Seputar Kaltim

    Penjelasan Andi Harun Mengapa Paving Block Taman Samarendah Diaspal Langsung Tanpa Dibongkar

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    20 September 2023 pukul 12:15 WITA

    Wali Kota Samarinda, Andi Harun ketika mengecek pekerjaan pengaspalan di Taman Samarendah. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melakukan pengaspalan pada jalan lingkar Taman Samarendah, mulanya mendapatkan respons positif. Asbabnya, jalan lingkar taman yang beradu muka dengan Rumah Jabatan Wakil Gubernur Kalimantan Timur itu, sejak awal memang dikeluhkan pengguna jalan, lantaran berbahan bata susun alias paving block. Kontur tanah yang cenderung tak rata, membikin paving block bergeser dan membentuk gundukan tak beraturan di sana-sini, akibat tekanan dari berat kendaraan yang melintas. 

    Duit Rp3,2 miliar digelontorkan Pemkot melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk pengaspalan. Sayang, begitu pekerjaan dimulai. Warga kota berjuluk Tepian, kembali bersuara. Kali ini, perihal pengaspalan yang dilakukan tanpa pembongkaran paving block eksisting. 

    Redaksi Seputar Fakta, mendapatkan jawaban langsung dari Wali Kota Samarinda Andi Harun, atas pertanyaan ini. 

    "Dulu treatment pertama ketika selesai dilantik dan terjadi banjir, karena ini memang kawasan rawan banjir, akhirnya saya bilang kita treatment. Treatmentnya kita buat drainase, sekarang sudah hilang banjirnya, tetap saja masih menyisakan masalah dari paving block," ungkap Andi Harun. 

    Sebelumnya, Andi mengaku mendapatkan informasi dari Dinas PUPR, bahwa alasan utama pemasangan paving block di jalan lingkar Taman Samarendah, karena banjir yang kerap terjadi di kawasan tersebut . Secara teknis, paving block dinilai lebih cepat dalam menyerap dan mengalirkan air.

    "Namun, dimana pavingnya ini tidak ada B nol (beton non struktural) atau dasarnya langsung. Bawahnya paving ini itu langsung pasir dan batu kerikil (sirtu)," jelasnya.

    Setelah dilakukan kajian, Pemkot berkesimpulan untuk langsung melakukan pengaspalan di atas badan jalan eksisting, tanpa membongkar paving block yang ada. "Di bawah paving ini sudah ada sirtu. Ditambah lagi ada paving dan paving sendiri bahannyan sirtu. Jadi, kalau kita ini harus dibuat dulu alas baru kemudian aspal, nah ini sudah ada dasarnya sirtu kemudian atasnya paving jadinya makin keras," lanjutnya.

    Menurutnya, pengerjaan pengaspalan ini tidak harus melalui cor terlebih dahulu, cukup menggunakan sirtu. Adapun dasar yang bergelombang dari paving block tersebut, kontraktor melakukan lapen (lapisan awal), setelah itu ditebar aspal, kemudian di padatkan.

    "Muncul lah mobil ini namanya konvektor mobil untuk memadatkan dan meratakan. Sehingga jalanan ini mulus dan rata tidak ada lagi bergelombang dan terpengaruh oleh bawahnya," jabarnya.

    Data dari PUPR, proyek yang bernilai Rp 3,2 miliar ini dengan lebar 3-4 meter akan selesai bulan November mendatang. Dengan itu, Andi Harun akan mengawasi jalannya kontraktor mengerjakan proyek ini.

    "Dari hasil peninjauan masih ada dua sisinya berbeda, yang satu berpori dan lainnya tidak. Ini harus diperbaiki oleh kontraktornya, kalau tidak kita blacklist," tukasnya.

    (Sf/Rs)

     

    Seputar Kaltim

    Penjelasan Andi Harun Mengapa Paving Block Taman Samarendah Diaspal Langsung Tanpa Dibongkar

    Penulis:Maulana|Redaktur:Rusdianto
    20 September 2023 pukul 12:15 WITA

    Wali Kota Samarinda, Andi Harun ketika mengecek pekerjaan pengaspalan di Taman Samarendah. (Foto: Maulana/Seputarfakta.com)

    Samarinda - Langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melakukan pengaspalan pada jalan lingkar Taman Samarendah, mulanya mendapatkan respons positif. Asbabnya, jalan lingkar taman yang beradu muka dengan Rumah Jabatan Wakil Gubernur Kalimantan Timur itu, sejak awal memang dikeluhkan pengguna jalan, lantaran berbahan bata susun alias paving block. Kontur tanah yang cenderung tak rata, membikin paving block bergeser dan membentuk gundukan tak beraturan di sana-sini, akibat tekanan dari berat kendaraan yang melintas. 

    Duit Rp3,2 miliar digelontorkan Pemkot melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk pengaspalan. Sayang, begitu pekerjaan dimulai. Warga kota berjuluk Tepian, kembali bersuara. Kali ini, perihal pengaspalan yang dilakukan tanpa pembongkaran paving block eksisting. 

    Redaksi Seputar Fakta, mendapatkan jawaban langsung dari Wali Kota Samarinda Andi Harun, atas pertanyaan ini. 

    "Dulu treatment pertama ketika selesai dilantik dan terjadi banjir, karena ini memang kawasan rawan banjir, akhirnya saya bilang kita treatment. Treatmentnya kita buat drainase, sekarang sudah hilang banjirnya, tetap saja masih menyisakan masalah dari paving block," ungkap Andi Harun. 

    Sebelumnya, Andi mengaku mendapatkan informasi dari Dinas PUPR, bahwa alasan utama pemasangan paving block di jalan lingkar Taman Samarendah, karena banjir yang kerap terjadi di kawasan tersebut . Secara teknis, paving block dinilai lebih cepat dalam menyerap dan mengalirkan air.

    "Namun, dimana pavingnya ini tidak ada B nol (beton non struktural) atau dasarnya langsung. Bawahnya paving ini itu langsung pasir dan batu kerikil (sirtu)," jelasnya.

    Setelah dilakukan kajian, Pemkot berkesimpulan untuk langsung melakukan pengaspalan di atas badan jalan eksisting, tanpa membongkar paving block yang ada. "Di bawah paving ini sudah ada sirtu. Ditambah lagi ada paving dan paving sendiri bahannyan sirtu. Jadi, kalau kita ini harus dibuat dulu alas baru kemudian aspal, nah ini sudah ada dasarnya sirtu kemudian atasnya paving jadinya makin keras," lanjutnya.

    Menurutnya, pengerjaan pengaspalan ini tidak harus melalui cor terlebih dahulu, cukup menggunakan sirtu. Adapun dasar yang bergelombang dari paving block tersebut, kontraktor melakukan lapen (lapisan awal), setelah itu ditebar aspal, kemudian di padatkan.

    "Muncul lah mobil ini namanya konvektor mobil untuk memadatkan dan meratakan. Sehingga jalanan ini mulus dan rata tidak ada lagi bergelombang dan terpengaruh oleh bawahnya," jabarnya.

    Data dari PUPR, proyek yang bernilai Rp 3,2 miliar ini dengan lebar 3-4 meter akan selesai bulan November mendatang. Dengan itu, Andi Harun akan mengawasi jalannya kontraktor mengerjakan proyek ini.

    "Dari hasil peninjauan masih ada dua sisinya berbeda, yang satu berpori dan lainnya tidak. Ini harus diperbaiki oleh kontraktornya, kalau tidak kita blacklist," tukasnya.

    (Sf/Rs)