Seputar Kaltim

    Perizinan Mudah Bikin Kafe di Samarinda Semakin Menjamur

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    16 Desember 2023 pukul 18:55 WITA

    Salah satu kafe di Samarinda terdapat banyak pelanggan. (Foto : Ilustrasi Istimewa)

    Samarinda - Setelah ditetapkan dalam undang-undang ekonomi kreatif (Ekraf), Industri kafe dan resto di Samarinda semakin menjamur. Dari data yang dihimpun oleh Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kota Samarinda, melalui bidang Ekraf terdata pada akhir Oktober 2023 ada 196 kafe dan resto. 

    Kota Samarinda yang saat ini dijuluki oleh warganet sebagai kota seribu cafe ini betul adanya. Setiap sudut jalan di Kota Samarinda, setidaknya ada satu tempat kopi yang buka. Bahkan, tempat kopi rumahan mulai dibidik oleh warga lokal untuk mendirikan usaha tersebut.

    Pengamat Ekonomi Mikro, Ahmad Syarif mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi pesatnya perkembangan warung kopi di Samarinda ini bisa berdiri sebanyak ini. Adapun, faktor yang disebutkan ini melalui beberapa riset kecil yang telah dilakukan. Pertama, adanya budaya nongkrong. "Industri kopi itu mencari tempat dimana anak muda itu biasa nongkrong, dan di situlah dibuatkan kafe. Target pasar yang tepat, karena sambil nongkrong, tentu ngopi," ungkap Syarif ditemui di kediamannya di Samarinda, Sabtu (16/12/2023).

    Kedua, faktor upper middle income dan high income di Samarinda kini naik. Apalagi baru-baru ini Kaltim termasuk provinsi memiliki high income. Pengaruh tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh pengembang cafe. "Dengan memanfaatkan itu, harga kopi tidak terlalu mahal dan tidak terlalu murah. Dengan kisaran harga Rp15 ribu - Rp25 ribu menurut upper middle income ini masih kategori wajar," bebernya.

    Selanjutnya budaya baru yang selalu dibuat oleh generasi z. sehingga adanya penyesuaian yang terjadi. Nampak saat ini budaya generasi z dengan mengunggah foto-foto dari tempat kopi yang ia singgahi. Sehingga daripada itu pemilik kafe berlomba-lomba untuk memberikan tempat yang nyaman dan indah.

    "Tempat yang tenang dan indah, sudah pasti memikat kalangan mudah untuk berkunjung ke tempat itu. Dan pola ini diikuti banyak cafe lainnya, bahkan banyak yang telah merombak tempatnya agar lebih fresh dan kekinian. Contohnya seperti vinz Ice-cream, beberapa tempatnya sudah di renovasi. Tak heran jika cafe-cafe di dalam gang itu bagus, karena konsep ini yang dapat memikat pelanggan kalangan muda," jabarnya.

    Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UINSI Samarinda ini pun menegaskan semua ini kembali pada perizinan yang mudah diberikan oleh pemerintah terhadap pelaku di industri kuliner kreatif ini. "Entry barrier (hambatan masuk) terkadang dialami oleh usaha yang merintis, biasanya perihal izin dari pemerintah hambatannya, namun di Kota Samarinda ini belum ada hambatan khusus bagi para pengusaha terkait perizinan," jelasnya.

    Ia bahkan menyayangkan hal tersebut, apabila ada lokasi yang seharusnya itu menjadi ketentuan Ruang Terbuka Hijau (RTH), namun tetap ada perizinan. "Hal ini yang ditakutkan, karena banyak di daerah hulu Kota Samarinda, yang sudah dibidik oleh beberapa investor luar untuk ditempati sebagai kafe dengan konsep alam, tetap saja akan menimbulkan ketidakseimbangan alam nantinya," tuturnya.

    Dalam peningkatan industri kreatif ini, Syarif menyebut belum ada dampak atau ancaman yang signifikan terhadap usaha warung kopi jalanan dan warung makan. Ini dipengaruhi segmentasi pasar yang sudah ada. Dan mereka tidak akan tutup, karena sudah memiliki pelanggannya. "Sudah ada pasarnya masing-masing, tingkat lower middle income di Samarinda juga masih banyak, terutama dari daerah lain. Orang yang menengah atas bisa menjangkau pasar bawah, sedangkan yang bawah sulit untuk menjangkau pasar diatas," pungkasnya.

