Seputar Kaltim

    Pernah Merasa “Hanya Beruntung?” Bisa jadi itu Imposter Syndrome

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    04 Mei 2026 pukul 21:01 WITA

    Ilustrasi dari imposter syndrome (Foto: Generate Gemini AI)

    Tenggarong – Pernah merasa pencapaian yang diraih, seperti promosi jabatan atau keberhasilan proyek, hanyalah hasil keberuntungan? Jika ya, kondisi tersebut bisa jadi merupakan imposter syndrome.

    Fenomena ini merujuk pada kondisi ketika seseorang tidak mampu menginternalisasi keberhasilannya sendiri dan justru menganggap kesuksesan sebagai hasil keberuntungan atau faktor eksternal. Penjelasan ini sejalan dengan uraian dalam artikel kesehatan Alodokter yang menyebut bahwa individu dengan imposter syndrome kerap merasa tidak pantas atas pencapaiannya dan takut dianggap sebagai “penipu” meski memiliki kemampuan nyata.

    Akibatnya, individu yang mengalaminya cenderung diliputi rasa ragu, bahkan khawatir suatu saat akan “terbongkar” sebagai tidak kompeten. Kondisi ini ironisnya justru banyak terjadi pada kalangan berprestasi.

    Temuan ilmiah juga memperkuat hal tersebut. Dalam kajian yang dipublikasikan di Journal of General Internal Medicine, imposter syndrome ditemukan luas pada berbagai kelompok, mulai dari pelajar hingga profesional, dengan prevalensi yang bervariasi antara 9 hingga 82 persen tergantung metode pengukuran yang digunakan.

    Beberapa ciri yang umum muncul antara lain sulit menerima pujian, mengaitkan keberhasilan dengan keberuntungan, serta bersikap terlalu keras terhadap diri sendiri saat melakukan kesalahan kecil. Bahkan, individu dengan kondisi ini cenderung memiliki penilaian diri yang tidak akurat terhadap kemampuan yang sebenarnya dimiliki.

    Selain itu, imposter syndrome juga erat kaitannya dengan tekanan lingkungan. Artikel medis yang dipublikasikan oleh NCBI menjelaskan bahwa kondisi ini sering muncul pada individu berprestasi tinggi yang tidak mampu mengakui keberhasilannya sendiri, dan kerap disertai kecemasan serta ketakutan dianggap tidak layak.

    Di era digital, kondisi ini semakin diperparah oleh budaya perbandingan di media sosial. Seseorang lebih sering melihat keberhasilan orang lain tanpa mengetahui proses di baliknya, sehingga memicu perasaan tertinggal atau tidak cukup baik.

    Meski demikian, kondisi ini bukan tanpa solusi. Mengenali pola pikir yang keliru menjadi langkah awal untuk mengatasinya. Mengakui pencapaian, sekecil apa pun, dapat membantu membangun kepercayaan diri secara bertahap.

    Selain itu, mengubah cara pandang dari “sekadar beruntung” menjadi “hasil dari usaha dan kemampuan” juga menjadi kunci penting dalam mengelola perasaan tersebut.

    Fenomena ini bahkan pernah dialami oleh tokoh dunia seperti Albert Einstein, Michelle Obama, Sheryl Sandberg, hingga Lady Gaga, yang menunjukkan bahwa keraguan terhadap diri sendiri dapat dialami siapa saja.

    Di satu sisi, perasaan ini dapat mendorong seseorang untuk bekerja lebih keras. Namun di sisi lain, jika tidak dikendalikan, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental, termasuk memicu stres, kecemasan, hingga kelelahan.

    Pada akhirnya, mengenali imposter syndrome menjadi langkah awal untuk mengelolanya. Sebab, di balik rasa ragu tersebut, sering kali terdapat kemampuan yang telah terbukti nyata.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Pernah Merasa “Hanya Beruntung?” Bisa jadi itu Imposter Syndrome

    Penulis:Arsensia Serlyani|Redaktur:Rusdianto
    04 Mei 2026 pukul 21:01 WITA

    Ilustrasi dari imposter syndrome (Foto: Generate Gemini AI)

    Tenggarong – Pernah merasa pencapaian yang diraih, seperti promosi jabatan atau keberhasilan proyek, hanyalah hasil keberuntungan? Jika ya, kondisi tersebut bisa jadi merupakan imposter syndrome.

    Fenomena ini merujuk pada kondisi ketika seseorang tidak mampu menginternalisasi keberhasilannya sendiri dan justru menganggap kesuksesan sebagai hasil keberuntungan atau faktor eksternal. Penjelasan ini sejalan dengan uraian dalam artikel kesehatan Alodokter yang menyebut bahwa individu dengan imposter syndrome kerap merasa tidak pantas atas pencapaiannya dan takut dianggap sebagai “penipu” meski memiliki kemampuan nyata.

    Akibatnya, individu yang mengalaminya cenderung diliputi rasa ragu, bahkan khawatir suatu saat akan “terbongkar” sebagai tidak kompeten. Kondisi ini ironisnya justru banyak terjadi pada kalangan berprestasi.

    Temuan ilmiah juga memperkuat hal tersebut. Dalam kajian yang dipublikasikan di Journal of General Internal Medicine, imposter syndrome ditemukan luas pada berbagai kelompok, mulai dari pelajar hingga profesional, dengan prevalensi yang bervariasi antara 9 hingga 82 persen tergantung metode pengukuran yang digunakan.

    Beberapa ciri yang umum muncul antara lain sulit menerima pujian, mengaitkan keberhasilan dengan keberuntungan, serta bersikap terlalu keras terhadap diri sendiri saat melakukan kesalahan kecil. Bahkan, individu dengan kondisi ini cenderung memiliki penilaian diri yang tidak akurat terhadap kemampuan yang sebenarnya dimiliki.

    Selain itu, imposter syndrome juga erat kaitannya dengan tekanan lingkungan. Artikel medis yang dipublikasikan oleh NCBI menjelaskan bahwa kondisi ini sering muncul pada individu berprestasi tinggi yang tidak mampu mengakui keberhasilannya sendiri, dan kerap disertai kecemasan serta ketakutan dianggap tidak layak.

    Di era digital, kondisi ini semakin diperparah oleh budaya perbandingan di media sosial. Seseorang lebih sering melihat keberhasilan orang lain tanpa mengetahui proses di baliknya, sehingga memicu perasaan tertinggal atau tidak cukup baik.

    Meski demikian, kondisi ini bukan tanpa solusi. Mengenali pola pikir yang keliru menjadi langkah awal untuk mengatasinya. Mengakui pencapaian, sekecil apa pun, dapat membantu membangun kepercayaan diri secara bertahap.

    Selain itu, mengubah cara pandang dari “sekadar beruntung” menjadi “hasil dari usaha dan kemampuan” juga menjadi kunci penting dalam mengelola perasaan tersebut.

    Fenomena ini bahkan pernah dialami oleh tokoh dunia seperti Albert Einstein, Michelle Obama, Sheryl Sandberg, hingga Lady Gaga, yang menunjukkan bahwa keraguan terhadap diri sendiri dapat dialami siapa saja.

    Di satu sisi, perasaan ini dapat mendorong seseorang untuk bekerja lebih keras. Namun di sisi lain, jika tidak dikendalikan, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental, termasuk memicu stres, kecemasan, hingga kelelahan.

    Pada akhirnya, mengenali imposter syndrome menjadi langkah awal untuk mengelolanya. Sebab, di balik rasa ragu tersebut, sering kali terdapat kemampuan yang telah terbukti nyata.

    (Sf/Rs)