Cari disini...
Seputarfakta.com - Nuraini -
Seputar Kaltim
Kesultanan Kutai Ing Martadipura, Sultan ke-21 Aji Muhammad Arifin saat melaksanakan ritual Penutupan Pesta Laut Bontang Kuala pada Minggu (21/12/2025). (Foto: Panitia Pesta Laut)
Bontang - Pesta Laut Kota Bontang resmi berakhir pada Minggu (21/12/2025). Penutupan kegiatan tahunan masyarakat pesisir itu dilakukan oleh Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris dan dihadiri tamu kehormatan dari Kesultanan Kutai Ing Martadipura, Sultan Kutai ke-21 Aji Muhammad Arifin.
Ketua Panitia Pesta Laut Bontang Kuala, Agung Anugrah, mengatakan perhelatan tahun ini menonjolkan penguatan nilai tradisi dan pelestarian adat masyarakat pesisir. Salah satu ritual utama yang ditampilkan adalah Balai Pompong, ritual adat yang pada masa lalu dipercaya sebagai sarana penyembuhan.
“Tahun ini ritual yang kita tampilkan adalah Balai Pompong, yang dahulu dilakukan sebagai ritual penyembuhan,” ujar Agung.
Meski demikian, Agung menegaskan pelaksanaan ritual tersebut saat ini dimaknai sebagai upaya menjaga warisan budaya, bukan lagi praktik kepercayaan. Ritual dijalankan sebatas pelestarian adat yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat pesisir Bontang Kuala.
Selain ritual adat, Pesta Laut juga diisi dengan tradisi Membeko, yakni makan bersama yang melibatkan masyarakat tanpa sekat. Dalam tradisi ini, warga duduk sejajar dan menyantap aneka masakan khas Bontang Kuala yang disiapkan secara gotong royong.
Rangkaian kegiatan turut dimeriahkan dengan apresiasi seni budaya melalui penampilan berbagai tari tradisional daerah. Puncak acara ditutup dengan teatrikal seni tari yang mengisahkan perjalanan dan identitas Kota Bontang.
“Malam puncak dimeriahkan dengan teatrikal seni tari yang menceritakan tentang Kota Bontang,” kata Agung.
Selain itu, malam puncak Pesta Laut juga menghadirkan musisi lokal dan luar daerah untuk menghibur masyarakat yang memadati kawasan pesisir.
Sejumlah perlombaan turut memeriahkan agenda tahunan tersebut selama lima hari, di antaranya race ketinting, lomba dayung antar-RT dan umum, nombak duyung, serta tarik tambang di atas perahu. Beragam lomba tersebut menjadi daya tarik tersendiri sekaligus memperkuat identitas maritim masyarakat pesisir Bontang.
Agung menambahkan, Pesta Laut tahun ini dikemas lebih meriah dengan skala ritual adat yang lebih besar serta ragam pagelaran seni yang lebih variatif, sebagai bentuk komitmen menjaga tradisi dan memperkuat kebersamaan masyarakat pesisir Kota Bontang.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com - Nuraini -
Seputar Kaltim

Kesultanan Kutai Ing Martadipura, Sultan ke-21 Aji Muhammad Arifin saat melaksanakan ritual Penutupan Pesta Laut Bontang Kuala pada Minggu (21/12/2025). (Foto: Panitia Pesta Laut)
Bontang - Pesta Laut Kota Bontang resmi berakhir pada Minggu (21/12/2025). Penutupan kegiatan tahunan masyarakat pesisir itu dilakukan oleh Wakil Wali Kota Bontang Agus Haris dan dihadiri tamu kehormatan dari Kesultanan Kutai Ing Martadipura, Sultan Kutai ke-21 Aji Muhammad Arifin.
Ketua Panitia Pesta Laut Bontang Kuala, Agung Anugrah, mengatakan perhelatan tahun ini menonjolkan penguatan nilai tradisi dan pelestarian adat masyarakat pesisir. Salah satu ritual utama yang ditampilkan adalah Balai Pompong, ritual adat yang pada masa lalu dipercaya sebagai sarana penyembuhan.
“Tahun ini ritual yang kita tampilkan adalah Balai Pompong, yang dahulu dilakukan sebagai ritual penyembuhan,” ujar Agung.
Meski demikian, Agung menegaskan pelaksanaan ritual tersebut saat ini dimaknai sebagai upaya menjaga warisan budaya, bukan lagi praktik kepercayaan. Ritual dijalankan sebatas pelestarian adat yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat pesisir Bontang Kuala.
Selain ritual adat, Pesta Laut juga diisi dengan tradisi Membeko, yakni makan bersama yang melibatkan masyarakat tanpa sekat. Dalam tradisi ini, warga duduk sejajar dan menyantap aneka masakan khas Bontang Kuala yang disiapkan secara gotong royong.
Rangkaian kegiatan turut dimeriahkan dengan apresiasi seni budaya melalui penampilan berbagai tari tradisional daerah. Puncak acara ditutup dengan teatrikal seni tari yang mengisahkan perjalanan dan identitas Kota Bontang.
“Malam puncak dimeriahkan dengan teatrikal seni tari yang menceritakan tentang Kota Bontang,” kata Agung.
Selain itu, malam puncak Pesta Laut juga menghadirkan musisi lokal dan luar daerah untuk menghibur masyarakat yang memadati kawasan pesisir.
Sejumlah perlombaan turut memeriahkan agenda tahunan tersebut selama lima hari, di antaranya race ketinting, lomba dayung antar-RT dan umum, nombak duyung, serta tarik tambang di atas perahu. Beragam lomba tersebut menjadi daya tarik tersendiri sekaligus memperkuat identitas maritim masyarakat pesisir Bontang.
Agung menambahkan, Pesta Laut tahun ini dikemas lebih meriah dengan skala ritual adat yang lebih besar serta ragam pagelaran seni yang lebih variatif, sebagai bentuk komitmen menjaga tradisi dan memperkuat kebersamaan masyarakat pesisir Kota Bontang.
(Sf/Rs)