediaan air dinilai aman dan mampu mendukung aktivitas pertanian sepanjang musim tanam. “Kalau air bagus, aman saja,” terangnya.

    Di kawasan Gunung Binjai sebenarnya terdapat lima kelompok tani. Namun saat ini, hanya Kelompok Tani Karya Bina Bersama yang masih aktif mengelola persawahan secara optimal.

    Para petani berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap sektor pertanian di kawasan tersebut, terutama melalui bantuan alat pertanian dan sarana pengendalian hama.

    “Dukungan itu dinilai penting agar produksi padi di Gunung Binjai terus meningkat, sekaligus memperkuat ketahanan pangan di Kota Balikpapan,” pungkasnya.

    (Sf/Lo)