Seputar Kaltim

    Perusahaan Sawit Diminta Bangun Refinery di KEK Maloy, Ini Kata Bupati Kutim

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    21 April 2026 pukul 11:43 WITA

    Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman meminta DPRD menyurati pemerintah daerah agar memanggil perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk segera membangun fasilitas pengolahan (refinery) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy.

    Ini disampaikannya usai rapat forkopimda membahas tindak lanjut arahan presiden tentang penguatan energi berbasis komoditas nasional, khususnya kelapa sawit.

    Ardiansyah menyebut dalam Rapat Koordinasi Nasional yang digelar beberapa bulan lalu dan dihadiri presiden bersama seluruh kepala daerah se-Indonesia, ditegaskan Indonesia tidak perlu ragu menjadikan sawit sebagai komoditas utama untuk energi.

    “Bapak presiden menyampaikan Indonesia tidak perlu ragu, sawit akan menjadi bagian dari komoditas utama untuk energi,” ujar Ardiansyah, Senin (20/4/2026).

    Ia menilai Kutim sebenarnya telah memiliki kawasan strategis melalui KEK Maloy, namun pemanfaatannya untuk hilirisasi sawit masih belum maksimal.

    “Secara kawasan kita sudah punya, tapi belum optimal untuk hilirisasi sawit. Saya minta dewan menyurati bupati agar memanggil seluruh perusahaan kebun sawit untuk segera membangun refinery di KEK Maloy. Mudah-mudahan ada juga yang siap membangun biodiesel,” jelasnya.

    Terkait waktu pelaksanaan, Ardiansyah mengaku belum dapat memastikan jadwal pasti, namun berharap proses tersebut dapat segera direalisasikan dalam waktu dekat setelah adanya landasan resmi.

    “Kita tunggu dulu. Nanti kita siapkan landasannya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera,” katanya.

    Ia juga menyinggung kondisi global yang memengaruhi sektor energi, termasuk dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah seperti Selat Hormuz, yang berdampak pada kenaikan harga energi dunia.

    Dengan kondisi tersebut, Ardiansyah menilai hilirisasi sawit menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi, sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Perusahaan Sawit Diminta Bangun Refinery di KEK Maloy, Ini Kata Bupati Kutim

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    21 April 2026 pukul 11:43 WITA

    Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Bupati Kutai Timur (Kutim), Ardiansyah Sulaiman meminta DPRD menyurati pemerintah daerah agar memanggil perusahaan perkebunan kelapa sawit untuk segera membangun fasilitas pengolahan (refinery) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Maloy.

    Ini disampaikannya usai rapat forkopimda membahas tindak lanjut arahan presiden tentang penguatan energi berbasis komoditas nasional, khususnya kelapa sawit.

    Ardiansyah menyebut dalam Rapat Koordinasi Nasional yang digelar beberapa bulan lalu dan dihadiri presiden bersama seluruh kepala daerah se-Indonesia, ditegaskan Indonesia tidak perlu ragu menjadikan sawit sebagai komoditas utama untuk energi.

    “Bapak presiden menyampaikan Indonesia tidak perlu ragu, sawit akan menjadi bagian dari komoditas utama untuk energi,” ujar Ardiansyah, Senin (20/4/2026).

    Ia menilai Kutim sebenarnya telah memiliki kawasan strategis melalui KEK Maloy, namun pemanfaatannya untuk hilirisasi sawit masih belum maksimal.

    “Secara kawasan kita sudah punya, tapi belum optimal untuk hilirisasi sawit. Saya minta dewan menyurati bupati agar memanggil seluruh perusahaan kebun sawit untuk segera membangun refinery di KEK Maloy. Mudah-mudahan ada juga yang siap membangun biodiesel,” jelasnya.

    Terkait waktu pelaksanaan, Ardiansyah mengaku belum dapat memastikan jadwal pasti, namun berharap proses tersebut dapat segera direalisasikan dalam waktu dekat setelah adanya landasan resmi.

    “Kita tunggu dulu. Nanti kita siapkan landasannya. Mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa segera,” katanya.

    Ia juga menyinggung kondisi global yang memengaruhi sektor energi, termasuk dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah seperti Selat Hormuz, yang berdampak pada kenaikan harga energi dunia.

    Dengan kondisi tersebut, Ardiansyah menilai hilirisasi sawit menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi, sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.

    (Sf/Lo)