Cari disini...
Seputar Kaltim
Pengukuhan dan pelantikan pengurus Distrik Komandan Pengawal Pusaka Adat Dayak Borneo (KOPPADB) Kabupaten Kutai Timur di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Pengurus Distrik Komandan Pengawal Pusaka Adat Dayak Borneo (KOPPADB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi dikukuhkan dan dilantik untuk masa bakti 2025–2030 di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Senin (25/12/2025).
Komandan Distrik KOPPADB Kutim, Edyson, menyampaikan KOPPADB merupakan organisasi yang menghimpun berbagai suku yang ada di Kutim tanpa membedakan latar belakang.
“Di dalam KOPPADB Borneo ini merupakan gabungan antar suku yang ada di Kutim. Inilah kehebatan kita, bisa kompak dan bersatu,” ujar Edyson.
Ia menambahkan, KOPPADB dibentuk atas gagasan bersama untuk menyatukan seluruh suku agar tidak terpecah-pecah. Menurutnya, KOPPADB menjadi salah satu organisasi yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu.
Edyson juga mengingatkan seluruh anggota agar tidak mengutamakan kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan organisasi.
“Kalau organisasi dipakai untuk kepentingan pribadi, maka tidak akan berjalan dengan baik,” tegasnya.
Di kesempatan yang sama, Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, memberikan apresiasi atas keberagaman pengurus yang dilantik. Ia mengaku terkesan karena banyak pengurus yang berasal dari berbagai suku, tidak hanya Dayak.
“Saya melihat banyak wajah selain orang Dayak yang dilantik. Ini luar biasa dan patut diapresiasi,” kata Mahyunadi.
Menurutnya, pelestarian adat dan budaya Dayak tidak bisa dilakukan oleh satu kelompok saja, tetapi perlu kerja sama semua pihak dan semua suku yang ada di Kutim.
“Adat Dayak adalah warisan bersama. Semua elemen masyarakat perlu ikut menjaga dan melestarikannya,” jelasnya.
Mahyunadi juga mengatakan keberadaan pendatang di Kutim membawa dampak positif. Para pendatang tidak hanya mencari rezeki, tetapi juga ikut berbaur dan memperkaya kehidupan sosial serta budaya masyarakat setempat.
“Kedatangan para pendatang membawa kebaikan dan keberagaman. Kemajuan daerah tercapai jika masyarakat bisa hidup rukun, saling menghargai, dan bersosialisasi dengan baik,” pungkasnya.
(Sf/Rs)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Pengukuhan dan pelantikan pengurus Distrik Komandan Pengawal Pusaka Adat Dayak Borneo (KOPPADB) Kabupaten Kutai Timur di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim. (foto:lisda/seputarfakta.com)
Sangatta - Pengurus Distrik Komandan Pengawal Pusaka Adat Dayak Borneo (KOPPADB) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) resmi dikukuhkan dan dilantik untuk masa bakti 2025–2030 di Ruang Meranti, Kantor Bupati Kutim, Senin (25/12/2025).
Komandan Distrik KOPPADB Kutim, Edyson, menyampaikan KOPPADB merupakan organisasi yang menghimpun berbagai suku yang ada di Kutim tanpa membedakan latar belakang.
“Di dalam KOPPADB Borneo ini merupakan gabungan antar suku yang ada di Kutim. Inilah kehebatan kita, bisa kompak dan bersatu,” ujar Edyson.
Ia menambahkan, KOPPADB dibentuk atas gagasan bersama untuk menyatukan seluruh suku agar tidak terpecah-pecah. Menurutnya, KOPPADB menjadi salah satu organisasi yang mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersatu.
Edyson juga mengingatkan seluruh anggota agar tidak mengutamakan kepentingan pribadi dengan mengatasnamakan organisasi.
“Kalau organisasi dipakai untuk kepentingan pribadi, maka tidak akan berjalan dengan baik,” tegasnya.
Di kesempatan yang sama, Wakil Bupati Kutim, Mahyunadi, memberikan apresiasi atas keberagaman pengurus yang dilantik. Ia mengaku terkesan karena banyak pengurus yang berasal dari berbagai suku, tidak hanya Dayak.
“Saya melihat banyak wajah selain orang Dayak yang dilantik. Ini luar biasa dan patut diapresiasi,” kata Mahyunadi.
Menurutnya, pelestarian adat dan budaya Dayak tidak bisa dilakukan oleh satu kelompok saja, tetapi perlu kerja sama semua pihak dan semua suku yang ada di Kutim.
“Adat Dayak adalah warisan bersama. Semua elemen masyarakat perlu ikut menjaga dan melestarikannya,” jelasnya.
Mahyunadi juga mengatakan keberadaan pendatang di Kutim membawa dampak positif. Para pendatang tidak hanya mencari rezeki, tetapi juga ikut berbaur dan memperkaya kehidupan sosial serta budaya masyarakat setempat.
“Kedatangan para pendatang membawa kebaikan dan keberagaman. Kemajuan daerah tercapai jika masyarakat bisa hidup rukun, saling menghargai, dan bersosialisasi dengan baik,” pungkasnya.
(Sf/Rs)