Cari disini...
Seputar Kaltim
Pembukaan pesta laut Bontang. (Foto: Diskominfo Bontang)
Bontang - Pemerintah Kota (Pemoit) Bontang mengalokasikan anggaran sebesar Rp300 juta untuk mendukung pelaksanaan Pesta Laut 2025 di kawasan pesisir Bontang Kuala.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni saat membuka Pesta Laut yang digelar masyarakat pesisir, Rabu (17/12/2025)
Neni menegaskan Pesta Laut bukan sekadar agenda budaya, tetapi instrumen pelestarian tradisi sekaligus penggerak ekonomi masyarakat pesisir, khususnya pelaku UMKM. Ia menyebut tradisi ini telah berlangsung jauh sebelum Kota Bontang berdiri secara administratif.
“Pesta laut ini sudah digelar 29 kali, sementara usia Kota Bontang baru 26 tahun. Ini warisan masyarakat pesisir yang harus dijaga,” ujar Neni.
Namun, di tengah dorongan pariwisata budaya, Neni menyoroti persoalan serius yang mengancam keberlanjutan kawasan laut, yakni pencemaran sampah dan praktik penangkapan ikan yang merusak ekosistem. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan laut sebagai tempat pembuangan limbah.
“Jangan sampai suatu hari jumlah sampah di laut lebih banyak daripada ikan,” kata Neni.
Ia juga meminta nelayan menghentikan praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak karena berpotensi merusak terumbu karang dan biota laut. Menurutnya, kerusakan ekosistem laut akan berdampak langsung pada mata pencaharian masyarakat pesisir.
Pesta Laut 2025 digelar selama sepekan dan dirangkaikan dengan Festival Bahari. Ketua Panitia Pesta Laut 2025, Agung Anugerah menyebut rangkaian kegiatan meliputi ritual adat bebalai, pertunjukan seni budaya, hingga olahraga laut seperti tobak duyung dan tarik tambang perahu.
Kesultanan Kutai Ing Martadipura turut hadir dalam pembukaan Pesta Laut. Sultan Kutai ke-21 Aji Muhammad Arifin melalui perwakilannya menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Bontang Kuala menjaga tradisi pesisir sebagai bagian dari identitas budaya daerah.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Pembukaan pesta laut Bontang. (Foto: Diskominfo Bontang)
Bontang - Pemerintah Kota (Pemoit) Bontang mengalokasikan anggaran sebesar Rp300 juta untuk mendukung pelaksanaan Pesta Laut 2025 di kawasan pesisir Bontang Kuala.
Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni saat membuka Pesta Laut yang digelar masyarakat pesisir, Rabu (17/12/2025)
Neni menegaskan Pesta Laut bukan sekadar agenda budaya, tetapi instrumen pelestarian tradisi sekaligus penggerak ekonomi masyarakat pesisir, khususnya pelaku UMKM. Ia menyebut tradisi ini telah berlangsung jauh sebelum Kota Bontang berdiri secara administratif.
“Pesta laut ini sudah digelar 29 kali, sementara usia Kota Bontang baru 26 tahun. Ini warisan masyarakat pesisir yang harus dijaga,” ujar Neni.
Namun, di tengah dorongan pariwisata budaya, Neni menyoroti persoalan serius yang mengancam keberlanjutan kawasan laut, yakni pencemaran sampah dan praktik penangkapan ikan yang merusak ekosistem. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan laut sebagai tempat pembuangan limbah.
“Jangan sampai suatu hari jumlah sampah di laut lebih banyak daripada ikan,” kata Neni.
Ia juga meminta nelayan menghentikan praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak karena berpotensi merusak terumbu karang dan biota laut. Menurutnya, kerusakan ekosistem laut akan berdampak langsung pada mata pencaharian masyarakat pesisir.
Pesta Laut 2025 digelar selama sepekan dan dirangkaikan dengan Festival Bahari. Ketua Panitia Pesta Laut 2025, Agung Anugerah menyebut rangkaian kegiatan meliputi ritual adat bebalai, pertunjukan seni budaya, hingga olahraga laut seperti tobak duyung dan tarik tambang perahu.
Kesultanan Kutai Ing Martadipura turut hadir dalam pembukaan Pesta Laut. Sultan Kutai ke-21 Aji Muhammad Arifin melalui perwakilannya menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Bontang Kuala menjaga tradisi pesisir sebagai bagian dari identitas budaya daerah.
(Sf/Lo)