Cari disini...
Seputar Kaltim
Bicara soal demokrasi dan perempuan oleh Forum Intelektual Muda. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Peringatan Hari Kartini tahun ini terasa makin spesial di Kalimantan Timur (Kaltim). Menyambut dinamika Ibu Kota Nusantara (IKN), Forum Intelektual Muda berkolaborasi dengan KOPRI PKC Kaltim menggelar acara diskusi publik yang inspiratif.
Keduanya menginisiasi Focus Group Discussion (FGD) dan Debat Terbuka bertajuk "Kartini, Demokrasi dan Demonstrasi Membaca Ulang Peran Perempuan dan Gerakan Sipil di Tengah Dinamika Kalimantan Timur".
Acara ini berlangsung di Bagios Caffe and Resto, Samarinda, pada Selasa (21/4/2026) malam. Pesan utamanya jelas perempuan masa kini bukan lagi sekadar pelengkap, tapi sudah bertransformasi menjadi aktor penentu arah dan narasi gerakan sipil.
Co-Founder Forum Intelektual Muda, Sutisna mengungkap masifnya ruang diskusi di Kaltim adalah bukti nyata masyarakat Benua Etam kritis dalam merespons perkembangan zaman lewat kajian yang relevan.
"Apalagi saat ini Kaltim sedang banyak dilirik dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN). Oleh karena itu, apapun dinamika yang hadir juga harus disikapi dengan baik," kata Sutisna.
Acara ini dihadiri tiga narasumber top dari latar belakang berbeda. Penasehat TAGUPP Kaltim, Bambang Widjayanto menyoroti kehebatan pemikiran R A Kartini yang mampu menembus zaman.
"Kita bisa melihat bagaimana seorang Kartini mampu membongkar sebuah sistem yang feodal pada masanya hanya melalui tulisan-tulisannya. Fondasi peradaban itu dibangun dari membaca dan menulis," tegas Bambang di hadapan para peserta.
Dari kacamata kebijakan, Praktisi Hukum Rusdiono membeberkan bukti iklim politik di Kaltim sudah memberi ruang luas bagi perempuan.
Ini dibuktikan dari lahirnya beberapa kepala daerah perempuan di Kaltim. Ia pun menantang generasi muda perempuan untuk tak ragu mengisi posisi strategis dan mengawal kebijakan publik.
Tak ketinggalan, Aktivis Perempuan Kaltim, Yovanda Noni memberikan pandangan tajam soal makna emansipasi zaman now. Menurutnya, esensi perjuangan Kartini masa kini harus lebih berani dari sekadar menuntut kesetaraan.
"Kartini hari ini tidak lagi sebatas menuntut kesetaraan, melainkan bagaimana perempuan mampu memimpin dan berani mengambil ruang-ruang kekuasaan," ungkap Yovanda.
Ia menambahkan pendidikan dan kebebasan berpikir adalah senjata utama agar perempuan bisa menjadi ujung tombak perubahan negara.
Melalui diskusi ini, penyelenggara berharap gerakan sipil di Kaltim yang tensinya sedang meningkat dapat diimbangi dengan kajian intelektual yang tajam.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Bicara soal demokrasi dan perempuan oleh Forum Intelektual Muda. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)
Samarinda - Peringatan Hari Kartini tahun ini terasa makin spesial di Kalimantan Timur (Kaltim). Menyambut dinamika Ibu Kota Nusantara (IKN), Forum Intelektual Muda berkolaborasi dengan KOPRI PKC Kaltim menggelar acara diskusi publik yang inspiratif.
Keduanya menginisiasi Focus Group Discussion (FGD) dan Debat Terbuka bertajuk "Kartini, Demokrasi dan Demonstrasi Membaca Ulang Peran Perempuan dan Gerakan Sipil di Tengah Dinamika Kalimantan Timur".
Acara ini berlangsung di Bagios Caffe and Resto, Samarinda, pada Selasa (21/4/2026) malam. Pesan utamanya jelas perempuan masa kini bukan lagi sekadar pelengkap, tapi sudah bertransformasi menjadi aktor penentu arah dan narasi gerakan sipil.
Co-Founder Forum Intelektual Muda, Sutisna mengungkap masifnya ruang diskusi di Kaltim adalah bukti nyata masyarakat Benua Etam kritis dalam merespons perkembangan zaman lewat kajian yang relevan.
"Apalagi saat ini Kaltim sedang banyak dilirik dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN). Oleh karena itu, apapun dinamika yang hadir juga harus disikapi dengan baik," kata Sutisna.
Acara ini dihadiri tiga narasumber top dari latar belakang berbeda. Penasehat TAGUPP Kaltim, Bambang Widjayanto menyoroti kehebatan pemikiran R A Kartini yang mampu menembus zaman.
"Kita bisa melihat bagaimana seorang Kartini mampu membongkar sebuah sistem yang feodal pada masanya hanya melalui tulisan-tulisannya. Fondasi peradaban itu dibangun dari membaca dan menulis," tegas Bambang di hadapan para peserta.
Dari kacamata kebijakan, Praktisi Hukum Rusdiono membeberkan bukti iklim politik di Kaltim sudah memberi ruang luas bagi perempuan.
Ini dibuktikan dari lahirnya beberapa kepala daerah perempuan di Kaltim. Ia pun menantang generasi muda perempuan untuk tak ragu mengisi posisi strategis dan mengawal kebijakan publik.
Tak ketinggalan, Aktivis Perempuan Kaltim, Yovanda Noni memberikan pandangan tajam soal makna emansipasi zaman now. Menurutnya, esensi perjuangan Kartini masa kini harus lebih berani dari sekadar menuntut kesetaraan.
"Kartini hari ini tidak lagi sebatas menuntut kesetaraan, melainkan bagaimana perempuan mampu memimpin dan berani mengambil ruang-ruang kekuasaan," ungkap Yovanda.
Ia menambahkan pendidikan dan kebebasan berpikir adalah senjata utama agar perempuan bisa menjadi ujung tombak perubahan negara.
Melalui diskusi ini, penyelenggara berharap gerakan sipil di Kaltim yang tensinya sedang meningkat dapat diimbangi dengan kajian intelektual yang tajam.
(Sf/Lo)