Seputar Kaltim

    Pentingnya Pola Asuh Positif dan Pendidikan Seksual Sejak Dini

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Kabid Perlindungan Anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Umar Adi. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) menilai banyak orangtua masih menerapkan pola asuh yang mereka terima dari generasi sebelumnya.

    Mereka meyakini bahwa pola lama terbukti berhasil membentuk pribadi yang sukses. Namun, seiring perkembangan zaman, pendekatan tersebut belum tentu relevan bagi generasi anak-anak saat ini.

    Hal ini disampaikan oleh Kabid Perlindungan Anak DP3AKB, Umar Adi. Ia menekankan bahwa keberhasilan seorang anak tidak hanya diukur dari kesuksesan secara akademis atau karier, tetapi juga dari kesehatan fisik dan mentalnya.

    “Pola asuh yang baik bukan berasal dari orangtua yang sempurna, tetapi dari mereka yang mau belajar, beradaptasi, dan memperbaiki diri agar tidak menyakiti anak dalam proses pengasuhan,” ucap Umar Adi saat dihubungi media, Jumat (10/10/2025).

    Menurut Umar, ada beberapa jenis pola asuh yang umum diterapkan orangtua. Mereka menuntut tinggi namun kurang responsif. Orangtua menetapkan aturan ketat menggunakan hukuman dan ancaman, serta komunikasi hanya satu arah.

    Kemudian tuntutan rendah namun sangat responsif. Anak dibiarkan bebas tanpa aturan dan konsekuensi yang jelas. Minim tuntutan dan responsivitas. Orangtua cenderung abai terhadap kebutuhan anak.

    “Bahkan seimbang antara tuntutan dan responsivitas. Aturan jelas, konsisten, komunikasi dua arah, dan mendukung kemandirian anak,” lanjutnya.

    Umar menyampaikan, bahwa peran orangtua sangat penting dalam membentuk karakter anak. Orangtua sebaiknya bersikap kongruen (selaras antara ucapan dan tindakan), asertif, dan jujur. Selain itu, menjadi pendengar yang baik, berpikir positif dan objektif, serta konsisten dalam merespons perilaku anak sangat diperlukan.

    “Ketika anak tantrum, kendalikan emosi diri terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak mengelola emosinya,” tambahnya.

    Daripada memberikan hukuman, ia menyarankan agar orangtua mengenalkan konsep konsekuensi kepada anak, agar mereka memahami hubungan antara tindakan dan dampaknya.

    Untuk menciptakan proses tumbuh kembang yang sehat, orangtua disarankan menerapkan beberapa tips seperti melatih anak bertanggung jawab sejak dini, mengajarkan untuk mengucapkan kata maaf dan terima kasih.

    Kemudian menunjukkan kasih sayang dan pujian secara tulus, hindari ancaman dan menakut-nakuti anak, jangan memberi label negatif kepada anak, ajak anak belajar memecahkan masalah sendiri, terapkan mindfulness dalam pengasuhan, menciptakan suasana belajar yang nyaman di rumah, serta amati kondisi anak dan tanyakan kebutuhannya dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan oleh orangtua.

    “Anak-anak zaman sekarang membutuhkan pendekatan yang berbeda. Orangtua harus terus belajar agar bisa menjadi tempat tumbuh yang aman dan nyaman bagi anak,” tutupnya.

    (Sf/Rs)

    Seputar Kaltim

    Pentingnya Pola Asuh Positif dan Pendidikan Seksual Sejak Dini

    Penulis:Maya Sari|Redaktur:Rusdianto
    04 Januari 2026 pukul 17:09 WITA

    Kabid Perlindungan Anak, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Umar Adi. (Foto: Maya Sari/Seputarfakta.com)

    Balikpapan - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) menilai banyak orangtua masih menerapkan pola asuh yang mereka terima dari generasi sebelumnya.

    Mereka meyakini bahwa pola lama terbukti berhasil membentuk pribadi yang sukses. Namun, seiring perkembangan zaman, pendekatan tersebut belum tentu relevan bagi generasi anak-anak saat ini.

    Hal ini disampaikan oleh Kabid Perlindungan Anak DP3AKB, Umar Adi. Ia menekankan bahwa keberhasilan seorang anak tidak hanya diukur dari kesuksesan secara akademis atau karier, tetapi juga dari kesehatan fisik dan mentalnya.

    “Pola asuh yang baik bukan berasal dari orangtua yang sempurna, tetapi dari mereka yang mau belajar, beradaptasi, dan memperbaiki diri agar tidak menyakiti anak dalam proses pengasuhan,” ucap Umar Adi saat dihubungi media, Jumat (10/10/2025).

    Menurut Umar, ada beberapa jenis pola asuh yang umum diterapkan orangtua. Mereka menuntut tinggi namun kurang responsif. Orangtua menetapkan aturan ketat menggunakan hukuman dan ancaman, serta komunikasi hanya satu arah.

    Kemudian tuntutan rendah namun sangat responsif. Anak dibiarkan bebas tanpa aturan dan konsekuensi yang jelas. Minim tuntutan dan responsivitas. Orangtua cenderung abai terhadap kebutuhan anak.

    “Bahkan seimbang antara tuntutan dan responsivitas. Aturan jelas, konsisten, komunikasi dua arah, dan mendukung kemandirian anak,” lanjutnya.

    Umar menyampaikan, bahwa peran orangtua sangat penting dalam membentuk karakter anak. Orangtua sebaiknya bersikap kongruen (selaras antara ucapan dan tindakan), asertif, dan jujur. Selain itu, menjadi pendengar yang baik, berpikir positif dan objektif, serta konsisten dalam merespons perilaku anak sangat diperlukan.

    “Ketika anak tantrum, kendalikan emosi diri terlebih dahulu sebelum mengajarkan anak mengelola emosinya,” tambahnya.

    Daripada memberikan hukuman, ia menyarankan agar orangtua mengenalkan konsep konsekuensi kepada anak, agar mereka memahami hubungan antara tindakan dan dampaknya.

    Untuk menciptakan proses tumbuh kembang yang sehat, orangtua disarankan menerapkan beberapa tips seperti melatih anak bertanggung jawab sejak dini, mengajarkan untuk mengucapkan kata maaf dan terima kasih.

    Kemudian menunjukkan kasih sayang dan pujian secara tulus, hindari ancaman dan menakut-nakuti anak, jangan memberi label negatif kepada anak, ajak anak belajar memecahkan masalah sendiri, terapkan mindfulness dalam pengasuhan, menciptakan suasana belajar yang nyaman di rumah, serta amati kondisi anak dan tanyakan kebutuhannya dan fokus pada hal-hal yang bisa dikendalikan oleh orangtua.

    “Anak-anak zaman sekarang membutuhkan pendekatan yang berbeda. Orangtua harus terus belajar agar bisa menjadi tempat tumbuh yang aman dan nyaman bagi anak,” tutupnya.

    (Sf/Rs)