Cari disini...
Seputar Kaltim
Ilustrasi badut jalanan (Dok: istimewa)
Tenggarong - Keberadaan pengemis berkostum badut tengah berkeliaran di sejumlah titik di Tenggarong, mulai dari tepi jalan hingga persimpangan lampu merah untuk mendapatkan uang dari pengguna jalan.
Kondisi ini tentu menjadi perhatian pemerintah daerah karena aktivitas tersebut dapat mengganggu ketertiban umum, terutama jika dilakukan dengan cara meminta-minta secara paksa kepada pengguna jalan.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial dan Warga Negara Migran Korban Kekerasan Dinsos Kukar, Sunarko mengatakan keberadaan badut jalanan sering dijumpai di area Pasar Tangga Arung Square, SPBU Pesut hingga pertamanan.
“Keberadaan pengemis ini tidak bisa dikatakan marak, tapi kerap ditemui di beberapa lokasi. Bahkan ada pula yang berpindah-pindah,” ujar Sunarko, Selasa (17/3/2026).
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan uang kepada badut jalanan. Imbauan ini bertujuan agar keberadaan para pengemis berkostum badut di Tenggarong berkurang, mengingat motivasi mereka mengemis didorong mudahnya menghasilkan uang secara instan.
“Salah satu cara untuk mengurangi fenomena ini adalah dengan tidak memberikan uang. Setelah itu mereka akan capek sendiri dan berujung berhenti melakukan aktivitas tersebut,” terangnya.
Dinsos Kukar juga akan berkoordinasi dengan Satpol-PP untuk melakukan penanganan terhadap para badut jalanan di Tenggarong.
Sunarko menyebut penanganan yang dilakukan Satpol-PP Kukar akan melakukan penindakan dan penertiban, sementara Dinsos berperan untuk memberikan pembinaan kepada para pengemis agar tidak mengulangi aktivitas serupa di masa mendatang.
“Kasus ini tidak bisa ditangani satu OPD saja, tapi harus saling berkolaborasi agar penanganannya dapat berjalan maksimal,” tandasnya.
(Sf/Lo)
Cari disini...
Seputar Kaltim

Ilustrasi badut jalanan (Dok: istimewa)
Tenggarong - Keberadaan pengemis berkostum badut tengah berkeliaran di sejumlah titik di Tenggarong, mulai dari tepi jalan hingga persimpangan lampu merah untuk mendapatkan uang dari pengguna jalan.
Kondisi ini tentu menjadi perhatian pemerintah daerah karena aktivitas tersebut dapat mengganggu ketertiban umum, terutama jika dilakukan dengan cara meminta-minta secara paksa kepada pengguna jalan.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial dan Warga Negara Migran Korban Kekerasan Dinsos Kukar, Sunarko mengatakan keberadaan badut jalanan sering dijumpai di area Pasar Tangga Arung Square, SPBU Pesut hingga pertamanan.
“Keberadaan pengemis ini tidak bisa dikatakan marak, tapi kerap ditemui di beberapa lokasi. Bahkan ada pula yang berpindah-pindah,” ujar Sunarko, Selasa (17/3/2026).
Ia mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan uang kepada badut jalanan. Imbauan ini bertujuan agar keberadaan para pengemis berkostum badut di Tenggarong berkurang, mengingat motivasi mereka mengemis didorong mudahnya menghasilkan uang secara instan.
“Salah satu cara untuk mengurangi fenomena ini adalah dengan tidak memberikan uang. Setelah itu mereka akan capek sendiri dan berujung berhenti melakukan aktivitas tersebut,” terangnya.
Dinsos Kukar juga akan berkoordinasi dengan Satpol-PP untuk melakukan penanganan terhadap para badut jalanan di Tenggarong.
Sunarko menyebut penanganan yang dilakukan Satpol-PP Kukar akan melakukan penindakan dan penertiban, sementara Dinsos berperan untuk memberikan pembinaan kepada para pengemis agar tidak mengulangi aktivitas serupa di masa mendatang.
“Kasus ini tidak bisa ditangani satu OPD saja, tapi harus saling berkolaborasi agar penanganannya dapat berjalan maksimal,” tandasnya.
(Sf/Lo)