    (Sf/Rs)

     

    Seputar Kaltim

    Perizinan Mudah Bikin Kafe di Samarinda Semakin Menjamur

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    16 Desember 2023 pukul 18:55 WITA

    Salah satu kafe di Samarinda terdapat banyak pelanggan. (Foto : Ilustrasi Istimewa)

    Samarinda - Setelah ditetapkan dalam undang-undang ekonomi kreatif (Ekraf), Industri kafe dan resto di Samarinda semakin menjamur. Dari data yang dihimpun oleh Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Kota Samarinda, melalui bidang Ekraf terdata pada akhir Oktober 2023 ada 196 kafe dan resto. 

    Kota Samarinda yang saat ini dijuluki oleh warganet sebagai kota seribu cafe ini betul adanya. Setiap sudut jalan di Kota Samarinda, setidaknya ada satu tempat kopi yang buka. Bahkan, tempat kopi rumahan mulai dibidik oleh warga lokal untuk mendirikan usaha tersebut.

    Pengamat Ekonomi Mikro, Ahmad Syarif mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi pesatnya perkembangan warung kopi di Samarinda ini bisa berdiri sebanyak ini. Adapun, faktor yang disebutkan ini melalui beberapa riset kecil yang telah dilakukan. Pertama, adanya budaya nongkrong. "Industri kopi itu mencari tempat dimana anak muda itu biasa nongkrong, dan di situlah dibuatkan kafe. Target pasar yang tepat, karena sambil nongkrong, tentu ngopi," ungkap Syarif ditemui di kediamannya di Samarinda, Sabtu (16/12/2023).

    Kedua, faktor upper middle income dan high income di Samarinda kini naik. Apalagi baru-baru ini Kaltim termasuk provinsi memiliki high income. Pengaruh tersebut dimanfaatkan dengan baik oleh pengembang cafe. "Dengan memanfaatkan itu, harga kopi tidak terlalu mahal dan tidak terlalu murah. Dengan kisaran harga Rp15 ribu - Rp25 ribu menurut upper middle income ini masih kategori wajar," bebernya.

    Selanjutnya budaya baru yang selalu dibuat oleh generasi z. sehingga adanya penyesuaian yang terjadi. Nampak saat ini budaya generasi z dengan mengunggah foto-foto dari tempat kopi yang ia singgahi. Sehingga daripada itu pemilik kafe berlomba-lomba untuk memberikan tempat yang nyaman dan indah.

    "Tempat yang tenang dan indah, sudah pasti memikat kalangan mudah untuk berkunjung ke tempat itu. Dan pola ini diikuti banyak cafe lainnya, bahkan banyak yang telah merombak tempatnya agar lebih fresh dan kekinian. Contohnya seperti vinz Ice-cream, beberapa tempatnya sudah di renovasi. Tak heran jika cafe-cafe di dalam gang itu bagus, karena konsep ini yang dapat memikat pelanggan kalangan muda," jabarnya.

    Akademisi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UINSI Samarinda ini pun menegaskan semua ini kembali pada perizinan yang mudah diberikan oleh pemerintah terhadap pelaku di industri kuliner kreatif ini. "Entry barrier (hambatan masuk) terkadang dialami oleh usaha yang merintis, biasanya perihal izin dari pemerintah hambatannya, namun di Kota Samarinda ini belum ada hambatan khusus bagi para pengusaha terkait perizinan," jelasnya.

    Ia bahkan menyayangkan hal tersebut, apabila ada lokasi yang seharusnya itu menjadi ketentuan Ruang Terbuka Hijau (RTH), namun tetap ada perizinan. "Hal ini yang ditakutkan, karena banyak di daerah hulu Kota Samarinda, yang sudah dibidik oleh beberapa investor luar untuk ditempati sebagai kafe dengan konsep alam, tetap saja akan menimbulkan ketidakseimbangan alam nantinya," tuturnya.

    Dalam peningkatan industri kreatif ini, Syarif menyebut belum ada dampak atau ancaman yang signifikan terhadap usaha warung kopi jalanan dan warung makan. Ini dipengaruhi segmentasi pasar yang sudah ada. Dan mereka tidak akan tutup, karena sudah memiliki pelanggannya. "Sudah ada pasarnya masing-masing, tingkat lower middle income di Samarinda juga masih banyak, terutama dari daerah lain. Orang yang menengah atas bisa menjangkau pasar bawah, sedangkan yang bawah sulit untuk menjangkau pasar diatas," pungkasnya.

    (Sf/Rs)