Seputar Kaltim

    Pesut Mahakam Hampir Punah, Pemkab Kukar akan Lakukan Pengawasan Rutin

    Penulis:Muhammad Anshori|Redaktur:Rusdianto
    15 Desember 2024 pukul 19:21 WITA

    Pesut mahakam. (Foto:Pinterest)

    Tenggarong - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) akan melakukan berbagai upaya terkait pelestarian
    Populasi Pesut Mahakam, mamalia air tawar langka yang terus mengalami penurunan sepanjang tahunnya.

    Kepala Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Kukar, Muhammad Reza mengatakan bawa ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utama penurunan populasi pesut seperti terjerat jaring nelayan atau mengalami tabrakan dengan ponton yang melintas. 

    Aktivitas transportasi sungai yang semakin meningkat turut mempersempit ruang gerak pesut dan mengancam keberlangsungan hidupnya.

    “Kondisi ini memerlukan langkah serius dan kerja sama kita untuk melindungi pesut dari kepunahan,” kata Reza Minggu (13/12/2024).

    Ia mengungkapkan, Pemkab Kukar akan mendorong agar konservasi Pesut Mahakam menjadi isu nasional. Hal ini telah diwujudkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 49 Tahun 2022 yang menetapkan kawasan ekosistem Pesut Mahakam sebagai Kawasan Konservasi.

    “Kami bekerja sama dengan lembaga konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk melakukan pengawasan rutin, sosialisasi, dan pemberdayaan masyarakat sekitar habitat pesut,” ungkapnya.

    Kata dia, sejak Mei 2024, Pemkab Kukar dan KKP telah menandatangani Nota Kesepakatan Kerja Sama yang berlaku hingga Mei 2025.

    “Kegiatan ini mencakup pengawasan minimal dua bulan sekali, mitigasi ancaman dari ponton dan jaring nelayan, serta peningkatan kesadaran masyarakat terkait pentingnya menjaga kelestarian pesut,” terang Reza.

    Meski tantangan besar masih dihadapi, Reza optimis bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan lembaga konservasi dapat memperlambat penurunan populasi pesut.

    “Kami ingin memastikan pesut Mahakam tetap menjadi bagian dari ekosistem Sungai Mahakam. Ini tidak hanya penting untuk lingkungan, tetapi juga untuk kebanggaan daerah dan keberlanjutan warisan alam kita,” imbuhnya.

    Reza menegaskan, upaya pelestarian tersebut membutuhkan dukungan semua pihak, terutama untuk mengurangi aktivitas ponton yang tidak terkendali dan penggunaan jaring yang berbahaya terhadap keberlangsungan hidup pesut.

    “Kalau tak ada tindakan, kita akan kehilangan salah satu spesies ikonik yang hanya ada di Mahakam ini,” tutupnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Pesut Mahakam Hampir Punah, Pemkab Kukar akan Lakukan Pengawasan Rutin

    Penulis:Muhammad Anshori|Redaktur:Rusdianto
    15 Desember 2024 pukul 19:21 WITA

    Pesut mahakam. (Foto:Pinterest)

    Tenggarong - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) akan melakukan berbagai upaya terkait pelestarian
    Populasi Pesut Mahakam, mamalia air tawar langka yang terus mengalami penurunan sepanjang tahunnya.

    Kepala Bagian Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Kukar, Muhammad Reza mengatakan bawa ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utama penurunan populasi pesut seperti terjerat jaring nelayan atau mengalami tabrakan dengan ponton yang melintas. 

    Aktivitas transportasi sungai yang semakin meningkat turut mempersempit ruang gerak pesut dan mengancam keberlangsungan hidupnya.

    “Kondisi ini memerlukan langkah serius dan kerja sama kita untuk melindungi pesut dari kepunahan,” kata Reza Minggu (13/12/2024).

    Ia mengungkapkan, Pemkab Kukar akan mendorong agar konservasi Pesut Mahakam menjadi isu nasional. Hal ini telah diwujudkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 49 Tahun 2022 yang menetapkan kawasan ekosistem Pesut Mahakam sebagai Kawasan Konservasi.

    “Kami bekerja sama dengan lembaga konservasi RASI (Rare Aquatic Species of Indonesia) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk melakukan pengawasan rutin, sosialisasi, dan pemberdayaan masyarakat sekitar habitat pesut,” ungkapnya.

    Kata dia, sejak Mei 2024, Pemkab Kukar dan KKP telah menandatangani Nota Kesepakatan Kerja Sama yang berlaku hingga Mei 2025.

    “Kegiatan ini mencakup pengawasan minimal dua bulan sekali, mitigasi ancaman dari ponton dan jaring nelayan, serta peningkatan kesadaran masyarakat terkait pentingnya menjaga kelestarian pesut,” terang Reza.

    Meski tantangan besar masih dihadapi, Reza optimis bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan lembaga konservasi dapat memperlambat penurunan populasi pesut.

    “Kami ingin memastikan pesut Mahakam tetap menjadi bagian dari ekosistem Sungai Mahakam. Ini tidak hanya penting untuk lingkungan, tetapi juga untuk kebanggaan daerah dan keberlanjutan warisan alam kita,” imbuhnya.

    Reza menegaskan, upaya pelestarian tersebut membutuhkan dukungan semua pihak, terutama untuk mengurangi aktivitas ponton yang tidak terkendali dan penggunaan jaring yang berbahaya terhadap keberlangsungan hidup pesut.

    “Kalau tak ada tindakan, kita akan kehilangan salah satu spesies ikonik yang hanya ada di Mahakam ini,” tutupnya.

    (Sf/Rs)