Cari disini...
Seputar Kaltim
Kepala DPPKBP3A Berau, Rabiatul Islamiah. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Kasus dugaan pelecehan seksual yang diduga melibatkan figur publik daerah berinisial AS membuat gempar masyarakat. pasalnya, AS selama ini dikenal berprestasi, mulai dari Juara II Duta Budaya Berau 2022, penerima Penghargaan Pramuka Berprestasi, masuk nominasi 50 besar Pertamina Foundation 2021, serta tercatat sebagai Strategi Intervensi Gerakan Akselerasi Pembangunan (SIGAP) di Daerah Berau
Menanggapi hal itu, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Berau menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak. hal ini dibuktikan dengan respon cepatnya dalam memberi pendampingan terkait kasus kekerasan yang tengah viral baru-baru ini.
Kepala DPPKBP3A Berau, Rabiatul Islamiah, menyampaikan bahwa pihaknya langsung merespons cepat sejak laporan awal diterima. Pendampingan terhadap korban juga dilakukan secara menyeluruh, termasuk konseling dan asesmen psikologis.
"Kita langsung gali informasinya melalui sekolah, kecamatan, hingga koordinasi dengan polsek setempat. Dari hasil konseling, jika dinilai membutuhkan penanganan lanjutan, maka akan dirujuk ke psikolog. Jika tidak, anak tetap akan kami monitor sampai kondisinya pulih," jelas Rabiatul.
Ia menegaskan, seluruh proses pendampingan dilakukan secara tertutup untuk menjaga keamanan dan privasi korban.
"Lokasi konseling juga dipindahkan ke tempat aman agar tidak terekspos publik dan korban merasa aman. Hal ini penting agar tidak memberi tekanan bagi korban," ujarnya.
Sementara itu, dirinya juga mengatakan hingga saat ini jumlah pasti korban belum terungkap. Menurut informasi di lapangan menyebutkan dugaan ada belasan anak yang mungkin terlibat. Namun, ia menegaskan bahwa hanya mereka yang melapor secara resmi bersama orang tua yang dapat ditangani sesuai prosedur.
"Kami tidak memiliki kewenangan mencari korban. Kami bergerak berdasarkan laporan resmi. Namun, pencarian informasi tetap dilakukan oleh sekolah dan kecamatan untuk memastikan apakah ada korban lain yang perlu pendampingan," terangnya.
Selain fokus pada anak, DPPKBP3A juga memberikan pendampingan kepada para orang tua korban sekaligus meningkatkan edukasi mengenai pencegahan kekerasan seksual di lingkungan sekolah dan masyarakat.
"Sosialisasi perlindungan anak ini sebenarnya telah kami lakukan sebelum ada kasus yang viral ini," katanya.
Terakhir, Rabiatul juga mengingatkan masyarakat bahwa pelaporan cepat sangat penting dalam menangani kasus kekerasan seksual terhadap anak.
"Keberanian melapor ini penting. Semakin cepat, semakin besar peluang kita melindungi dan memulihkan kondisi anak-anak," tandasnya.
Laporan dapat disampaikan melalui jaringan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), layanan Sapa 129, maupun aparat seperti Polsek dan Koramil terdekat.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Kepala DPPKBP3A Berau, Rabiatul Islamiah. (Foto: Baiq Eliana/seputarfakta.com)
Tanjung Redeb - Kasus dugaan pelecehan seksual yang diduga melibatkan figur publik daerah berinisial AS membuat gempar masyarakat. pasalnya, AS selama ini dikenal berprestasi, mulai dari Juara II Duta Budaya Berau 2022, penerima Penghargaan Pramuka Berprestasi, masuk nominasi 50 besar Pertamina Foundation 2021, serta tercatat sebagai Strategi Intervensi Gerakan Akselerasi Pembangunan (SIGAP) di Daerah Berau
Menanggapi hal itu, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Berau menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat upaya perlindungan terhadap perempuan dan anak. hal ini dibuktikan dengan respon cepatnya dalam memberi pendampingan terkait kasus kekerasan yang tengah viral baru-baru ini.
Kepala DPPKBP3A Berau, Rabiatul Islamiah, menyampaikan bahwa pihaknya langsung merespons cepat sejak laporan awal diterima. Pendampingan terhadap korban juga dilakukan secara menyeluruh, termasuk konseling dan asesmen psikologis.
"Kita langsung gali informasinya melalui sekolah, kecamatan, hingga koordinasi dengan polsek setempat. Dari hasil konseling, jika dinilai membutuhkan penanganan lanjutan, maka akan dirujuk ke psikolog. Jika tidak, anak tetap akan kami monitor sampai kondisinya pulih," jelas Rabiatul.
Ia menegaskan, seluruh proses pendampingan dilakukan secara tertutup untuk menjaga keamanan dan privasi korban.
"Lokasi konseling juga dipindahkan ke tempat aman agar tidak terekspos publik dan korban merasa aman. Hal ini penting agar tidak memberi tekanan bagi korban," ujarnya.
Sementara itu, dirinya juga mengatakan hingga saat ini jumlah pasti korban belum terungkap. Menurut informasi di lapangan menyebutkan dugaan ada belasan anak yang mungkin terlibat. Namun, ia menegaskan bahwa hanya mereka yang melapor secara resmi bersama orang tua yang dapat ditangani sesuai prosedur.
"Kami tidak memiliki kewenangan mencari korban. Kami bergerak berdasarkan laporan resmi. Namun, pencarian informasi tetap dilakukan oleh sekolah dan kecamatan untuk memastikan apakah ada korban lain yang perlu pendampingan," terangnya.
Selain fokus pada anak, DPPKBP3A juga memberikan pendampingan kepada para orang tua korban sekaligus meningkatkan edukasi mengenai pencegahan kekerasan seksual di lingkungan sekolah dan masyarakat.
"Sosialisasi perlindungan anak ini sebenarnya telah kami lakukan sebelum ada kasus yang viral ini," katanya.
Terakhir, Rabiatul juga mengingatkan masyarakat bahwa pelaporan cepat sangat penting dalam menangani kasus kekerasan seksual terhadap anak.
"Keberanian melapor ini penting. Semakin cepat, semakin besar peluang kita melindungi dan memulihkan kondisi anak-anak," tandasnya.
Laporan dapat disampaikan melalui jaringan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), layanan Sapa 129, maupun aparat seperti Polsek dan Koramil terdekat.
(Sf/Rs)