Seputar Kaltim

    Pertanian Modern PM-AAS Diterapkan di Babulu, PPU Tak Muluk-muluk Bidik 5 Ton per Hektare

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdinto
    04 Agustus 2026 pukul 20:52 WITA

    Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian PPU, Gunawan. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyiapkan penerapan Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kecamatan Babulu. Program tersebut menyasar lahan seluas 3.456 hektare, dengan tahap awal 893 hektare yang dijadwalkan mulai ditanam pada Oktober 2026.

    Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian PPU, Gunawan mengatakan PM-AAS merupakan gagasan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang mengadopsi praktik pertanian dari Arkansas, Amerika Serikat, lalu dipadukan dengan sistem jajar legowo di Indonesia. Sistem ini memang diarahkan untuk meningkatkan populasi tanaman dan produktivitas padi.

    Dalam penerapannya, PM-AAS menggunakan sistem tanam benih langsung dengan jarak tanam rapat, namun tetap mempertahankan jarak antarbaris. Pola yang direkomendasikan yakni jajar legowo 4:1 dan 6:1.

    "Konsepnya memperbanyak populasi tanaman dalam satu hektare dengan tetap mengatur jarak antarbaris. Dengan populasi yang lebih tinggi, produksi juga diharapkan meningkat," kata Gunawan, Selasa (4/8/2026).

    Melalui pola tersebut, populasi tanaman ditargetkan mencapai sekitar 1 juta hingga 1,2 juta rumpun per hektare, atau sekitar dua kali lipat dibanding pola tanam biasa.

    Metode PM-AAS telah diuji di sejumlah daerah dengan hasil produksi di atas 10 ton per hektare. Pemerintah pusat menyebut hasil uji lapangan telah mencapai 12,4 ton per hektare.

    Namun, Gunawan mengatakan penerapannya di PPU tetap menyesuaikan kondisi lahan. Salah satu syarat utamanya ialah ketersediaan air yang cukup. Idealnya, PM-AAS diterapkan pada lahan sawah beririgasi teknis maupun setengah teknis.

    "Di PPU sebagian lahannya masih tadah hujan. Tapi yang paling penting airnya cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman," ujarnya.

    Selain pola tanam, PM-AAS mengharuskan penggunaan mekanisasi dalam proses budidaya. Dinas Pertanian PPU telah memiliki sejumlah alat dan mesin pertanian, seperti rotavator, traktor roda empat, drone hingga combine harvester.

    Pelaksanaan program akan melibatkan 18 Brigade Pangan yang menjadi penerima manfaat kegiatan optimalisasi lahan (oplah) tahap pertama. Brigade Pangan yang memiliki peralatan mekanisasi menjadi pelaksana utama di lapangan.

    "Pelaksanaannya nanti melalui Brigade Pangan yang sudah memiliki peralatan mekanisasi. Memang arahnya ke pertanian modern, jadi penggunaan alat mesin pertanian menjadi bagian penting," kata Gunawan.

    Pemeliharaan tanaman juga dilakukan dengan pemupukan berimbang sesuai kondisi lahan serta pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) sesuai kebutuhan.

    Dinas Pertanian PPU sebelumnya menargetkan penerapan PM-AAS dimulai Agustus. Namun, jadwal tersebut disesuaikan karena kawasan Babulu masih memasuki puncak panen.

    "Agustus masih puncak panen di Babulu. Karena itu tahap awal kami jadwalkan Oktober seluas 893 hektare. Selanjutnya dilanjutkan pada November dan Desember sampai seluruh alokasi 3.456 hektare terpenuhi," jelas dia.

    Untuk mendukung pelaksanaan, Dinas Pertanian PPU mengusulkan bantuan benih, fungisida dan pupuk kepada pemerintah pusat. Kebutuhan benih PM-AAS lebih banyak dibandingkan pola tanam biasa.

    Jika pola tanam biasa membutuhkan sekitar 40 kilogram benih per hektare, PM-AAS membutuhkan sekitar 90 kilogram per hektare.

    Sejumlah varietas yang direkomendasikan untuk penerapan PM-AAS di antaranya Inpari 32, Inpari 42 dan Mekongga.

    Lanjut Gunawan, PPU tidak memasang target produksi setinggi hasil uji coba PM-AAS di daerah lain. Dengan produktivitas padi PPU saat ini sekitar 3,52 ton per hektare, capaian 5 ton per hektare melalui metode tersebut sudah dinilai sebagai peningkatan besar.

    "Target kami tidak muluk-muluk. Kalau PM-AAS di PPU bisa mencapai 5 ton per hektare saja, itu sudah prestasi luar biasa," katanya.

    Dengan target produktivitas tersebut, produksi padi PPU tahun ini diproyeksikan dapat mencapai sekitar 50 ribu ton. 

