Cari disini...
Seputar Kaltim
Stadion Borneo FC tampak dalam, yang memerlukan perbaikan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Musim kompetisi 2026-2027 akan menjadi ujian ketahanan sekaligus pembuktian bagi Borneo FC Samarinda.
Skuat berjuluk Pesut Etam ini bersiap menghadapi jadwal padat karena dipastikan akan bertarung di empat hingga lima kompetisi berbeda, baik di level domestik maupun internasional.
Selain berlaga di kompetisi reguler BRI Super League dan Piala Indonesia, Borneo FC juga akan mengibarkan bendera Indonesia di kancah Asia melalui AFC Challenge League (kompetisi kasta ketiga klub Asia) dan turnamen regional ASEAN Club Championship Shopee Cup 2027.
Rangkaian jadwal ini bahkan berpotensi bertambah panjang jika turnamen pramusim Piala Presiden resmi digulirkan.
Namun, di tengah antusiasme menyambut jadwal padat dan panggung Asia, ada satu batu sandungan besar yang membayangi kelancaran langkah Borneo FC.
Walaupun akan tampil di beberapa kompetisi bergengsi, kekurangan infrastruktur kandang mereka belum kunjung tuntas diperbaiki.
Terkonfirmasi belum lama ini, Manajer Borneo FC, Dandri Dauri, mengakui bahwa pihaknya sangat menyadari tantangan infrastruktur tersebut dan terus menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah untuk mencari solusi.
"Kita berdiskusi dengan pemerintah kota maupun provinsi. Apalagi kalau memang ada rezekinya kita main di level Asia, ya. Mudah-mudahan pembenahan-pembenahan tambahan ini bisa menjadi bahan diskusi bersama untuk terus melengkapi kelayakan fasilitas dengan dukungan pemerintah kota dan provinsi," jelas Dandri.
Pernyataan Dandri tersebut sangat beralasan. Berdasarkan evaluasi teknis terbaru, Stadion Segiri Samarinda masih memiliki sejumlah catatan merah yang membuatnya rawan tidak lolos verifikasi standar Asia.
Kekurangan paling fatal dan menjadi sorotan utama terletak pada sistem pencahayaan lampu yang masih di bawah standar AFC. Saat ini, daya pancar lampu Stadion Segiri baru berkisar di angka 800 hingga 900 lux, dengan batas maksimal di angka 1.200 lux.
Hal ini sangat jauh dari tuntutan minimal 1.600 lux, atau idealnya 1.800–2.200 lux, demi memenuhi kebutuhan siaran langsung televisi berkualitas High Definition (HD).
Selain pencahayaan, kualitas rumput di lapangan utama juga memerlukan perhatian ekstra. Meski sebelumnya sudah mendapat sentuhan perbaikan, kualitas dan tingkat ketebalan rumput dinilai belum cukup memadai.
Diperlukan peningkatan (upgrading) yang signifikan agar permukaan lapangan sesuai dengan standar ketat aliran bola dan ketahanan lapangan yang ditetapkan AFC.
Tim verifikator juga mencatat adanya kekurangan pada area vital para pemain, khususnya di fasilitas ruang ganti tim tamu (away team).
Fasilitas penunjang di dalam ruangan, seperti fungsionalitas sistem pendingin udara (AC) yang belum optimal serta kelayakan area mandi dan sanitasi, dinilai belum memenuhi standar kenyamanan internasional.
Evaluasi juga menyasar fasilitas publik di area tribun penonton. Kondisi toilet penonton dinilai masih belum memadai dan membutuhkan perbaikan secara masif.
Hal ini krusial agar stadion tidak hanya berstandar dunia di atas lapangan hijau, tetapi juga mampu memberikan kenyamanan serta kebersihan yang setara dengan turnamen kelas dunia bagi para suporter.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Stadion Borneo FC tampak dalam, yang memerlukan perbaikan. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Musim kompetisi 2026-2027 akan menjadi ujian ketahanan sekaligus pembuktian bagi Borneo FC Samarinda.
Skuat berjuluk Pesut Etam ini bersiap menghadapi jadwal padat karena dipastikan akan bertarung di empat hingga lima kompetisi berbeda, baik di level domestik maupun internasional.
Selain berlaga di kompetisi reguler BRI Super League dan Piala Indonesia, Borneo FC juga akan mengibarkan bendera Indonesia di kancah Asia melalui AFC Challenge League (kompetisi kasta ketiga klub Asia) dan turnamen regional ASEAN Club Championship Shopee Cup 2027.
Rangkaian jadwal ini bahkan berpotensi bertambah panjang jika turnamen pramusim Piala Presiden resmi digulirkan.
Namun, di tengah antusiasme menyambut jadwal padat dan panggung Asia, ada satu batu sandungan besar yang membayangi kelancaran langkah Borneo FC.
Walaupun akan tampil di beberapa kompetisi bergengsi, kekurangan infrastruktur kandang mereka belum kunjung tuntas diperbaiki.
Terkonfirmasi belum lama ini, Manajer Borneo FC, Dandri Dauri, mengakui bahwa pihaknya sangat menyadari tantangan infrastruktur tersebut dan terus menjalin komunikasi dengan pemerintah daerah untuk mencari solusi.
"Kita berdiskusi dengan pemerintah kota maupun provinsi. Apalagi kalau memang ada rezekinya kita main di level Asia, ya. Mudah-mudahan pembenahan-pembenahan tambahan ini bisa menjadi bahan diskusi bersama untuk terus melengkapi kelayakan fasilitas dengan dukungan pemerintah kota dan provinsi," jelas Dandri.
Pernyataan Dandri tersebut sangat beralasan. Berdasarkan evaluasi teknis terbaru, Stadion Segiri Samarinda masih memiliki sejumlah catatan merah yang membuatnya rawan tidak lolos verifikasi standar Asia.
Kekurangan paling fatal dan menjadi sorotan utama terletak pada sistem pencahayaan lampu yang masih di bawah standar AFC. Saat ini, daya pancar lampu Stadion Segiri baru berkisar di angka 800 hingga 900 lux, dengan batas maksimal di angka 1.200 lux.
Hal ini sangat jauh dari tuntutan minimal 1.600 lux, atau idealnya 1.800–2.200 lux, demi memenuhi kebutuhan siaran langsung televisi berkualitas High Definition (HD).
Selain pencahayaan, kualitas rumput di lapangan utama juga memerlukan perhatian ekstra. Meski sebelumnya sudah mendapat sentuhan perbaikan, kualitas dan tingkat ketebalan rumput dinilai belum cukup memadai.
Diperlukan peningkatan (upgrading) yang signifikan agar permukaan lapangan sesuai dengan standar ketat aliran bola dan ketahanan lapangan yang ditetapkan AFC.
Tim verifikator juga mencatat adanya kekurangan pada area vital para pemain, khususnya di fasilitas ruang ganti tim tamu (away team).
Fasilitas penunjang di dalam ruangan, seperti fungsionalitas sistem pendingin udara (AC) yang belum optimal serta kelayakan area mandi dan sanitasi, dinilai belum memenuhi standar kenyamanan internasional.
Evaluasi juga menyasar fasilitas publik di area tribun penonton. Kondisi toilet penonton dinilai masih belum memadai dan membutuhkan perbaikan secara masif.
Hal ini krusial agar stadion tidak hanya berstandar dunia di atas lapangan hijau, tetapi juga mampu memberikan kenyamanan serta kebersihan yang setara dengan turnamen kelas dunia bagi para suporter.
(Sf/Rs)