Cari disini...
Seputarfakta.com – Lisda -
Seputar Kaltim
Pesta Adat Pelas Tanah ke-10 di Lapangan STQ Sangatta. (foto: lisda/seputarfakta.com)
Sangatta — Pesta adat Pelas Tanah ke-10 kembali digelar di Kutai Timur (Kutim), Jumat (6/5/2025) di Lapangan STQ Sangatta.
Pelas Tanah merupakan ritual adat sakral yang dilakukan masyarakat Kutai sebagai wujud syukur serta doa keselamatan bagi seluruh warga daerah Kutim.
Rangkaian tradisi telah dimulai dua malam sebelumnya dengan penyembelihan seekor sapi untuk prosesi pengambilan darah, serta ritual naik tiang Ayu. Selain itu, rombongan adat juga melaksanakan bepelas ke sejumlah titik penting, termasuk Kantor Bupati Kutim, eks Terminal KPC, Patung Burung, hingga kediaman Ketua Adat.
Ketua Adat Besar Kutim, Abdal Nanang Al-Hasani menyampaikan Pelas Tanah bertujuan memohon keamanan bagi semua warga serta terhindar dari bencana.
“Kita membersihkan sungai, laut, teluk, tanah, gunung dan udara. Tujuannya agar semua yang ada di Kutai Timur bahkan seluruh Indonesia terhindar dari musibah," ujar Abdal.
Ia menambahkan doa keselamatan tersebut juga dipanjatkan bagi seluruh masyarakat yang di Kutim, termasuk pemerintah dan perusahaan agar beraktivitas dengan baik tanpa gangguan.
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi yang hadir dalam acara ini mengapresiasi konsistensi pelaksanaan Pelas Tanah hingga tahun ke-10. Ia menyebut kegiatan ini juga mengingatkan masyarakat untuk bersyukur atas kekayaan alam Kutim.
“Tanah kita subur. Di dalam tanah ada batu bara dan minyak, di atas tumbuh tanaman dan di udara ada walet yang memberi rezeki dan manfaat untuk masyarakat Kutim,” kata Mahyunadi.
Ia menegaskan Kutim merupakan daerah yang penduduknya berasal dari berbagai suku. Namun kerukunan terus terjaga hingga sekarang. Hal ini menjadi kekuatan besar untuk pembangunan ke depan.
Mahyunadi juga mengingatkan hasil tambang tidak selamanya ada. Untuk itu, budaya harus terus dikembangkan agar Kutim tetap menarik sebagai daerah wisata dan tujuan ekonomi di masa mendatang.
“Kita harus bertransformasi menjadi kabupaten yang dilirik dunia. Salah satunya melalui industri pariwisata dan budaya. Jika budaya kita berkembang, Kutim insyaallah tetap bertahan meski batu bara habis,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Tim Editorial
Cari disini...
Seputarfakta.com – Lisda -
Seputar Kaltim

Pesta Adat Pelas Tanah ke-10 di Lapangan STQ Sangatta. (foto: lisda/seputarfakta.com)
Sangatta — Pesta adat Pelas Tanah ke-10 kembali digelar di Kutai Timur (Kutim), Jumat (6/5/2025) di Lapangan STQ Sangatta.
Pelas Tanah merupakan ritual adat sakral yang dilakukan masyarakat Kutai sebagai wujud syukur serta doa keselamatan bagi seluruh warga daerah Kutim.
Rangkaian tradisi telah dimulai dua malam sebelumnya dengan penyembelihan seekor sapi untuk prosesi pengambilan darah, serta ritual naik tiang Ayu. Selain itu, rombongan adat juga melaksanakan bepelas ke sejumlah titik penting, termasuk Kantor Bupati Kutim, eks Terminal KPC, Patung Burung, hingga kediaman Ketua Adat.
Ketua Adat Besar Kutim, Abdal Nanang Al-Hasani menyampaikan Pelas Tanah bertujuan memohon keamanan bagi semua warga serta terhindar dari bencana.
“Kita membersihkan sungai, laut, teluk, tanah, gunung dan udara. Tujuannya agar semua yang ada di Kutai Timur bahkan seluruh Indonesia terhindar dari musibah," ujar Abdal.
Ia menambahkan doa keselamatan tersebut juga dipanjatkan bagi seluruh masyarakat yang di Kutim, termasuk pemerintah dan perusahaan agar beraktivitas dengan baik tanpa gangguan.
Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi yang hadir dalam acara ini mengapresiasi konsistensi pelaksanaan Pelas Tanah hingga tahun ke-10. Ia menyebut kegiatan ini juga mengingatkan masyarakat untuk bersyukur atas kekayaan alam Kutim.
“Tanah kita subur. Di dalam tanah ada batu bara dan minyak, di atas tumbuh tanaman dan di udara ada walet yang memberi rezeki dan manfaat untuk masyarakat Kutim,” kata Mahyunadi.
Ia menegaskan Kutim merupakan daerah yang penduduknya berasal dari berbagai suku. Namun kerukunan terus terjaga hingga sekarang. Hal ini menjadi kekuatan besar untuk pembangunan ke depan.
Mahyunadi juga mengingatkan hasil tambang tidak selamanya ada. Untuk itu, budaya harus terus dikembangkan agar Kutim tetap menarik sebagai daerah wisata dan tujuan ekonomi di masa mendatang.
“Kita harus bertransformasi menjadi kabupaten yang dilirik dunia. Salah satunya melalui industri pariwisata dan budaya. Jika budaya kita berkembang, Kutim insyaallah tetap bertahan meski batu bara habis,” pungkasnya.
(Sf/Rs)