Seputar Kaltim

    Pertumbuhan Ekonomi Kutim Anjlok, Sektor Non-Tambang Justru Menguat

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    30 Maret 2026 pukul 21:08 WITA

    Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman saat menyampaikan LKPJ Tahun Anggaran 2025 dalam Rapat Paripurna DPRD Kutim. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) 2025 tercatat melambat di tengah dominannya sektor pertambangan. Namun di sisi lain, sektor non-pertambangan mulai menunjukkan penguatan signifikan.

    Ini disampaikan Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman dalam Rapat Paripurna ke-17 DPRD Kutim saat menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) 2025, Senin (30/3/2026).

    Ardiansyah mengungkap laju pertumbuhan ekonomi Kutim 2025 hanya mencapai 1,05 persen, turun drastis dibandingkan 2024 yang sebesar 9,82 persen.

    “Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh perlambatan sektor pertambangan yang masih menjadi kontributor terbesar dalam struktur ekonomi daerah,” ujar Ardiansyah.

    Ia menjelaskan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kutim atas dasar harga berlaku dengan migas tercatat sebesar Rp152,91 triliun atau turun 4,13 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Namun jika dilihat lebih dalam, ekonomi Kutim tidak sepenuhnya melemah. PDRB tanpa migas dan batubara justru tumbuh signifikan sebesar 14,45 persen dengan nilai mencapai Rp59,41 triliun.

    Pertumbuhan sektor nonpertambangan juga meningkat dari 8,4 persen pada 2024 menjadi 11 persen pada 2025. Kenaikan ini ditopang sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, transportasi, hingga jasa.

    Kondisi ini menunjukkan ekonomi Kutim masih sangat bergantung pada sektor pertambangan. Meski sektor non-pertambangan mulai tumbuh, kontribusinya belum cukup kuat untuk menahan dampak perlambatan tersebut.

    Meski demikian, Ardiansyah menilai kondisi ini sekaligus menjadi sinyal awal pergeseran struktur ekonomi daerah. Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB menurun dari 75,53 persen pada 2024 menjadi 70,17 persen pada 2025. 

    Sebaliknya, sektor non-pertambangan mengalami peningkatan, terutama sektor pertanian yang naik dari 8,80 persen menjadi 10,96 persen, serta industri pengolahan dari 4,34 persen menjadi 5,81 persen.

    Selain itu, PDRB per kapita atas dasar harga konstan dengan migas juga mengalami penurunan dari Rp344,49 juta pada 2024 menjadi sekitar Rp325 juta pada 2025.

    “Kondisi ini menandakan bahwa struktur perekonomian daerah secara bertahap mulai bergerak menuju pola yang lebih beragam dan berimbang,” jelasnya.

    Di tengah perlambatan tersebut, sektor non-pertambangan dinilai menjadi penopang baru pertumbuhan ekonomi Kutim yang lebih berkelanjutan.

    Ardiansyah menegaskan transformasi ekonomi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah ke depan.

    “Fenomena ini menjadi sinyal positif bagi upaya mendorong transformasi ekonomi daerah menuju struktur perekonomian yang lebih tangguh dan berkelanjutan," katanya.

    Ia juga mengakui masih terdapat sejumlah target kinerja yang belum tercapai secara optimal. Meski demikian, pemerintah daerah tetap optimistis arah pembangunan telah berjalan sesuai dengan perencanaan nasional dan kebijakan daerah.

    “Insyaallah tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih akan semakin terwujud dengan integritas, profesionalitas dan semangat kebersamaan seluruh unsur pemerintahan,” tutupnya.

    (Sf/Lo)

    Seputar Kaltim

    Pertumbuhan Ekonomi Kutim Anjlok, Sektor Non-Tambang Justru Menguat

    Penulis:Lisda|Redaktur:Lodya A
    30 Maret 2026 pukul 21:08 WITA

    Bupati Kutai Timur Ardiansyah Sulaiman saat menyampaikan LKPJ Tahun Anggaran 2025 dalam Rapat Paripurna DPRD Kutim. (Foto: Lisda/seputarfakta.com)

    Sangatta - Pertumbuhan ekonomi Kabupaten Kutai Timur (Kutim) 2025 tercatat melambat di tengah dominannya sektor pertambangan. Namun di sisi lain, sektor non-pertambangan mulai menunjukkan penguatan signifikan.

    Ini disampaikan Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman dalam Rapat Paripurna ke-17 DPRD Kutim saat menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) 2025, Senin (30/3/2026).

    Ardiansyah mengungkap laju pertumbuhan ekonomi Kutim 2025 hanya mencapai 1,05 persen, turun drastis dibandingkan 2024 yang sebesar 9,82 persen.

    “Penurunan ini terutama dipengaruhi oleh perlambatan sektor pertambangan yang masih menjadi kontributor terbesar dalam struktur ekonomi daerah,” ujar Ardiansyah.

    Ia menjelaskan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kutim atas dasar harga berlaku dengan migas tercatat sebesar Rp152,91 triliun atau turun 4,13 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

    Namun jika dilihat lebih dalam, ekonomi Kutim tidak sepenuhnya melemah. PDRB tanpa migas dan batubara justru tumbuh signifikan sebesar 14,45 persen dengan nilai mencapai Rp59,41 triliun.

    Pertumbuhan sektor nonpertambangan juga meningkat dari 8,4 persen pada 2024 menjadi 11 persen pada 2025. Kenaikan ini ditopang sektor pertanian, industri pengolahan, perdagangan, konstruksi, transportasi, hingga jasa.

    Kondisi ini menunjukkan ekonomi Kutim masih sangat bergantung pada sektor pertambangan. Meski sektor non-pertambangan mulai tumbuh, kontribusinya belum cukup kuat untuk menahan dampak perlambatan tersebut.

    Meski demikian, Ardiansyah menilai kondisi ini sekaligus menjadi sinyal awal pergeseran struktur ekonomi daerah. Kontribusi sektor pertambangan terhadap PDRB menurun dari 75,53 persen pada 2024 menjadi 70,17 persen pada 2025. 

    Sebaliknya, sektor non-pertambangan mengalami peningkatan, terutama sektor pertanian yang naik dari 8,80 persen menjadi 10,96 persen, serta industri pengolahan dari 4,34 persen menjadi 5,81 persen.

    Selain itu, PDRB per kapita atas dasar harga konstan dengan migas juga mengalami penurunan dari Rp344,49 juta pada 2024 menjadi sekitar Rp325 juta pada 2025.

    “Kondisi ini menandakan bahwa struktur perekonomian daerah secara bertahap mulai bergerak menuju pola yang lebih beragam dan berimbang,” jelasnya.

    Di tengah perlambatan tersebut, sektor non-pertambangan dinilai menjadi penopang baru pertumbuhan ekonomi Kutim yang lebih berkelanjutan.

    Ardiansyah menegaskan transformasi ekonomi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat fondasi ekonomi daerah ke depan.

    “Fenomena ini menjadi sinyal positif bagi upaya mendorong transformasi ekonomi daerah menuju struktur perekonomian yang lebih tangguh dan berkelanjutan," katanya.

    Ia juga mengakui masih terdapat sejumlah target kinerja yang belum tercapai secara optimal. Meski demikian, pemerintah daerah tetap optimistis arah pembangunan telah berjalan sesuai dengan perencanaan nasional dan kebijakan daerah.

    “Insyaallah tata kelola pemerintahan yang baik dan bersih akan semakin terwujud dengan integritas, profesionalitas dan semangat kebersamaan seluruh unsur pemerintahan,” tutupnya.

    (Sf/Lo)