    Gunawan berharap penerapan PM-AAS dapat mendorong produktivitas padi sekaligus membantu mengejar target pembangunan sektor pertanian yang telah ditetapkan dalam RPJMD.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Pertanian Modern PM-AAS Diterapkan di Babulu, PPU Tak Muluk-muluk Bidik 5 Ton per Hektare

    Penulis:Cindy|Redaktur:Rusdinto
    04 Agustus 2026 pukul 20:52 WITA

    Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian PPU, Gunawan. (Foto: Cindy/seputarfakta.com)

    Penajam - Dinas Pertanian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menyiapkan penerapan Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kecamatan Babulu. Program tersebut menyasar lahan seluas 3.456 hektare, dengan tahap awal 893 hektare yang dijadwalkan mulai ditanam pada Oktober 2026.

    Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian PPU, Gunawan mengatakan PM-AAS merupakan gagasan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang mengadopsi praktik pertanian dari Arkansas, Amerika Serikat, lalu dipadukan dengan sistem jajar legowo di Indonesia. Sistem ini memang diarahkan untuk meningkatkan populasi tanaman dan produktivitas padi.

    Dalam penerapannya, PM-AAS menggunakan sistem tanam benih langsung dengan jarak tanam rapat, namun tetap mempertahankan jarak antarbaris. Pola yang direkomendasikan yakni jajar legowo 4:1 dan 6:1.

    "Konsepnya memperbanyak populasi tanaman dalam satu hektare dengan tetap mengatur jarak antarbaris. Dengan populasi yang lebih tinggi, produksi juga diharapkan meningkat," kata Gunawan, Selasa (4/8/2026).

    Melalui pola tersebut, populasi tanaman ditargetkan mencapai sekitar 1 juta hingga 1,2 juta rumpun per hektare, atau sekitar dua kali lipat dibanding pola tanam biasa.

    Metode PM-AAS telah diuji di sejumlah daerah dengan hasil produksi di atas 10 ton per hektare. Pemerintah pusat menyebut hasil uji lapangan telah mencapai 12,4 ton per hektare.

    Namun, Gunawan mengatakan penerapannya di PPU tetap menyesuaikan kondisi lahan. Salah satu syarat utamanya ialah ketersediaan air yang cukup. Idealnya, PM-AAS diterapkan pada lahan sawah beririgasi teknis maupun setengah teknis.

    "Di PPU sebagian lahannya masih tadah hujan. Tapi yang paling penting airnya cukup untuk mendukung pertumbuhan tanaman," ujarnya.

    Selain pola tanam, PM-AAS mengharuskan penggunaan mekanisasi dalam proses budidaya. Dinas Pertanian PPU telah memiliki sejumlah alat dan mesin pertanian, seperti rotavator, traktor roda empat, drone hingga combine harvester.

    Pelaksanaan program akan melibatkan 18 Brigade Pangan yang menjadi penerima manfaat kegiatan optimalisasi lahan (oplah) tahap pertama. Brigade Pangan yang memiliki peralatan mekanisasi menjadi pelaksana utama di lapangan.

    "Pelaksanaannya nanti melalui Brigade Pangan yang sudah memiliki peralatan mekanisasi. Memang arahnya ke pertanian modern, jadi penggunaan alat mesin pertanian menjadi bagian penting," kata Gunawan.

    Pemeliharaan tanaman juga dilakukan dengan pemupukan berimbang sesuai kondisi lahan serta pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT) sesuai kebutuhan.

    Dinas Pertanian PPU sebelumnya menargetkan penerapan PM-AAS dimulai Agustus. Namun, jadwal tersebut disesuaikan karena kawasan Babulu masih memasuki puncak panen.

    "Agustus masih puncak panen di Babulu. Karena itu tahap awal kami jadwalkan Oktober seluas 893 hektare. Selanjutnya dilanjutkan pada November dan Desember sampai seluruh alokasi 3.456 hektare terpenuhi," jelas dia.

    Untuk mendukung pelaksanaan, Dinas Pertanian PPU mengusulkan bantuan benih, fungisida dan pupuk kepada pemerintah pusat. Kebutuhan benih PM-AAS lebih banyak dibandingkan pola tanam biasa.

    Jika pola tanam biasa membutuhkan sekitar 40 kilogram benih per hektare, PM-AAS membutuhkan sekitar 90 kilogram per hektare.

    Sejumlah varietas yang direkomendasikan untuk penerapan PM-AAS di antaranya Inpari 32, Inpari 42 dan Mekongga.

    Lanjut Gunawan, PPU tidak memasang target produksi setinggi hasil uji coba PM-AAS di daerah lain. Dengan produktivitas padi PPU saat ini sekitar 3,52 ton per hektare, capaian 5 ton per hektare melalui metode tersebut sudah dinilai sebagai peningkatan besar.

    "Target kami tidak muluk-muluk. Kalau PM-AAS di PPU bisa mencapai 5 ton per hektare saja, itu sudah prestasi luar biasa," katanya.

    Dengan target produktivitas tersebut, produksi padi PPU tahun ini diproyeksikan dapat mencapai sekitar 50 ribu ton. 

    Gunawan berharap penerapan PM-AAS dapat mendorong produktivitas padi sekaligus membantu mengejar target pembangunan sektor pertanian yang telah ditetapkan dalam RPJMD.

    (Sf/Rs)