Seputar Kaltim

    Peringati Hari Lahir Pancasila, Bupati Kutim: Pancasila bukan simbol, tapi jiwa bangsa

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (2/6/2025), di halaman Kantor Bupati Kutim. (Foto-Lisda/seputarfakta. com)

    Sangatta — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila dengan mengusung tema “Memperkokoh Ideologi Pancasila Menuju Indonesia Raya”, Senin (2/6/2025), di halaman Kantor Bupati Kutim.

    Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar simbol, dokumen historis atau teks normatif, tetapi merupakan jiwa bangsa dan pedoman hidup bersama.

    “Pancasila adalah bintang penuntun dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,” ujar Ardiansyah.

    Ia mengatakan, di tengah berbagai tantangan bangsa dan cepatnya perubahan global, Pancasila harus menjadi kekuatan pemersatu, tidak hanya secara ideologis, tetapi juga dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, dan keberagaman.

    “Kita menyadari bahwa kemajuan tanpa arah ideologis akan mudah goyah. Kemajuan ekonomi tanpa pondasi nilai-nilai Pancasila bisa melahirkan ketimpangan. Kemajuan teknologi tanpa bimbingan moral Pancasila bisa menjerumuskan bangsa pada dehumanisasi,” tambahnya.

    Lebih lanjut, Ardiansyah menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan, yang selaras dengan Asta Cita delapan agenda prioritas nasional menuju Indonesia Emas 2045. Salah satu pilar utamanya adalah memperkuat ideologi Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia.

    “Memperkokoh ideologi Pancasila berarti menegaskan kembali bahwa pembangunan bangsa harus selalu berakar pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Di era globalisasi dan digitalisasi yang semakin kompleks, tantangan terhadap Pancasila pun semakin nyata,” jelasnya.

    Ardiansyah menyebutkan ada empat sektor strategis yang perlu menjadi fokus dalam upaya revitalisasi nilai-nilai Pancasila:

    1. Pendidikan Penanaman nilai Pancasila harus dimulai sejak dini, tidak hanya dalam pelajaran formal, tetapi juga melalui praktik kehidupan sehari-hari.

    2. Pemerintahan dan Birokrasi Pelayanan publik harus mencerminkan nilai keadilan, transparansi, dan keberpihakan pada rakyat, sesuai semangat kemanusiaan dan keadilan sosial.

    3. Ekonomi Pembangunan ekonomi harus merata dan berkeadilan, tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang.

    4. Ruang Digital. Dunia maya bukan ruang bebas nilai. Etika, toleransi, dan saling menghargai tetap harus ditegakkan. Pancasila harus menjadi panduan dalam berinteraksi di media sosial maupun platform digital lainnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Peringati Hari Lahir Pancasila, Bupati Kutim: Pancasila bukan simbol, tapi jiwa bangsa

    Penulis:Lisda|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila, Senin (2/6/2025), di halaman Kantor Bupati Kutim. (Foto-Lisda/seputarfakta. com)

    Sangatta — Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila dengan mengusung tema “Memperkokoh Ideologi Pancasila Menuju Indonesia Raya”, Senin (2/6/2025), di halaman Kantor Bupati Kutim.

    Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar simbol, dokumen historis atau teks normatif, tetapi merupakan jiwa bangsa dan pedoman hidup bersama.

    “Pancasila adalah bintang penuntun dalam mewujudkan cita-cita Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur,” ujar Ardiansyah.

    Ia mengatakan, di tengah berbagai tantangan bangsa dan cepatnya perubahan global, Pancasila harus menjadi kekuatan pemersatu, tidak hanya secara ideologis, tetapi juga dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, dan keberagaman.

    “Kita menyadari bahwa kemajuan tanpa arah ideologis akan mudah goyah. Kemajuan ekonomi tanpa pondasi nilai-nilai Pancasila bisa melahirkan ketimpangan. Kemajuan teknologi tanpa bimbingan moral Pancasila bisa menjerumuskan bangsa pada dehumanisasi,” tambahnya.

    Lebih lanjut, Ardiansyah menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan, yang selaras dengan Asta Cita delapan agenda prioritas nasional menuju Indonesia Emas 2045. Salah satu pilar utamanya adalah memperkuat ideologi Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia.

    “Memperkokoh ideologi Pancasila berarti menegaskan kembali bahwa pembangunan bangsa harus selalu berakar pada nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial. Di era globalisasi dan digitalisasi yang semakin kompleks, tantangan terhadap Pancasila pun semakin nyata,” jelasnya.

    Ardiansyah menyebutkan ada empat sektor strategis yang perlu menjadi fokus dalam upaya revitalisasi nilai-nilai Pancasila:

    1. Pendidikan Penanaman nilai Pancasila harus dimulai sejak dini, tidak hanya dalam pelajaran formal, tetapi juga melalui praktik kehidupan sehari-hari.

    2. Pemerintahan dan Birokrasi Pelayanan publik harus mencerminkan nilai keadilan, transparansi, dan keberpihakan pada rakyat, sesuai semangat kemanusiaan dan keadilan sosial.

    3. Ekonomi Pembangunan ekonomi harus merata dan berkeadilan, tidak hanya dinikmati oleh segelintir orang.

    4. Ruang Digital. Dunia maya bukan ruang bebas nilai. Etika, toleransi, dan saling menghargai tetap harus ditegakkan. Pancasila harus menjadi panduan dalam berinteraksi di media sosial maupun platform digital lainnya.

    (Sf/Rs)